Thursday, 11 April 2019

Belajar Merapikan dan Menata Kembali Mainan, Belajar Merapikan dan Menata Hidup



B   :
"Ayo Ka, dah jam sembilan, kita rapikan dulu mainannya sebelum bobo."

Kk :
"Bunda aja, Kak Ata capek."

B   :
"Ok, kita cepet-cepetan masukin mainannya ke kardus. Juaranya yang selesai duluan dan dapat hadiah tiket main air sepuasnya (ini sih triknya bunda aja, padahal main airnya cuma di kamar mandi)."

Kk :
"Hah, aha... yeayyy... Kak Ata yang menang... Kak Ata yang menang...."

B :
"Ok, kita buktikan... Bunda yg sini, Kak Ata yang sana ya...."

Dialog itu akhirnya happy ending. Semua mainan sudah tertata rapi di tempatnya. Selanjutnya, bunda wajib memenuhi janji untuk memberikan tiket main air sepuasnya. 

Ya, begitulah memang Nak... Hidup itu tak luput dari lelah dan capek. Kau yang tugasnya masih bermain-main saja tak luput dari lelah. Apalagi jika kau nanti sudah memiliki tanggung jawab seperti belajar di jenjang sekolah lebih tinggi dan akan semakin bertambah tanggung jawabmu seiring bertambahnya usia perkembanganmu.

Tapi kau tak boleh kalah hanya karena lelah, Nak!

Cari hal menarik yang kau suka sebagai pemantik semangatmu, sebagai tujuan dan pencapaianmu. Seperti saat dirimu capek ketika akan merapikan mainanmu kembali dan bunda menawarkan sesuatu yang menjadi kesenanganmu. Dengan cepat semangatmu menyambut dan lelahmu sirna. Seolah lupa dengan rasa lelahmu, kau susun mainanmu itu dengan telaten satu persatu hingga rapi ke tempat semula. Dan, kau berhasil, Nak! Lalu kau bertepuk tangan untuk dirimu sendiri dan merayakan keberhasilanmu. Dari sini rasa percaya dirimu meningkat setengah hingga satu level. 

Bunda akan terus membantu mengingatkanmu untuk merapikan kembali mainanmu setelah kau selesai memainkannya hingga kau paham arti tanggung jawab dan disiplin. Bahkan, hingga kau paham apa makna 'menata' dan 'merapikan' itu sendiri. Karena kelak dalam perjalanan hidup, kita akan sangat akrab dengan dua kata itu, Nak. Saking akrabnya hingga membuat kita kadang bosan dan membiarkan semuanya berantakan. Maka kau harus punya 'seni' Nak, agar 'menata' dan 'merapikan' itu menyenangkan dan akhirnya menjadi kebutuhanmu yang melekat pada perjalanan hidupmu. 

Birobuli Utara, 11 April 2019.

Saturday, 6 April 2019

Jalan Kebaikan




Helping Others is the way we help ourselves. (Oprah Winfrey)

Kutipan itu seolah memutar rekaman ingatanku pada belasan tahun silam saat masih duduk dibangku kuliah. Kala itu aku sedang dirundung rasa penat tingkat dewa yang benar-benar membuatku kehilangan motivasi. Dan, hampir saja absen dari perkuliahan pukul 7 pagi ini di Salemba. 

Aku menangis di sujud subuhku pagi itu, sejadi-jadinya, berteriak sekencang-kencangnya dalam hati sambil ku remas sajadah tempatku bersujud. Lama... 
Kubiarkan diriku larut dalam katarsis ini.
Hingga aku dikagetkan oleh suara ketukan di pintu kamarku. Aku bergegas bangkit dari sujudku dan menyeka air mataku dengan kain mukena yang menutupi punggung tanganku. 

Ibu Kantin. Begitu aku memanggilnya, ibu yang berjualan di kantin asrama yang menjadi langgananku dan kami memang dekat karena biasa saling curhat. Pagi ini, dia mendatangi kamarku dengan muka sembab bekas menangis. Dia menceritakan permasalahan yang menimpanya semalam. 

Lalu, apa yang ku lakukan sementara aku juga sedang terpuruk dengan bebanku sendiri? 

Aku menguatkan diriku untuk kemudian menguatkannya dan menawarkan bantuan semampuku. Ku hibur dia dengan kalimat-Nya dalam Q.S At Taubah ayat 40, "La Tahzan, Innallaha Ma'ana" yang artinya jangan bersedih, sesungguhnya Alloh bersama kita.

Lalu, apa yang kurasakan? Seperti sedang self-motivation. 

Aku yang terpuruk tetiba kembali bersemangat dan bangkit mengurai penat. Dan, tak lama setelah Ibu Kantin berpamitan dari kamarku, aku bergegas keluar dari asrama yang berada di kampus Depok untuk mengejar kelas di Salemba. 

Alloh memiliki cara-Nya sendiri untuk memberikan pertolongan pada hamba-Nya. Maka, agar kita dekat dengan pertolongan-Nya, hadirkan selalu Alloh dalam setiap hela napas kita dan ringankan diri kita untuk membantu sesama, membantu saudara kita, memudahkan urusannya, meringankan bebannya. Sekecil atau sesederhana apapun bentuk bantuan yang kita berikan menjadi sangat berharga bagi orang lain yang membutuhkan dan bahkan dapat menjadi inspirasi baginya untuk melakukan kebaikan minimal serupa. 

Bahkan sesederhana menyingkirkan batu di jalan, membantu orang lain menyeberang jalan, atau memberikan kursi kita untuk ibu hamil atau yang membutuhkan saat naik kendaraan umum. 
Insyaalloh, kita semakin dekat dengan pertolongan-Nya. 

"Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim)


Birobuli Utara, 6 April 2019.

Jangan Bimbang




Jangan #bimbang, agar kita #tenang.
Jangan bimbang, agar kita #senang.
Jangan bimbang, agar kita #menang.

Bimbang akan membuat hidup kita tak jua melangkah dan keputusan tak jua ditentukan. Karena bimbang adalah ragu. 

Kehadirannya akan membuat hati kita resah tak menentu, karena bimbang adalah gundah dan galau.

Kehadirannya akan membuat kita takut menghadapi kenyataan hidup yang mungkin tak semanis dan tak seindah yang kita harapkan, karena bimbang adalah khawatir.

Dan, kehadirannya merenggut ketenangan dalam hati, karena bimbang adalah wujud ketidakyakinan pada sebaik-baik pengatur jalan hidup kita.

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal". (QS At-Taubah:51)

Apapun yang menimpa kita, sejatinya tak lepas dari ketetapan-Nya. 
Lajur #benang kehidupan kita telah direnda apik oleh-Nya. Tugas kita, berenang-#renang menyusuri setiap lajur kehidupan kita dengan amal sepenuh keyakinan agar jiwa kita menang. Karena jiwa pemenang adalah jiwa yang tenang. Dan, jiwa yang tenang adalah jiwa yang ridha dan ikhlas terhadap ketetapan-Nya.

Kembalilah padanya. Bacalah Al Quran sebagai penawar kebimbangan kita. Bacalah setiap hari agar rahmat dan ridho-Nya meliputi perjalanan waktu kita dan memantapkan langkah kita.


Birobuli Utara, 28 Maret 2019.

AYUNKAN PENAMU, AJAKLAH DIA MENARI BERSAMA SERUAN-NYA.



Saat kau saksikan indahnya alam cipta-Nya, janganlah lupa ucap syukur dan memuji-Nya.
Lalu ajaklah jua penamu memuji-Nya dan menari bersama rasa syukur itu.

Saat kau dirundung duka atau tertimpa musibah, janganlah lupa untuk bersabar dalam takdir-Nya dan ucap Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Lalu ajaklah jua penamu mengurai sabarmu dalam takdir-Nya.

Saat hatimu penuh kebahagiaan dalam dekapan nikmat-Nya, janganlah lupa bersyukur dan ucap alhamdulillah.
Lalu ajaklah jua penamu mengurai bahagiamu terhadap curahan nikmat-Nya.

Saat kau berusaha bangkit dari kegagalan bertubi, janganlah lupa sertakan Dia dalam setiap usahamu. Perbanyaklah sujud disepertiga malam suguhan-Nya sebagai pereda dadamu yang bergemuruh ragu.
Lalu ajaklah jua penamu mengurai pedihnya gagalmu dan merunut perjuangan bangkitmu merenda asa bersama-Nya.

Dan, Alloh janjikan pahala bagi hamba-Nya yang senantiasa mengingat-Nya dalam kondisi apapun.
Lalu torehan penamu jua akan menjadi aset pahala bagimu ketika dengannya menjadi jalan orang lain bertaubat dan kembali mengingat Alloh.
Penamu turut menyeru umat pada jalan Tuhannya.
Penamu turut menjadi pengingat.
Penamu turut mengerja dakwah.

Dan, aset pahalamu itu adalah shodaqoh jariyahmu. Pahalanya mengalir meski ragamu terkulai antara utara dan selatan dan wajahmu dihadapkan ke arah kiblat.

Subhanalloh...

***

Dan aku, menginginkannya juga. Pahala yang telah Alloh janjikan itu. Sebagaimana dalam hadist riwayat Muslim disebutkan bahwa, jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.

Ya.
Aku, sang fakir.
Aku, hamba Alloh yang dosanya bagai pepasir.
Hanya ingin merangkai tanda cintaku pada-Nya dengan sekuntum amal yang ku kerja.
Berharap Dia membalas cintaku dengan ampunan dosa, rahmat, dan pahala.

Semoga Alloh senantiasa menjaga semangat ini untuk belajar mengerja amal, merenda pahala dan turut menyeru umat kembali pada jalan Alloh.

Dan, kan ku ajak penaku menari bersama seruan-Nya agar sekali menyeru, pesannya terdengar hingga lintas generasi. Pesannya meng-abadi.

Dalam rangka belajar bertutur, bercerita, sekaligus menyeru kebaikan dalam tulisan.

Insyaalloh.

Birobuli Utara, 22 Maret 2019.

Tuesday, 19 March 2019

Hi Diary Part XXX


Sembilan belas Maret.
Genap sebulan aku berada disini. Merajut asa dalam tatanan kata. Berpikir seribu cara mengawali, melanjutkan, dan mengakhiri. Sempat berjam-jam tak jua hadir pembukanya hingga hampir saja rajutan asa-ku pudar. Tak hanya atas alasan itu tetapi juga kondisi dan keadaan. Aku hampir menyerah. 

Aku tak bisa egois. 

Ibu dengan dua balita tanpa asisten yang pada saat itu kondisi memaksanya menjadi single fighter atas nama tugas negara. Menunggu situasi mendukung adalah modalku. Disaat anak-anakku tidur, disaat itu pula aku memulai perjuanganku. Menghimpun kata, memilihnya menjadi diksi yang tepat, menghidupkan alurnya hingga memberikan taburan makna syarat manfaat. 

Aku tak bisa egois. 

Atas nama konsistensi yang akhirnya ternodai. Aku mencoba terus bertahan atas alasan 'apapun yang sudah dimulai, lanjutkan hingga akhir meski itu berat'. 

Genap sebulan. 

Bergabung dalam satu kelas online kepenulisan tak sekonyong-konyong menjadi jagoan dan mahir. Tentunya masih diperlukan kerja keras dan konsistensi dalam berlatih. Lalu, biarkan ia mecari celahnya untuk mengalir. 

Sembilan belas maret. 

Disini aku menemukan canduku yang bersamanya aku bahagia. 
Disini pula aku temukan lingkaran dengan feekwensi yang sama. Saling menyemangati hingga melecut agar terus konsisten dalam menulis sesuai rule yang telah disepakati.

Aku ketagihan.

Berharap tak cepat-cepat berakhir di kelas ini karena aku masih membutuhkannya untuk membangun ruh kepenulisanku, menguatkanku, dan melecutku melahirkan tulisan-tulisan yang layak dinikmati.

Birobuli Utara, 19 Maret 2019.

Monday, 18 March 2019

Hi Diary Part XXIX


Senin...
Kesibukan pagi yang kembali menyapa setelah libur akhir pekan. 
Kembali memasak pagi-pagi dan segera menyiapkan kakak dan ayah yang akan berangkat beraktivitas.

Senin...
Semalam sudah kurencanakan dengan apik tentang rencanaku puasa hari ini. Mungkin ini akan menjadi puasa pertamaku sepulang suami dinas luar kota. Namun pagi-pagi aku berubah pikiran. Memang aku tidak sahur. Sebetulnya bukan halangan bagiku untuk urung berpuasa. Alasanku adalah suamiku. 
Kurang lebih dua hingga tiga minggu stay di rumah dan setelahnya akan kembali berdinas lagi ke daerah, ke beberapa kabupaten di Sulawesi Tengah. 

Ya. Aku rubah rencanaku untuk tidak berpuasa dulu selama menemani suami di rumah dan baru kembali berpuasa saat nanti ia sudah berangkat bertugas. Honestly aku sudah rindu untuk puasa karena dengan puasa hati jadi lebih tenang dan selalu ingat Alloh. Subhanalloh... 

Tidak masalah. Aku utamakan dulu yang wajib yaitu berbakti pada suami sedangkan puasa ini hukumnya sunnah. Semoga ketika suami ridho, Alloh pun ridho...

Begitulah sejatinya menjadi istri. Dia harus mampu melihat hukum dari perkara yang ada dihadapannya, mana yang wajib dan mana yang sunnah. Tentu saja perkara wajib harus menjadi prioritas utama. Mengejar ridho suami setara dengan mengejar ridho Alloh. Dalam hadist juga sangat jelas disebutkan mengenai hal ini.  “Tidak halal bagi seorang istri untuk berpuasa (sunnah), sedangkan suaminya ada, kecuali dengan seizinnya. Dan tidak halal memberi izin (kepada orang lain untuk masuk) ke rumahnya kecuali dengan seizin suaminya.” (HR. Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026).

Rasulullah pernah bersabda: لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ المَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا “Seandainya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, maka aku akan menyuruh seorang wanita sujud kepada suaminya.” (Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi, di shahihkan oleh Al-Albani dalam Irwaa’ul Ghalil (VII/54).


Subhanalloh...

Birobuli Utara, 18 Maret 2019.

Sunday, 17 March 2019

Hi Diary Part XXVIII


Ahad Semangad

Berpetualang!
Kakak suka sekali kata itu. Kami hari ini berpetualang di Ramedia, toko buku terlengkap se-Palu. Kami mencari buku bacaan. Lebih tepatnya 'aku'. Aku butuh sekali buku bacaan. Semenjak hijrah ke Palu, aku tak ada buku bacaan. Semua buku yang rak-nya hampir menutupi dinding kamar, kami tinggal di rumah kami di Tangerang. Hanya beberapa saja yang kami bawa, itu pula kebanyakan bacaan suamiku. Punyaku, tak sempat aku pack. Sekarang aku sedang rindu membaca. Aku pikir karena aku harus menulis, maka aku harus membaca. 

Jika mau menulis, membaca adalah umpannya. Dengan membaca akan memperkaya sudut pandang, wawasan, kosakata serta inspirasiku. 

Tak seperti hari sebelumnya. Hari ini matahari bersinar cerah secerah ahad-ku yang penuh semangat. 
Ya. Semangat memperkaya literasi. 

Petualangan kami di toko buku ini diwarnai oleh drama kakak yang lari-larian di lorong toko, main petak umpet dan ci-luk-ba di sela-sela rak buku, teriak-teriak, sempat memanjat rak buku juga (untung gak ambruk), dan terakhir membuang beberapa buku. Duhduhduh... Nak...
Untungnya aku dan suamiku sudah menggenggam buku pilihan masing-masing. Kami memutuskan segera menuju kasir dan pulang. 

Sepanjang perjalanan pulang aku berpikir, apa yang terjadi pada kakak, anak tiga tahunan yang sudah memiliki adek usia satu tahun, ini. Kemungkinan besar pertama kakak bosan dan kemungkinan besar kedua ia mengantuk. Ya... ya... perilaku kakak adalah tantangan tersendiri bagi kami sebagai orang tua. Pelan-pelan diluruskan. Doa kami senantiasa mengalir untukmu Kakak... 

Birobuli Utara, 17 Maret 2019.

Saturday, 16 March 2019

Hi Diary Part XXVII

Rupa-rupa


Hujan mengguyur sejak malam tadi hingga matahari tak menampakkan sinarnya di bumi mutiara katulistiwa hari ini. Deras. Gemericiknya bergemuruh di atap-atap kami yang terbuat dari seng. Dan, mereda ketika hari mulai sore. 

Iya, kami ikhlaskan beberapa agenda hari ini hingga hujan benar- benar reda. 

Menunggu reda, kami gunakan waktu kami untuk membereskan rumah, memasak lengkap dan bermain bersama anak-anak. Serua-seruan saja di rumah. Bermain lego dan berlomba membuat bangunan impian masing-masing hingga mengantarkan mereka tidur siang. 

Saatnya kami berdua saja, we time. Aku dan suami. Sembari makan siang dan menonton acara News lintas channel, ngobrol sana-sini, termasuk memperbincangkan isu OTT (Operasi Tangkap Tangan) terkini oleh KPK. Sabtu kita seruuuu. Hingga saatnya adek bangun dan menghampiri kami dengan senyum manisnya... 
Siapa yang pertama dia hampiri dan peluk? Ayah!
Padahal bundanya duduk di dekat pintu kamar, tapi dilewati saja. Huhuhu... 
Ya, mungkin karena lama tidak sama ayahnya jadilah kangen. 
Sembari menunggu waktu asyar, kami bermain di teras rumah, menikmati segarnya udara yang diguyur gerimis. Tak lama, menyusul kakak bangun. Segera ku motivasi untuk makan siang dan ku suapi hingga azan asyar berkumandang. 

Selepas sholat, kami bersiap untuk pergi. Tempat pertama yang kami tuju adalah gerai Bananabim untuk membeli sejumlah banana nugget untuk kami bagikan ke tetangga kanan-kiri sebagai bentuk silaturahim kami pada tetangga. Lalu tempat kedua, kami menuju ke swalayan untuk belanja mingguan.

Sekitar pukul 17.15an, saat kami selesai berbelanja dan keluar dari swalayan, kami melihat banyak sekali pengamanan polisi. Ternyata ada aksi mahasiswa tentang isu kemanusiaan di Selandia Baru (New Zealand). Subhanalloh... 
Mungkin ada yang mencibir dan melihat sebelah mata bahkan acuh terhadap apa yang mereka lakukan. Tetapi sejatinya, mereka, para mahasiswa ini sedang menyuarakan kepedulian mereka dan mengajak khalayak juga peduli terhadap isu kemanusiaan ini. Juga mendoakan keselamatan saudara kita di sana, di bumi Alloh yang lain. 

Al Fatihah... 

Birobuli Utara, 16 Maret 2019.

Friday, 15 March 2019

Hi Diary Part XXVI


Anak Anakmu 
(Kahlil Gibran)

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Aku penyuka puisi. Termasuk puisi yang satu ini. Secara sadar, prinsip mendidik dan mengasuh anak-anak sedikit banyak terpengaruh oleh bait puisi ini. Aku sebagai orang tua tersadarkan bahwa mereka, anak-anakku, memiliki dirinya sendiri. Mereka memang aku lahirkan, tetapi mereka adalah mereka. Bukan aku, bukan juga dia, suamiku. Merekalah yang memimpin diri mereka sendiri. Membawa, menyetir, dan mengarahkan dirinya sendiri ke tujuan hidup yang mereka tetapkan sendiri. 

Dan, tugas orang tua memberikan pengasuhan dan pendidikan serta pengarahan sebagai bekal mereka memimpin dirinya sendiri. Mengenalkan mereka pada penciptanya yang membuat kita ada di dunia ini, mengatur segala urusan kita, juga tempat kita kembali. Mengenalkan mereka pada agama sebagai rambu-rambu dalam menjalani hari-hari kehidupan mereka. Mengenalkan mereka pada dunia sebagai tempat mereka menjalani hidup.

Seperti hari ini. Ku biarkan anak-anak bermain asik di belakang. Berdua saja. Bermain dengan imajinasi mereka, kakak dan adik. Tertawa, bernyanyi, berteriak, sesekali ngomong sendiri-sendiri tak nyambung meski berdua. Aku, duduk di bangku pendek yang kami sebut dingklik. Ku letakkan bangku ini di sudut dekat mesin cuci. Disini saja. Aku duduk mengawasi dan menemani mereka bersama target tilawahku yang belum rampung hari ini.

Ini adalah proses panjang. Iringi dengan doa, tawakkal, dan kesabaran agar ridho-Nya senantiasa menyertai langkah mereka. Lalu, ikhlaskan mereka mengepakkan sayapnya kemanapun, menggapai mimpi mereka.
Semoga keberkahan mewarnai hari-hari mereka hingga penghujungnya. 

Birobuli Utara, 16 Maret 2019.

Hi Diary Part XXV


Kudekap Rinduku

Empat belas maret.
Meski mendung menggelayut dan tetes gerimis menyusul,
tak lantas menghalangi angin mengantarkannya padaku,
hingga dekapan. 

Hari ini adalah hari yang kami nantikan. Suamiku pulang tugas dari Tolitoli. Rencananya siang ini, sekitar pukul 11.30 WITA sampai rumah. 

Sudah sounding ke kakak tentang kepulangan ayahnya. Rasa tak sabar mewarnai ekspresinya setiap kali kami berbincang tentang rencana kepulangan ayahnya. Sampai-sampai kita merencanakan berbagai hal meski pada akhirnya tak satupun yang ter-realisasi. Namanya emak rempong, rencana banyak yang ingin dilakukan dan dikerjakan tapi apalah daya. Hanya memasak menu siang lengkap dan segelas teh hangat. Biasa. Tanpa surprise istimewa.

Hari gerimis. Aku tunda menjemput kakak lebih awal hingga memungkinkan membawa adek menggunakan motor roda dua. Dua puluh menit. Alhamdulillah gerimis sudah reda. Ku buka pintu depan dan bersiap berangkat. Eh, ternyata suamiku sudah ada di balik pintu gerbang bersama koper hitam kecil yang setia menemani perjalanan dinasnya. Dengan salam sumringah, suamiku malah yang menyambut kami terlebih dahulu sementara kami yang baru saja membuka pintu terkaget melihatnya tiba-tiba sudah sampai saja. Oh, bahagianya... 
Segera kubukakan pintu gerbang untuknya dan mencium tangannya. Karena kakak belum ku jemput, akhirnya kami memutuskan untuk menjemput kakak bersama-sama. 

Bagaimana reaksi kakak saat melihat ayahnya? 

Setiba di kelas kakak, ustadzahnya memanggilnya untuk kami. Dan, kakak masih terdiam di tempatnya sembari menatap lekat ayahnya. Tiba-tiba dia lari menuju ayahnya dengan ekspresi kaget. Suamiku segera menyambut dan menggendongnya. Senang melihat mereka... 

Sepanjang jalan menuju tempat parkir kendaraan kami, kakak tak hentinya memanggil -ayah- sembari senyum-senyum menatap dan memegangi wajahnya. Sempat ia tanyakan pada ayahnya, mengapa pulangnya lama. Suamiku menjawabnya dengan alasan kantornya jauh. 

Sesampai di rumah, saat ngobrol sambil makan siang, kakak bercerita tentang kegiatannya di sekolah dan perasaannya, termasuk saat kaget melihat ada ayah di depannya. 

Sungguh, jika kita menantikan hari bahagia itu datang seutuhnya, ikuti prosesnya dan bersabarlah... 

Birobuli Utara, 15 Maret 2019.

Wednesday, 13 March 2019

Hi Diary Part XXIV

Life Must Go On

Sejak kejadian itu, tak ada lagi bangunan pencakar yang beraktifitas disini. Ada yang ambrol, anjlok, condong, bahkan roboh. Sudah lebih seratus hari. Sebagiannya ada yang mulai dirobohkan dan direncanakan dibangun baru dengan fungsi yang sama. 


Ku baca berita tentang rencana pembangunan kembali sebuah pusat perbelanjaan pertama di Kota Palu, Mall Tatura, yang sempat ditutup permanent usai dihantam gempa lalu. Iya, karena letaknya di pusat kota, rusaknya mall ini seolah menghadirkan nuansa trauma. Aku salah satunya. Setiap kali aku melewati bangunan itu, seolah dihantui rasa takut memasuki bangunan pencakar langit di kota ini. Mengingat secara geografis, Palu dilalui oleh patahan aktif Palu Koro yang sangat rawan terjadi gempa ulang. 

Hari ini saja, 13 Maret 2019, gempa terjadi lagi sekitar pukul 10.00 WITA dengan kekuatan 5.0 SR dan berpusat di Donggala. Info ini kudapat dari BMKG secara pesan pendek. Meski aku tidak merasakannya (mungkin sedang berkendara) tapi hal itu cukup membuatku takut memasuki bangunan yang tinggi. Benar, aku belum bisa mengusirnya. Bahkan setiap kali berbelanja dan harus masuk swalayan, mulut ini tak hentinya merapal doa dan sisanya pasrah. 

Kembali ke rencana pembangunan Mall Tatura, justru mall ini akan dibangun lebih tinggi satu lantai ke atas dan dua lantai basement. Infonya, pembangunan gedung ini melibatkan serangkaian uji kelayakan mengingat potensi gempa di daerah ini. Maka, info yang saya dapat, serangkaian uji itu membuat tim berani membangun kembali gedung yang bahkan lebih tinggi dan lebih dalam ke bawah.

Life must go on...

Gunakan masa lalu untuk belajar dan kita akan lebih kuat dari sebelumnya. 
Karena hidup harus terus berjalan.

Belajar dari optimisme kebangkitan roda perekonomian di kota ini usai dihantam gempa. Meski berpotensi terjadi lagi berulang dan berulang lagi kejadian lalu, tetapi tidak menyurutkan langkah pembangunan. Bahkan, karena belajar dari pembangunan sebelumnya mereka berani membangun gedung yang lebih tinggi dan yakin memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap gempa. 


Birobuli Utara, 13 Maret 2019.

Hi Diary Part XXII


Estafet kehidupan
...
Kemarin adalah masa laluku, esok adalah masa depanku, dan sekarang adalah masaku. 

kemarin-esok-sekarang tak sekedar keterangan waktu. Ia adalah hakikat waktu. Dengannya tergambar jelas bagaimana waktu bergulir hingga semuanya menjadi satu kata 'kemarin'. 

Waktu... waktu... waktu...
Alat luar biasa yang Alloh ciptakan untuk menghitung tenggat semesta raya. Bahwa semua ciptaan-Nya memiliki waktunya. 
Ada, hingga akhirnya ditiadakan. 
Hadir, hingga akhirnya dipulangkan.
Lahir, hingga akhirnya dimatikan. 

Waktu adalah tenggat kehidupan yang bergulir menuju 'akhirnya'. 
Kehidupan adalah ada, hadir, dan lahir.
Tenggatnya adalah keberfungsiannya, kebermanfaatannya, dan tanggung jawab yang diembannya. 
...

Kejadian itu masih sangat lekat dalam ingatan kami. Jika tak pandai kami berpasrah, mungkin kami akan trauma dan pergi jauh dari tempat ini.

Obrolan soreku bersama Tante Guru sembari menemani anak-anak bermain di halaman rumah. Biasanya kami hanya sekedar menyapa, tapi sore ini kami mengobrol panjang lebar. Tentang berbagai hal tak berhubungan. Tentang kejadian lalu yang membuat kami tersungkur menghamba dan mengagungkan-Nya. Tentang kepasrahan diri yang akhirnya menguatkan kami untuk bertahan dan melanjutkan hidup disini. Tentang kehidupan itu sendiri sebagai sebuah kesempatan untuk beribadah kepada-Nya. Dan, tentang perbaikan diri sebagai wujud rasa syukur. 

Subhanalloh, Walhamdulillah...

Mendapatkan tetangga yang bisa saling mengingatkan akan kebesaran-Nya adalah kebahagiaan yang patut disyukuri. Tentang pilar kebahagiaan seorang muslim telah dijelaskan dalam hadist riwayat Ibnu Hibban, Nabi Saw bersabda;

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ.

“Ada empat perkara termasuk kebahagiaan; istri yang shalihah, tempat tinggal yang lapang, teman atau tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman.”

Dan, semoga aku beserta keluargaku juga bisa menjadi tetangga yang baik bagi kanan-kiri-depan-belakang rumah kami. 

Birobuli Utara, 11 Maret 2019.

Hi Diary Part XXIII


Rindu Ayah

Wajah polos itu dengan semangatnya menggenggam secarik kertas yang entah dia temukan darimana. Sembari menarik-narik bajuku dia bertanya tentang wajah yang ada di kerrtas itu. Ternyata kertas itu adalah fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik ayah. Iya, dia bertanya tentang siapa wajah di kertas itu. Ku jawab bahwa itu foto ayah. Tiba-tiba merah menghiasi matanya sembari berkata bahwa dia akan mengantarkannya pada ayah dan suaranya bergetar. Anak tiga tahunan itu sedang mencoba menahan tangis. Wajah polosnya tak bisa berbohong, ia rindu. 

Ku coba menenangkannya...

Selepas sholat isya', ku coba menghubungi suamiku melalui video call. Ku berikan mobile phone ini pada kakak agar dia lega mengobrol sendiri dengan ayah. Awalnya seru tapi di akhir kakak mulai terlihat sedih, matanya kembali memerah dan dia berusaha menyembunyikannya dengan menutup matanya dan ber-akting jadi bajak laut sembari lari sana-sini. Jadilah obrolan mereka berhenti disini. 

Saat adek sudah tidur, kulihat kakak belum tidur. Tampak seperti termenung sambil memeluk bantal kesayangannya. Ku peluk dia sambil berbisik, "Kakak, ini ayah...". Spontan dia kaget dan mengarahkan mukanya padaku. "Iya ini ayah... bunda jadi ayah", tegasku sambil tersenyum. "Iiiih, gak boleh... bunda gak boleh jadi ayah, bunda kan cantik", jawabnya sambil menunjukkan ekspresi tidak suka. 
"Kakak mau ayah beneran... ", tambahnya. "Ok, kalau begitu sekarang kakak bobo. Dua hari lagi kita jemput ayah ya... insyaalloh ayah pulang". 

Baru kali ini setelah suamiku berangkat tugas ke Tolitoli, sudah hampir satu bulan, kakak seperti ini. Mungkin, dada mungilnya tak cukup lagi untuk menyimpan rindu. Dan, aku belajar darinya tentang bagaimana mengekspresikan rindu. 

Birobuli Utara, 12 Maret 2019.

Sunday, 10 March 2019

Hi Diary Part XXI

Dia Candu-ku

Berat!
Berat benar saat aku harus mulai.
Bingung bagaimana mengawalinya, mempertimbangkan terlalu masak, dan akhirnya hanya berputar dalam lintasan logika hingga raib ditelan alpa. Berkali-kali mencari cara untuk menghempaskan rasa itu. 

Berhasil memulainya tetapi gagal melanjutkan, dan sekedar resolusi tak terperi. 

Padahal saat aku memaksakan diri memulai, lalu melanjutkan, hingga menyelesaikan, ada rasa puas, plong, dan bahagia menyeruak. 
Sampai-sampai berulang kali kurunut awal hingga akhirnya.
Kesekian,
sadar aku menikmatinya. 

Selayaknya berjuang memaksakan diri, membuat lebih banyak awalan untuk akhir yang meruah dan rasa sepenuh nikmat.
Ini satu cara menjemput bahagia seutuhnya. 

Ya,
Menulis. Kini ia telah kembali menjadi temanku, sahabatku. Hibernasi kurang lebih tiga tahunan. Tanpa satu tulisan yang aku buat, pun sekedar diary. Waktu itu mungkin aku cukup disibukkan dengan pekerjaan dan mengurus keluarga. Juga, tidak ada circle yang membuatku terpacu untuk menulis. Padahal, aku menikmati ketika aku menulis. Menikmati prosesnya, melahirkan kata menjadi kalimat apik kemudian menyusunnya menjadi tulisan entah itu penuh pesan atau sekedar buang beban. 

Terbiasa sejak kelas lima sekolah dasar, aku menumpahkan isi hati di sebuah buku yang aku design sendiri dari kertas HVS dan kardus bekas. Ia, kemudian aku beri nama 'Buku Catatanku' dan masih tersimpan apik hingga kini. Jika dirunut kembali, kebanyakan tulisan dalam 'Buku Catatanku' berbentuk sajak-sajak. Aku ingat, itu karena aku ingin menyamarkan cerita yang sebenarnya sehingga hanya tersirat saja dalam kalimat yang terbatas. Lebih tepatnya takut ketahuan jika nantinya ada yang membaca. 

Lambat laun tulisanku bermetamorfosa menjadi tulisan yang lebih deskriptif. Baru saat aku berada di bangku kuliah tahun kelima (program profesi). Ini juga hasil belajar jujur pada diri sendiri karena aku rasa curhat dalam sajak kurang puas dan kurang plong

Saat kuliah dulu, kesenangan menulis diary ini mengantarkanku pada kegiatan jurnalistik kampus meski sebenarnya aku minder berat dengan teman-teman lain dengan gaya tulisan yang lugas. 

Kini, aku cuti bekerja. Lama...
Sejak Agustus tahun lalu. Aku benar-benar full pada urusan domestik. Tak jarang penat dan lelah ku rasakan. Juga, sering perasaan tak berharga dan demotivasi akan masa depan menghampiri. Aku lupa dengan aktivitas menulis yang pernah menemani dan menjadi sahabatku. Qadarulloh, aku membaca postingan akun @nulisyuk di Instagram yang membuka kelas menulis bertema Diary. Ditengah penat-lelah-demotivasi yang kurasakan, seolah Alloh memberiku jalan keluar agar perasaan negatif berubah menjadi positif dengan menuangkannya dalam tulisan. 

Finally, 
Ku temukan bahagia dalam menulis
Ia candu-ku...

Birobuli Utara, 10 Maret 2019.

Saturday, 9 March 2019

Hi Diary Part XX


Agak Mati Gaya, so? 

Suntuk, lesu, dan kulihat berulang kali menguap sembari tiduran di depan layar pintar 22 inch yang menampilkan channel kartun. Aku, berada di ruangan lain di belakang, menjemur baju. Meski di ruangan belakang, pandanganku bisa menyapu hingga ke ruang mereka. Maklum, rumah rantau kami mungil. 

Sejak aku harus cuti dan menjalankan peranku full di rumah tanpa ART, permainan edukasi dan layar pintar dengan berbagai koleksi video edukasi adalah partnerku. 

Long weekend ini, jujur aku agak mati gaya. Mau ngapain lagi dan main apa lagi. Terlihat di raut mereka ada rasa bosan. Terucaplah dari mulut kakak, mau jalan-jalan katanya. Aku paham sekali. Libur dari hari Kamis hingga Ahad dan masuk kembali hari Senin adalah rentang waktu yang cukup panjang bagi anak-anak untuk menghabiskan waktu di rumah. Membosankan pastinya. Dari main air, lego, masak-masakan, mobil-mobilan, main bola, menggambar, membaca kisah nabi, hafalan, belajar huruf hijaiyah, hingga menonton. Semua sudah. Saatnya membawa mereka jalan-jalan. Ini biasa kami lakukan bersama suami yang nantinya punya tanggung jawab masing-masing untuk mengawasi anak-anak. Kalau sendiri, dimasa suami dinas luar kota, sebetulnya ragu. Jadilah hanya berputar-putar saja dengan motor roda dua ke tempat keramaian. Bila begini kan under control. Biasa, Vatulemo dan Balai Kota adalah tempat tujuan kami karena tidak jauh dari rumah dan ramai hiburan anak-anak di sana yang bisa kita lihat. Ya, kita lihat saja dulu menunggu ayah pulang nanti baru kita turun bermain. Beruntungnya kakak mengerti. 

Ya. Mati gaya...
Kadang suka begitu bila aku harus bersama anak-anak lama. Kalau kakak sekolah, giliran adek tidur dan aku menyelesaikan pekerjaan rumah. Ada variasi kegiatan bila begini. Disaat kakak libur, aku?

Maka Emak, harus punya referensi permainan edukasi yang banyak. Banyak-banyak update ilmu mendidik dan mengasuh anak. Jadi saatnya diperlukan, ingatan itu akan ter-recall

Birobuli Utara, 9 Maret 2019.

Friday, 8 March 2019

Hi Diary Part XIX

Merayakan Pagi, Menyambut Hari, dan Menjemput Bahagia.

Fri-YAY!
Pagi...
Ku hirup aromamu dari jendela yang baru saja ku buka,
lagi...
dan lagi...
sangat dalam...
sembari terpejam,
serasa merasuk hingga rusuk,
seolah mampu menghimpun sepenuh jiwa-ragaku,
memantik semangatku,
dan hadirkan syukur dan bahagia tiada tara.

Merayakan dan menyambut anak bangun tidur dengan ceria, bahagia dan rasa syukur. Bangun tidur seolah seperti mengawali hidup. Ketika tidur, raga terlihat tenang di kamar dan di atas kasur empuk sedangkan jiwa entah berada dimana dan entah dalam kondisi tenang atau gelisah. Maka sepatutnya ada rasa syukur, bahagia dan sikap ceria ketika Alloh bangunkan kembali dari tidur kita.

Berdoa adalah wujud rasa syukur dan bahagia. Sedangkan ceria dapat diwujudkan dengan bahasa tubuh seperti mata berbinar sembari tersenyum atau bahasa tubuh positif lainnya. Bagaimana melanjutkan itu tergantung pada bagaimana mengawali. Jadi, menurutku jika ingin kelanjutan hari kita bahagia, ceria dan bergelimang nikmat dari Alloh maka wajib mengawalinya dengan kata yang sama.

Yess...

Berharap hal yang sama pada anak juga dalam rangka membangun pribadi mereka menjadi pribadi yang positif. Maka saat mereka bangun tidur, aku akan merayakan dan menyambutnya dengan sapaan salam, senyum bahagia, pelukan dan ciuman yang disertai doa bangun tidur sebagai wujud rasa syukur dan tidak lupa doa yang tertera dalam Al Quran surat Al Qashshash: 110 dan Al Furqan:74.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
(Rabbi habli minash shalihin)
Artinya: “Wahai Rabbku, berilah aku keturanan yang shalih.” Lihat Al Quran surat Al Qashshash: 110.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
(Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama)
Artinya: “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Lihat Al Quran surat Al Furqan:74.

Dan, lihatlah respon mereka, anak-anak dengan wajah polosnya akan merespon energi positif yang sedang berusaha kita bangkitkan. Apa yang aku lihat, mereka meresponnya dengan senyuman dan ekspresi yang juga ceria. Kadang mereka membalasku dengan pelukan erat dengan atau tanpa ciuman sambil menyebutku, Bunda.

Begitu pula untuk pagi ini. Meski sedang handle pekerjaan rumah, aku tinggalkan sementara demi menyambut mereka. Menghabiskan beberapa menit di tempat tidur bersama mereka, yang awalnya masih lemes sampai mereka bangun dan bisa saling bercanda dan bermain bersama. Kalau sudah begini, sembari mereka bermain dan masih di tempat tidur, kubacakan surat-surat pendek hafalan kakak. Aku hanya membacakan saja berulang-ulang tujuannya agar kakak minimal mendengarkan apalagi kalau bisa ikut melafalkannya jadi bisa sambil mengulang hafalannya.

Alhamdulillah...

Birobuli Utata, 8 Maret 2019.

Thursday, 7 March 2019

Hi Diary Part XVIII

Balada Emak Rempong

Kubiarkan mereka bermain sesuka hati. Berdua saja. Tertawa, berteriak, kadang berebut hingga menangis. 
Aku hanya melihatnya dari jauh. Bila tak bertengkar hingga keterlaluan dan membahayakan, aku tak mencampuri keseruan mereka. 

Libur sekolah kali ini seseruan saja di rumah. Sebenarnya aku tak mempersiapkan apapun karena semalam baru sadar bila hari ini libur. Baiklah eksplore saja apa yang ada di rumah. Sedangkan rencanaku beberes rumah lebih detail. 

Bangun tidur, tidak lupa kusambut mereka dengan peluk dan cium yang kusertai dengan doa bangun tidur. 

ALHAMDULILLAAHILLADZII AHYAANAA BA’DA MAA AMAA TANAA WA ILAIHIN NUSYUUR

Artinya: segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati (membangunkan kami dari tidur) dan hanya kepada-Nya kami dikembalikan.

Lalu kutawarkan mereka susu untuk mengisi energi mereka. Sementara itu kuhidupkan channel kartun kesukaan mereka hingga susu mereka habis. Selesainya, ku ajak mereka bermain dibelakang karena kebetulan ada kucing yang masuk rumah. Ku temani mereka sebentar hingga terlihat sudah asyik bermain. Lalu, lagi-lagi jurus 'sembari' harus kugunakan. Kulanjutkan pekerjaanku beberes rumah hingga selesai dan lanjut memandikan mereka berdua sekaligus. Alhamdulillah anak-anak kooperatif sejauh ini. 

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WITA. Belum ada yang santap sarapan. Hanya susu pengganjal lapar kami. Aku putuskan untuk membeli saja masakan rumahan langganan kami di Pusat Oleh-oleh Raja. Kami membeli sayur bening bayam, ikan katombo bakar dan ayam goreng. Lengkap lauk dan sayur. Tinggal bawa pulang dan santap. 

Teringat libur panjang dan tidak ada persediaan cemilan anak, kusempatkan mampir dulu ke Grand Hero, satu dari tiga swalayan cukup lengkap yang tersisa akibat bencana lalu. Jadi, jangan ditanya sepanjang apa antriannya. Swalayan ini tidak begitu besar, hanya satu lantai dengan ukuran tiga kali Alfamart dengan lima atau enam loket kasir. 

Sesampai di rumah, segera aku suapi kakak sambil bermain. Juga adek aku motivasi untuk ikut makan. Mau buka mulut, makanan masuk, diemut, lalu tak lama disembur. Adek... adek... sabar bunda... fyuh. Bunda pengin maksa adek makan tapi takutnya malah muntah seperti yang lalu-lalu... 
Sudah...

Hingga kakak bilang sudah kenyang, kuajak cuci tangan dan kaki lalu tidur siang. 

Alhamdulillah hari ini... 

So, jadi emak harus kreatif membuat kegiatan buat anak. Terutama pas sedang libur sekolah, biar anak juga kreatif mengisi waktu mereka. Bermain sambil belajar. 
Semangat untuk hari selanjutnya! Masih ada Jum'at hingga Ahad. 

Birobuli Utara, 7 Maret 2019.

Wednesday, 6 March 2019

Hi Diary Part XVII


Balada Emak Rempong

Menghitung hari. Tak terasa dua puluh satu hari sudah terlewati. Terus berjuang di hari-hari yang tersisa. Terus menjaga semangat dan stamina hingga mampu memberikan penyambutan terbaik untuk sang terkasih. 

Self reminder sebenarnya untuk terus menjaga semangat dan stamina. Mengapa? Dua hari terakhir ini badan terasa lesu, lemah dan kurang bersemangat. Entah. Mungkin aku lelah, mungkin pre-menstruasi syndroma atau kurang asupan nutrisi (jasadiyah dan ruhiyah). Secara jasadiyah, memang aku kurang optimal asupan makan saat jam makan. Bahkan sering tertunda atau terlewat tidak makan. Bahkan disaat waktunya harus puasa, aku sering tidak sahur karena ketiduran. Jadilah mungkin semuanya menumpuk di sepuluh hari terakhir ini. Mungkin...

Secara ruhiyah, aku juga kurang memperhatikan asupan nutrisi. Sering kulewatkan target membaca Al Qur'an harianku. Jika pagi ba'da sholat subuh, terbaca baru beberapa lembar dan rencananya akan kulanjutkan diwaktu yang lain dihari itu juga. Memang aku lanjutkan tetapi nyatanya tak sampaipun aku di akhir target dengan berbagai alasan klasik. Entah itu disibukkan oleh anak-anak atau oleh pekerjaan rumah dan sisanya capek-lelah yang menyapa. 

Lelah...
Apa peredanya? Beri jeda pada aktifitasmu dan beristirahatlah.

Lemah dan lesu...
Apa peredanya? Beri asupan gizi yang cukup untuk fisikmu. Makan, minum, dan suplemen lainnya.

Tak bersemangat...
Apa peredanya? Beri asupan nutrisi yang cukup untuk ruhiyahmu.

Jadilah hari ini aku cukupkan istirahatku sebagai jeda dan mengejar target tilawah yang tertinggal. 

Pagi, rutinitas seperti biasa. Meski hampir saja aku tumbang dan menangguhkan beberapa rutinitasku. Tapi, aku berusaha mengalihkannya. Kubuka jendela depan dan kuhirup aroma pagi. Ya, berharap ini bisa menghimpun energiku kembali dan siap dengan rutinitas. Yap. Meski entah itu energi sudah terhimpun atau belum dalam ragaku tapi rasanya sedikit ada dorongan untuk bergerak. Slow but sure untuk hari ini. 

Usai mengantar kakak, aku dan adek langsung menuju jalan pulang. Padahal biasanya kami berputar-putar menikmati kesibukan kota di pagi hari. Sesampainya di rumah pun, aku terkulai. Lemas rasanya. Ditambah lagi hari ini aku puasa. Tapi tak seperti biasanya yang meski puasa aku masih tetap bersemangat. 

Kubiarkan tubuhku terkulai, duduk lemas sambil mengawasi adek bermain. Meski sesekali adek meminta perhatianku, merengkuh tanganku, dan menariknya untuk duduk bermain bersamanya. Senyum dan anggukan yang kuberikan lalu kualihkan adek untuk bermain yang lain. Lalu aku? Masih duduk terkulai di tempat yang sama. Sampai pada titik dimana adek sudah capek bermain dan mengantuk. Barulah aku bergerak menidurkannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.40 WITA. Adek sudah tidur dan giliran bersiap menjemput kakak sambil aku selesaikan beberapa cucian piring, menyapu dan membereskan sampah. 

***

Hingga waktu berbuka puasa tiba. Subhanalloh... segelas teh manis panas dan semangkuk siomay hangat yang kubeli di pinggiran Vatulemo menjadi hidangan pembuka. Kuberitahu kakak sebelumnya bila bunda mau buka puasa dulu, tampaknya kakak mengerti dan turut menjaga dan bermain bersama adek sehingga sejenak aku bisa menikmati berbuka. 

Menjadi seorang ibu itu luar biasa. Dia harus memiliki ribuan semangat sehingga tak ada alasan untuk patah. Sehingga jika patah satu hilang berganti. 
Menjadi seorang ibu itu luar biasa. Tidak boleh ada kata 'malas dan capek' dalam kamus aktifitas hariannya. 
Tapi dia hanyalah manusia biasa yang juga akan disapa olehnya. 
Mencari alasan untuk bangkit adalah jawabannya. 
Maka alasan terkuat adalah ridhlo-Nya. Sehingga jadikanlah Dia sumber kekuatan terbesar pembangkit semangat.

Birobuli Utara, 6 Maret 2019.

Hi Diary Part XVI

Balada Emak Rempong

Hari ke dua puluh.
Mendung pagi ini. Saat aku bangun, kakak masih terlelap sedangkan adek terlihat gelisah dan hampir saja terbangun. Mungkin haus. Segera aku menuju dapur untuk membuat susu untuk adek. Benar saja, setelah susu habis diminumnya, adek kembali tertidur. Barulah aku memulai rutinitas pagi.

Setelah semua beres dan siap, segera aku antar kakak ke sekolah tanpa bawa adek. Kubiarkan adek melanjutkan tidurnya hingga aku kembali sampai rumah lagi.

Sinar matahari yang redup membuatku tergoda untuk merumput di halaman rumah. Sekitar tiga minggu lamanya rumput di halaman rumah belum aku rapikan. Sudah meninggi. Ini alasan prioritas dan cuaca. Bumi Mutiara Katulistiwa ini memang terkenal panas, terik, dan jarang hujan. Jadi jika ingin beberes halaman harus pagi sebelum terik, waktu sore atau saat mendung.

Kebetulan sekali saat aku mau mulai beberes halaman, adek terbangun. Jadilah aku ajak saja sambil mainan di halaman. Adek terlihat menikmati sekali dan tanpa ada yang mengganggu karena kakak sekolah.

Sembilan puluh menit yang sangat lumayan. Rumput sudah rapi sekarang. Puas kupandangi halaman yang menghijau nan rapi. Saatnya mandi dan sarapan yang tertunda.

Kulihat adek mengantuk setelah mandi dan minum susu. Wah, jangan sampai adek tidur duluan karena bisa mengacaukan jam tidur kakak dan bagiku ini mempersulit bila jam tidurnya bergantian. Akhirnya kuajak saja adek menjemput kakak pulang sekolah. Meski sesampai kembali di rumah, adek sudah tidak nyaman dan rewel bukan kepalang. Baiklah, aku kondisikan adek terlebih dahulu. Kubiarkan adek masuk kamar bersama dot susunya. Kuperhatikan adek dari pintu kamar, sepertinya tidak lama lagi akan tertidur. Baik, adek sudah ter-handle. Kini giliran kakak.

Kakak memang aku biasakan untuk cuci tangan, cuci kaki, dan ganti baju segera sepulang sekolah. Jadilah kakak teriak-teriak tidak sabar minta dibukakan bajunya (resleting bajunya ada di belakang) sementara bunda mengutamakan adek. Lalu aku suapi kakak untuk makan siang dan setelah selesai kubiarkn kakak ke kamar dan tidur sendiri. Sementara aku, tidak lupa untuk makan siang dan kutunaikan sholat dzuhur.

Kuperhatikan dari celah pintu, adek dan kakak tidur tenang. Baik, giliran aku membereskan setrikaan yang menggunung.
Pukul 15.00 WITA, anak-anak sudah terbangun lebih cepat dari perkiraanku. Belum selesai aku menyetrika, tapi berusaha ku lanjutkan dulu hingga kondisinya masih memungkinkan. Hingga rasa lelah yang menghampiriku dan terpaksa aku sudahi.

Tiba-tiba kepalaku berkunang-kunang. Aku berusaha merebahkan badanku di kasur. Tapi, rasanya seperti semakin berputar. Aku langsung bangun. Aku takut tiba-tiba terjadi apa-apa sedangkan aku hanya sendiri bersama anak-anak.

Jadi, aku pikir aku tidak boleh memaksakan diri. Istirahat itu penting. Saat anak-anak tidir siang, inilah waktu yang tepat untuk kita ikut beristirahat. Mungkin barang 30-60 menit merebahkan badan itu berharga. Recharge energi karena saat mereka bangun, mereka membutuhkan perhatian kita yang penuh energi.


Birobuli Utara, 5 Maret 2019.

Monday, 4 March 2019

Hi Diary Part XV


Balada Emak Rempong


Tak terasa sudah hari ke sembilan belas. 

Dear Monday...
Membuka kembali lembaran rutinitas mingguan. Nampaknya aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas ini. Sendiri bersama dua anak, meski repot bin rempong tapi bila terbiasa lama-lama menjadi tahu celahnya dan rasa berat pun tak menjadi beban. Bener deh...

Aku jadi bisa mengantisipasi situasi. Misal, agar kakak tidak mengompol, agar adek tidak pup pas injury time mau antar kakak sekolah, meminimalisir pertengkaran dan tantrum, dll. Memang jam terbang itu membuat kita semakin mahir. Padahal sewaktu masih bekerja dan memiliki ART, sempat berpikir tidak mungkin mengerjakan semuanya sendiri sambil mengurus dua anak ketika nanti aku tidak bekerja. Dan, suami juga sering memastikan padaku tentang hal ini. Aku sempat benar-benar ragu dengan kemampuanku saat melihat keaktifan dua anakku. Fyuh... take a deep breath. Itu dulu... 
Padahal baru membayangkan saja sudah berat ya... apalagi pas menjalaninya sendiri.

Ini sekarang. 
Ya, sekarang. Waktu yang dulu pernah ku bayangkan akhirnya tiba. Dan, berat memang... 
Tapi aku mampu! Dimampukan Alloh lebih tepatnya. Tak terbayangkan kalau yang ini karena aku modal nekat saja sebenarnya. Nekat mau ngurus semuanya sendiri. Meski sempat ku minta pengertian pada suami, bila nanti tidak bisa perfect seperti pas ada Emak Darmi. Suami sangat mengerti. Sempat pula karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah, suami mengingatkan untuk jangan lupa kewajiban kita mengasuh dan mendidik anak. "Kalau bunda repot dengan cucian, laundry aja. Kalau repot masak, beli aja. Anak-anak yang utama", pesan suamiku saat awal-awal aku mulai menjalankan peranku di tanah rantau tanpa ART. Aku iyakan saja pesan itu. Tapi dalam hati aku ingin mencoba dan belajar bagaimana me-manage semuanya sendiri. Tentunya ini butuh proses. Dan aku harus jujur jika nantinya ternyata aku tidak mampu. 

Proses, jam terbang, pengalaman, dan kesemuanya itu akan membuat kita lebih matang. Dan dalam menjalaninya butuh ilmu tentang seni menikmati agar hidup kita yang sedang berproses itu terasa indah. 
Karena semua akan berlalu dan beranjak sehingga kelak kita akan merindukannya kembali.

Birobuli Utara, 4 Maret 2019.

Sunday, 3 March 2019

Hi Diary Part XIV

Balada Emak Rempong...

Ahad... 
Tak kalah seru dengan sabtu kemarin. Meski, lebih banyak waktu kami habiskan di dalam rumah. 

Saat anak-anak bangun tidur, kini aku sedang membiasakan diri untuk memeluk dan mencium mereka satu persatu sambil membacakan doa bangun tidur. Lalu, kunyalakan video lagu islami dengan irama ceria. Berharap bisa menghidupkan mood ceria mereka hari ini. Dan, benar saja. Hari ini mereka cenderung menjadi anak manis dan kooperatif. 

Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dihari ini, terutama cucian. Minimal untuk hari senin sudah aku siapkan. Bagaimana dengan anak-anak? Sementara mereka bermain sendiri dulu. Barulah aku menemani mereka setelah ritual kucek-kucek selesai lalu kudelegasikan cucianku pada si tabung pintar. 

Aku temani mereka bermain sambil kusuapi kakak. Hap... hap... alhamdulillah. Rencananya hari ini aku ajak mereka belanja ke warung sayur yang agak jauh untuk membeli ikan segar. Memang agak jauh, tetapi ini yang paling dekat dengan rumah kami yang menjual sayuran lengkap dengan ikan. Ya, kakak minta dimasakin ikan hari ini. 

Ternyata ikannya kurang lengkap hari ini. Akhirnya kami hanya membawa pulang tempe dan telur. Hihihi... 
Alhamdullah, meski dengan lauk sederhana, kakak makannya lahap juga.

Aku sedang membiasakan diri untuk memeluk dan membelai anak-anak lebih sering. Menurut para ahli, cara ini bisa membangun jiwa positif anak dan memperkuat bonding kita dengan anak. Jadi, serempong apapun, letakkan pekerjaan barang sejenak dan sempatkan memeluk dan mencium mereka.

Birobuli Utata, 3 Marey 2019.


Saturday, 2 March 2019

Hi Diary Part XIII

Balada Emak Rempong

Menghitung hari dalam penantian. Ada gemuruh rindu yang mengharu. Tujuh belas hari sudah kau jalankan tugas negara disana dan meninggalkan kami disini. Aku yakin rindumu lebih bergemuruh, tapi aku tahu kau memilih menyimpannya apik dalam logikamu. My Darl, baik-baik di sana. Doa kami untukmu... 

By the way,
Aku suka hari ini...
Bisa bangun lebih siang dan menyiapkan segalanya lebih santai. Semoga anak-anak mengikuti ritmeku, hihihi... 

Sabtu, seruuuu!
Setelah kutunaikan sholat subuh, kubiarkan tubuhku meringkuk di bawah hangatnya selimut dan sejuknya udara ber-AC. Sejenak kumanjakan diri meski tak sepenuhnya bisa terlelap. Paling tidak aku bisa lebih relax. Santai...

Yay, Sabtu seruuuu!

Tujuh tiga puluh, aku bangun. Anak-anak masih lelap. Aku langkahkan kaki dengan berjingkat. Khawatir berisik dan membuat mereka terbangun. Dapur adalah tempat yang pertama kali kutuju. Mencuci piring, membersihkan kompor, mengelap wastafel dan rak piring, terakhir menyapu dan mengepel. Dapur, done. Kuintip mereka di kamar, ow... masih tidur. Ok, aku bisa menyapu dan mengepel ruang depan dan tengah. Belum tuntas kukerjakan, adek bangun disusul kakak. Buru-buru aku tuntaskan mengepel karena ini bisa menyebabkan mereka terpeleset. 

Setelah kubersihkan tanganku dengan sabun, segera kusapa mereka di kamar dengan doa bangun tidur. Kuutarakan pada mereka tentang rencanaku mengajak mereka main pasir di depan rumah. Jangan ditanya bagaimana respon mereka. Terutama kakak, sampe teriak sambil lompat-lompat. Heboh senangnya. Ini bukan tanpa syarat. Pertama harus pipis dulu di kamar mandi, kedua harus sambil sarapan, dan ketiga tidak boleh berebut mainan dengan adek. Jika tidak dipenuhi, mereka harus masuk rumah dan main di dalam saja. Kakak setuju. 

Main kotor-kotor di luar rumah terlihat sangat menyenangkan buat mereka. Kubiarkan mereka bebas tanpa banyak dibatasi. Membawa mainan keluar, main air, pasir, batu, manjat-manjat pagar, berteriak-teriak bila ada truk melintas di depan rumah (truk adalah transportasi favorit adek, jadi adek akan teriak heboh bila ada truk lewat)

Entah berapa lama kami habiskan waktu main di luar. Sampai kakak minta masuk sendiri yang ternyata mau pipis. Sampai disini, kusudahi main di luar dan segera kubersihkan tubuh mereka kemudian lanjut mandi. Selagi mereka kecipak-kecipuk main air, aku segera lari ke halaman rumah untuk membereskan mainan mereka. 

Senang sekali melihat mereka sudah mandi, segar dan wangi. Dan kini, waktunya menikmati kudapan favorit mereka. Snack time... sambil menonton channel berbayar yang menayangkan acara khusus toddler. Melihat mereka, sejuuuuk hati rasanya. 

Sudah lewat siang, mereka masih asyik bermain. Wajar, bangunnya saja siang. Baik, kuturuti mereka. Kita bermain mencocokkan warna, bermain konser musik (bundanya disuruh nyanyi sama kakak, wkwkwk....), lalu bermain apalagi ya tadi? Pokoknya seru. 

Kuajak mereka masuk kamar untuk tidur siang yang sudah lewat. Tapi karena mati listrik dan AC tidak nyala, jadilah mereka tidurnya sebentar. Hingga sore menyapa dan kuajak mereka berkeliling menikmati udara sore sambil beli lauk untuk kami makan malam karena hari ini aku berpuasa dan hanya masak untuk Kak Ata saja makan pagi dan siang. 

Subhanalloh...
Keseruan kami hari ini ditutup dengan riwehnya saat kakak kembali mengompol (terlambat dari prediksiku mengajak ke kamar mandi). Duhduhduh... riwehnya jangan ditanya. Kakak menangis, adek sempat terpeset, dan aku harus sigap mengamankan daerah najis agar tidak menyebar. Fyuh... luar biasa menguras kesabaran. 

Nikmati saja kerempongan ini Mak!
Toh, dalam rempongmu masih ada jeda untuk recharge energimu atau sekedar bermesra dengan dirimu.
Sering-seringlah tersenyum...
karena itu akan meringankan bebanmu, merelaksasi otot-otot muka dan garis muda akan mewarnai wajahmu.

Nikmati saja kerempongan ini Mak!
Kelak kita akan merindukannya.

Birobuli Utara, 2 Maret 2019.

Friday, 1 March 2019

Hi Diary Part XII


Balada Emak Rempong

Mendung menggelayut di langit Sulawesi Tengah sejak sore kemarin. Tak ada tetes air pun yang turun dari langit. Hanya guruh bersahutan tanda hujan akan datang tidak lama lagi. Ya, kemarin sore...
Nyatanya, hujan menyapa ketika malam sudah larut hingga tadi pagi. Hujan tidak begitu lebat, tipis saja. Namun cukup membuat udara di Bumi Mutiara ini menjadi lebih sejuk. Pasalnya, letak geografis membuat daerah ini bercurah hujan rendah. Jadi, mendung dan hujan ini telah membuka hariku. Membawa kesejukan dan ketentraman pada jiwaku. 

Pagi...

Kakak kubangunkan terlebih dahulu sambil berharap dalam hati agar adek siang saja bangunnya. Aku punya cara unik membangunkan kakak. Langsung saja kugendong dari tempat tidur menuju kamar mandi sambil bercerita apa saja yang mengundang perhatiannya. Cara ini sangat mujarab membangunkan kakak tanpa drama dan langsung mandi. Tapi, dramanya ada disaat mandi. Kakak selalu susah untuk mandi pagi dan pakai sabun. Alasannya dingin. Akhirnya bunda mengalah dengan hanya membasahi tipis sekujur tubuhnya dan gosok gigi saja. Next, mungkin ku coba dengan air hangat. Ya, barulah sore kumandikan lengkap tanpa protes. 

Pukul tujuh tiga puluh, aku dan kakak sudah siap berangkat. Kupastikan gerimis sudah berhenti agar aku tak repot mengenakan jas hujan. Agak males sama yang ribet-ribet begini. 

Kulihat adek masih lelap sekali tidurnya. Jadi, adek ditinggal saja barang 10 hingga 15 menit. Alhamdulillah, saat aku pulang mengantar kakak, adek masih tidur. Yes, aku bisa nyetrika hingga adek terbangun. Dan rencananya aku juga akan ke swalayan siang ini sebelum menjemput kakak untuk membeli susu dan beberapa kebutuhan mingguan. 

Alhamdulillah, rencanaku satu persatu done hingga siang ini meski setrikaan tidak selesai tapi tak apalah. Baju-baju prioritas saja yang aku setrika, lainnya bisa menyusul. 
Ok, hari sudah siang dan waktunya mengantarkan anak-anak untuk tidur yang ternyata aku juga ikut terlelap hingga lepas asyar. Aku segera bangun, kuambil air wudhu dan kutunaikan sholat. Mengingat azzamku kemarin, waktu asyar adalah reminder. Waktunya aku evaluasi tentang tumbuh kembang anak-anakku hari ini (bagaimana asupan nutrisinya, belajar tentang apa ia hari ini, dan sudahkah waktuku optimal bersamanya tanpa "sembari"). 

Baiklah, untuk asupan nutrisi kakak; makannya pinter (tidak picky eater), dan minum susu juga oke. PR-nya belajar makan buah lebih baik. Sedangkan untuk adek, aku masih pelan-pelan mengajarinya makan. Apa pasal, adek maunya memasukkan makanannya sendiri (masa baby led weaning) dan bila makan di-emut dan disemprot-semprotkan bila tidak sesuai dengan seleranya. Alhasil, makannya lama dan nutrisi yang masuk pastilah minim. Cobaan banget buatku. Tapi, aku pelan-pelan mengajarinya makan dengan cara melibatkannya ketika aku menyuapi kakak makan. Sesuap itu sangat berharga dan selebihnya aku kejar dengan asupan susu. Bismillah saja, semoga segera terlewati masa-masa susah makan seperti zaman kakak dulu. 

Belajar apa mereka hari ini? Aku tidak membuat tema khusus untuk mengajari mereka. Apa yang sedang mereka lihat saja kujadikan pelajaran. Seperti saat antar kakak ada sapi, bunyinya apa, merupakan hewan yang dipelihara, bisa diambil susunya, dan seterusnya... seterusnya... Tetapi untuk kakak, aku mulai tetapkan tema seperti mengenal bentuk huruf, membaca huruf hijaiyah, hafalan surat pendek, adab mendengarkan azan dan kisah nabi-rasul.

Lalu, sudahkah waktuku optimal bersamanya tanpa "sembari"?. Aku merasa masih kurang untuk yang satu ini. Jadilah, aku tutup kekurangannya dengan bermain dan menggambar bersama di teras rumah. Enam puluh menit hingga azan maghrib berkumandang, lumayan daripada tidak. 

Evaluasi menjadi sangat penting dilakukan sebagai tolok ukur keberhasilan dari apa yang direncanakan. 
Dari evaluasi, kita bisa menentukan sikap selanjutnya. 
Jadi Emak, serempong apapun kita, sebisa mungkin memiliki waktu jeda untuk sekedar evaluasi agar hari-hari kita memiliki tujuan dan tidak salah arah. 

Birobuli Utara, 1 Maret 2019.

Thursday, 28 February 2019

Hi Diary Part XI

Balada Emak Rempong


Hari kelima belas. Masih dalam rangka menata hati dan menata diri. Mencoba menghadirkan seluruh ketulusan dan jiwa yang tenang. Hadir seutuhnya kedalam dunianya. Berada disampingnya dan seolah tumbuh dan berkembang bersamanya. Tertawa lepas, berteriak lantang, melompat kompak, mengkhayal dan bermain bersama. Agar mereka merasa bundanya benar-benar menjadi partnernya yang asyik. 

Iya, begitulah seharusnya. Dalam hadist pun dijelaskan tentang ini. “Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang menggembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla” [HR Abu Daud dan At Tirmidzi]. 

Subhanalloh...
Ternyata menggemberikan hati anak dan berseda gurau bersamanya disetarakan dengan memerdekakan hamba sahaya dan takut kepada Alloh. Jadi, ini patut diperjuangkan meski pekerjaan rumah menumpuk. 

Apa yang sudah kuazamkan kemarin sudah kumulai hari ini. Aku berusaha mengatur waktuku sebaik mungkin. Mengalokasikan waktu khusus bermain dengan mereka. Tak dipungkiri, masih ada "sembari" dalam rutinitasku hari ini. Kenapa? Ya, aku pikir pekerjaan rumah tidak dapat dielakkan. Tapi, hari ini aku sudah alokasikan waktu lebih panjang bersama mereka tanpa disibukkan dengan apapun. 

Belum ada waktu pasti jam berapa dan kapan saya harus khusus bermain bersama mereka. Lihat situasi dan kondisi mereka. Baru kuawali dari niat untuk membangun kebiasaan. Reminder-nya apa? Ku tetapkan waktu asyar sebagai waktu untuk evaluasi dan pengingat apa saja yang sudah aku lakukan dan belum. Jika belum, waktunya melengkapinya sebeum adzan maghrib tiba. Setelah shalat maghrib, waktunya hafalan dan belajar huruf hijaiyah. Dan, sebagai pengantar tidur, aku bacakan cerita nabi dan rasul. 

Ya, hari ini aku sudah terapkan. Sebetulnya hari-hari sebelumnya juga sudah kulakukan. Tapi, masih bolong-bolong. Azzamku, semoga bisa konsisten selanjutnya. Dan PR-ku selanjutnya adalah membuat list daily activity bersama anak. 
Yes.

Birobuli Utara, 28 Februari 2019

Wednesday, 27 February 2019

Hi Diary Part X

Balada Emak Rempong


Ia adalah pejuang,
Ia adalah pahlawan.

Baginya tak penting soal rasa
(pahit-manis-getir).
Diubahnya rasa menjadi karsa.
Tak penting perihal dirinya,
asalkan "bahagianya adalah bahagiaku".

Linimasanya tak pernah absen.
selalu direpotkan,
selalu dirempongkan,
tapi justru ini sumber bahagianya.

Maka tidak ada alasan baginya untuk tidak bahagia.

Dialah Ibu!

***

Hari keempat belas. Masih sibuk menata hati dan menata diri. Rasa bersalah dan khawatir masih sering menghantuiku. Meski aku sudah berusaha untuk berdamai. 

Sendiri bersama anak-anak itu tidaklah mudah. Aku harus menjalankan peran ganda. Peran sebagai ibu sekaligus ayah. Jika dijabarkan tentunya akan panjang lebar. Dari urusan domestik yang printilan hingga memastikan anak-anak tumbuh dan berkembang dengan baik.

Sering kupandangi anak-anak saat mereka tidur. Wajah sholeh dan sholehah nan polos. Kucium keningnya dan kuusap kepalanya satu persatu sambil kupanjatkan doa. 

Mengawal tumbuh kembang mereka yang kulakukan dengan "sembari", sering menuai rasa bersalahku. Ku biarkan mereka bermain sendiri sembari memasak, sembari mencuci baju, sembari menyetrika dan sembari beres-beres. Ragaku ada disisi mereka tapi hatiku pada pekerjaan rumah yang menumpuk. Padahal ketika aku masih berdinas dulu, ketika sampai rumah ya main sama anak-anak. Pekerjaan rumah sudah ada Mak Darmi yang handle. Rasanya ini seperti tidak bersyukur. Astaghfirulloh... 

Ingin hati menemani mereka bermain dengan tenang tanpa diganggu pekerjaan rumah. Membuatkan mereka mainan-mainan edukatif dan membimbingnya. Membacakannya cerita-cerita syarat makna dan memberinya pesan moral. 

Ingin hati... 

Seharusnya aku bisa!
Ok, mungkin saat ini belum optimal. Tapi aku akan usahakan. Belajar mengatur waktu lebih baik. Kembali menata hati dan menata diri lebih rapi. 

Ok, mulai besok!

Bismillah...

***

Kupasrahkan segala kekhawatiranku pada-Mu agar persangkaanku senantiasa baik. Kujabarkan ia dalam pinta - doa pada-Mu. Kuperbaiki ibadahku dengan maksud bisa semakin dekat dengan-Mu. Semoga Engkau membalasnya dengan cinta padaku dan keluargaku. Dan cinta-Mu yang akan menjaga kami selamat di dunia dan akhirat. Amin.

***

Tak sabar menunggu enam belas hari lagi. Hari kepulangan suamiku tercinta ke rumah ini. 



Birobuli Utara, 27 Februari 2019


Tuesday, 26 February 2019

Hi Diary Part IX


Balada Emak Rempong

Dari pertama bertemu, nampaknya dia baik, ramah, dan tulus. Tapi aku lebih memilih diam dan hanya perbincangan sebatas peran saja. Entah pertemuan yang keberapa barulah kami membuka obrolan lebih dalam. Bukan aku yang mulai tapi dia. 

Kina Laila namanya. Dia sering melayaniku saat aku membeli sayur matang di pelataran Pusat Oleh-Oleh Raja. Sekitar tiga atau empat hari lalu dia membuka obrolan dengan bahasa Jawa. Sambil melayani pesananku, obrolan berlanjut lebih dalam. Dia memperkenalkan diri terlebih dahulu. Karena ramainya pembeli, obrolan kami terputus dan menyambung saat aku kembali membeli sayur disini keesokan harinya.

Bagi perantau tanpa sanak saudara sepertiku, bertemu orang satu daerah asal  itu seperti bertemu saudara. Jadilah kami terlihat heboh saat bertemu. Sapaannya selalu renyah dan orangnya ceria. Ini dia yang khas dari Mbak Kina. 

Hari ini aku baru tahu kalau Mbak Kina betul-betul ingin berteman denganku. Tentu saja dia meminta akun sosmed-ku (sosial media). Obrolan kami kembali terputus karena antrian pembeli. 

Meski obrolan singkat-singkat begitu, tapi aku merasa senang. 

Mbak Kina ini seorang single parent dengan satu anak. Dan alasan ekonomi yang mendorongnya merantau jauh ke sini. Kabarnya tidak lama lagi dia akan pulang kampung memenuhi permintaan anaknya yang tidak mau pisah jauh dengan ibunya. Mungkin hanya sampai akhir Februari saja.

Tidak kusangka dia menyimpan cerita pahit. Garis santun dan ceria pada raut mukanya menyamarkan sedih, gelisah, dan kekhawatiran yang dirasakannya. 

Ya!
Seorang ibu, hati dan pikirannya tidak bisa jauh dari anak. Meski raga terpisah jarak dan kondisi keluarga tak lagi utuh, ibu tetaplah pejuang bagi keluarganya, bagi anak-anaknya. Dialah sosok yang sangat pandai menyembunyikan rasa dengan karsa. Maka, bersyukurlah atas predikat ibu yang Alloh sematkan pada kita. Linimasa-nya tak pernah kosong. Ia selalu sibuk. Ia selalu direpotkan. Ia selalu rempong. Dan Ia adalah pahlawan bagi keluarganya. 

Dan bagiku, kisah Kina Laila cukup memantik rasa syukurku dan semangatku untuk lebih baik menjalankan peranku sebagai ibu. 

Birobuli Utara, 26 Februari 2019.

Monday, 25 February 2019

Hi Diary Part VIII

Balada Emak Rempong


Pagi...
Wangimu menggugah rasaku,
menghimpun ragaku,
dan memantik semangatku.

dengan segala rasa syukur,
bahagia,
dan sekuntum bahasa positif dalam diriku,
kusambut hadirmu dalam membuka lembaran hari dan mengawali sirkadian waktu.

Kan kumulakan dengan menyebut nama-Nya, agar runtutan waktu kujalani dengan lancar.

Aku tak menyukai dia datang dan mengganggu hidupku. Mengacaukan segala rencanaku hari ini. Aku harus membuatnya enyah dari diriku sekarang juga!

Ini seperti virus yang bila kubiarkan dia datang dan menyerang, maka dia akan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Seperti sel kanker, jika tidak dijinakkan maka akan bermetastase. 

Ya, malas!
Aku benci saat malas menyerangku. 

Seperti pagi ini saat aku harus segera bangun menghadapi rutinitas pagi, menyiapkan kebutuhan anak-anak. Kasur yang empuk dan selimut yang hangat begitu menggodaku. Benar saja, setelah kutunaikan sholat subuh, masih dengan mukena lengkap, aku kembali membaringkan tubuhku di sajadah. Kantuk mengalahkanku. Tidak sampai sepuluh menit, aku segera bangun. Rasa bersalah memanggilku. Apa jadinya jika kuturuti rasa kantukku dan ketiduran hingga lewat waktu? Astaghfirulloh....

Kulipat sajadah dan mukena yang kukenakan lalu segera menuju dapur. Kutetapkan prioritas sebelum kupegang semua pekerjaan. Sungguh! Setelah melihat pekerjaan pagi yang menumpuk dan kutetapkan prioritas, rasa malasku tergantikan dengan semangat yang mengepal. Seperti auto motivasi! Aku tertantang untuk segera menyelesaikan semua rutinitas pagiku sebelum anak-anak terbangun. Bagaimana tidak kembali semangat jika tertantang seperti ini?

Maka tidak ada alasan untuk meladeni rasa malas bagi emak-emak sepertiku. Kalau tidak selesai segera kapan lagi, kalau anak-anak sudah terbangun makin rempong, kalau bukan aku siapa lagi. Statement seperti itu cukup memantik semangatku.

Meski sendiri dengan anak-anak sementara menunggu suami pulang dinas luar kota, bukan berarti tidak bisa menikmati jalan-jalan santai, jalan-jalan pagi atau jalan-jalan sore. Menikmati udara segar, berkendara dengan kecepatan rendah, menikmati kesibukan kota dan membeli makanan ringan yang kami sukai wajib dilakukan meski tidak ada suami. Ini adalah bentuk refreshing kecil-kecilan kami. Meski sedikit rempong mengendarai roda dua sambil menggendong dan membonceng kakak di depan, tapi ini sangat amat membahagiakan. Tapi tidak selalu repot membawa kakak dan adek. Bisa juga saat kakak masih bersekolah, hanya aku dan adek saja yang jalan-jalan.

Seperti pagi ini. Sepulang mengantar kakak ke sekolah, aku dan adek berkeliling kota dengan motor kesayangan kami. Tidak jauh-jauh kok. Seputar jalan Garuda, jalan Cendrawasih, dan Lapangan Vatulemo sembari berbelanja di warung sayur. Tidak terasa ini menghabiskan waktu hingga satu jam. Tapi sungguh ini pemantik semangatku selanjutnya. Hatiku merasa bahagia.

Sesampai di rumah, senyumku sudah ringan dan bersiap memasak ikan katombo kuah asam kesukaan Kakak. 

Sungguh banyak keajaiban yang hadir ketika hati merasa bahagia. Maka emak, jangan lupa bahagia. 

Birobuli Utara, 25 Februari 2019