Thursday, 11 April 2019

Belajar Merapikan dan Menata Kembali Mainan, Belajar Merapikan dan Menata Hidup



B   :
"Ayo Ka, dah jam sembilan, kita rapikan dulu mainannya sebelum bobo."

Kk :
"Bunda aja, Kak Ata capek."

B   :
"Ok, kita cepet-cepetan masukin mainannya ke kardus. Juaranya yang selesai duluan dan dapat hadiah tiket main air sepuasnya (ini sih triknya bunda aja, padahal main airnya cuma di kamar mandi)."

Kk :
"Hah, aha... yeayyy... Kak Ata yang menang... Kak Ata yang menang...."

B :
"Ok, kita buktikan... Bunda yg sini, Kak Ata yang sana ya...."

Dialog itu akhirnya happy ending. Semua mainan sudah tertata rapi di tempatnya. Selanjutnya, bunda wajib memenuhi janji untuk memberikan tiket main air sepuasnya. 

Ya, begitulah memang Nak... Hidup itu tak luput dari lelah dan capek. Kau yang tugasnya masih bermain-main saja tak luput dari lelah. Apalagi jika kau nanti sudah memiliki tanggung jawab seperti belajar di jenjang sekolah lebih tinggi dan akan semakin bertambah tanggung jawabmu seiring bertambahnya usia perkembanganmu.

Tapi kau tak boleh kalah hanya karena lelah, Nak!

Cari hal menarik yang kau suka sebagai pemantik semangatmu, sebagai tujuan dan pencapaianmu. Seperti saat dirimu capek ketika akan merapikan mainanmu kembali dan bunda menawarkan sesuatu yang menjadi kesenanganmu. Dengan cepat semangatmu menyambut dan lelahmu sirna. Seolah lupa dengan rasa lelahmu, kau susun mainanmu itu dengan telaten satu persatu hingga rapi ke tempat semula. Dan, kau berhasil, Nak! Lalu kau bertepuk tangan untuk dirimu sendiri dan merayakan keberhasilanmu. Dari sini rasa percaya dirimu meningkat setengah hingga satu level. 

Bunda akan terus membantu mengingatkanmu untuk merapikan kembali mainanmu setelah kau selesai memainkannya hingga kau paham arti tanggung jawab dan disiplin. Bahkan, hingga kau paham apa makna 'menata' dan 'merapikan' itu sendiri. Karena kelak dalam perjalanan hidup, kita akan sangat akrab dengan dua kata itu, Nak. Saking akrabnya hingga membuat kita kadang bosan dan membiarkan semuanya berantakan. Maka kau harus punya 'seni' Nak, agar 'menata' dan 'merapikan' itu menyenangkan dan akhirnya menjadi kebutuhanmu yang melekat pada perjalanan hidupmu. 

Birobuli Utara, 11 April 2019.

Saturday, 6 April 2019

Jalan Kebaikan




Helping Others is the way we help ourselves. (Oprah Winfrey)

Kutipan itu seolah memutar rekaman ingatanku pada belasan tahun silam saat masih duduk dibangku kuliah. Kala itu aku sedang dirundung rasa penat tingkat dewa yang benar-benar membuatku kehilangan motivasi. Dan, hampir saja absen dari perkuliahan pukul 7 pagi ini di Salemba. 

Aku menangis di sujud subuhku pagi itu, sejadi-jadinya, berteriak sekencang-kencangnya dalam hati sambil ku remas sajadah tempatku bersujud. Lama... 
Kubiarkan diriku larut dalam katarsis ini.
Hingga aku dikagetkan oleh suara ketukan di pintu kamarku. Aku bergegas bangkit dari sujudku dan menyeka air mataku dengan kain mukena yang menutupi punggung tanganku. 

Ibu Kantin. Begitu aku memanggilnya, ibu yang berjualan di kantin asrama yang menjadi langgananku dan kami memang dekat karena biasa saling curhat. Pagi ini, dia mendatangi kamarku dengan muka sembab bekas menangis. Dia menceritakan permasalahan yang menimpanya semalam. 

Lalu, apa yang ku lakukan sementara aku juga sedang terpuruk dengan bebanku sendiri? 

Aku menguatkan diriku untuk kemudian menguatkannya dan menawarkan bantuan semampuku. Ku hibur dia dengan kalimat-Nya dalam Q.S At Taubah ayat 40, "La Tahzan, Innallaha Ma'ana" yang artinya jangan bersedih, sesungguhnya Alloh bersama kita.

Lalu, apa yang kurasakan? Seperti sedang self-motivation. 

Aku yang terpuruk tetiba kembali bersemangat dan bangkit mengurai penat. Dan, tak lama setelah Ibu Kantin berpamitan dari kamarku, aku bergegas keluar dari asrama yang berada di kampus Depok untuk mengejar kelas di Salemba. 

Alloh memiliki cara-Nya sendiri untuk memberikan pertolongan pada hamba-Nya. Maka, agar kita dekat dengan pertolongan-Nya, hadirkan selalu Alloh dalam setiap hela napas kita dan ringankan diri kita untuk membantu sesama, membantu saudara kita, memudahkan urusannya, meringankan bebannya. Sekecil atau sesederhana apapun bentuk bantuan yang kita berikan menjadi sangat berharga bagi orang lain yang membutuhkan dan bahkan dapat menjadi inspirasi baginya untuk melakukan kebaikan minimal serupa. 

Bahkan sesederhana menyingkirkan batu di jalan, membantu orang lain menyeberang jalan, atau memberikan kursi kita untuk ibu hamil atau yang membutuhkan saat naik kendaraan umum. 
Insyaalloh, kita semakin dekat dengan pertolongan-Nya. 

"Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim)


Birobuli Utara, 6 April 2019.

Jangan Bimbang




Jangan #bimbang, agar kita #tenang.
Jangan bimbang, agar kita #senang.
Jangan bimbang, agar kita #menang.

Bimbang akan membuat hidup kita tak jua melangkah dan keputusan tak jua ditentukan. Karena bimbang adalah ragu. 

Kehadirannya akan membuat hati kita resah tak menentu, karena bimbang adalah gundah dan galau.

Kehadirannya akan membuat kita takut menghadapi kenyataan hidup yang mungkin tak semanis dan tak seindah yang kita harapkan, karena bimbang adalah khawatir.

Dan, kehadirannya merenggut ketenangan dalam hati, karena bimbang adalah wujud ketidakyakinan pada sebaik-baik pengatur jalan hidup kita.

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal". (QS At-Taubah:51)

Apapun yang menimpa kita, sejatinya tak lepas dari ketetapan-Nya. 
Lajur #benang kehidupan kita telah direnda apik oleh-Nya. Tugas kita, berenang-#renang menyusuri setiap lajur kehidupan kita dengan amal sepenuh keyakinan agar jiwa kita menang. Karena jiwa pemenang adalah jiwa yang tenang. Dan, jiwa yang tenang adalah jiwa yang ridha dan ikhlas terhadap ketetapan-Nya.

Kembalilah padanya. Bacalah Al Quran sebagai penawar kebimbangan kita. Bacalah setiap hari agar rahmat dan ridho-Nya meliputi perjalanan waktu kita dan memantapkan langkah kita.


Birobuli Utara, 28 Maret 2019.

AYUNKAN PENAMU, AJAKLAH DIA MENARI BERSAMA SERUAN-NYA.



Saat kau saksikan indahnya alam cipta-Nya, janganlah lupa ucap syukur dan memuji-Nya.
Lalu ajaklah jua penamu memuji-Nya dan menari bersama rasa syukur itu.

Saat kau dirundung duka atau tertimpa musibah, janganlah lupa untuk bersabar dalam takdir-Nya dan ucap Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Lalu ajaklah jua penamu mengurai sabarmu dalam takdir-Nya.

Saat hatimu penuh kebahagiaan dalam dekapan nikmat-Nya, janganlah lupa bersyukur dan ucap alhamdulillah.
Lalu ajaklah jua penamu mengurai bahagiamu terhadap curahan nikmat-Nya.

Saat kau berusaha bangkit dari kegagalan bertubi, janganlah lupa sertakan Dia dalam setiap usahamu. Perbanyaklah sujud disepertiga malam suguhan-Nya sebagai pereda dadamu yang bergemuruh ragu.
Lalu ajaklah jua penamu mengurai pedihnya gagalmu dan merunut perjuangan bangkitmu merenda asa bersama-Nya.

Dan, Alloh janjikan pahala bagi hamba-Nya yang senantiasa mengingat-Nya dalam kondisi apapun.
Lalu torehan penamu jua akan menjadi aset pahala bagimu ketika dengannya menjadi jalan orang lain bertaubat dan kembali mengingat Alloh.
Penamu turut menyeru umat pada jalan Tuhannya.
Penamu turut menjadi pengingat.
Penamu turut mengerja dakwah.

Dan, aset pahalamu itu adalah shodaqoh jariyahmu. Pahalanya mengalir meski ragamu terkulai antara utara dan selatan dan wajahmu dihadapkan ke arah kiblat.

Subhanalloh...

***

Dan aku, menginginkannya juga. Pahala yang telah Alloh janjikan itu. Sebagaimana dalam hadist riwayat Muslim disebutkan bahwa, jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.

Ya.
Aku, sang fakir.
Aku, hamba Alloh yang dosanya bagai pepasir.
Hanya ingin merangkai tanda cintaku pada-Nya dengan sekuntum amal yang ku kerja.
Berharap Dia membalas cintaku dengan ampunan dosa, rahmat, dan pahala.

Semoga Alloh senantiasa menjaga semangat ini untuk belajar mengerja amal, merenda pahala dan turut menyeru umat kembali pada jalan Alloh.

Dan, kan ku ajak penaku menari bersama seruan-Nya agar sekali menyeru, pesannya terdengar hingga lintas generasi. Pesannya meng-abadi.

Dalam rangka belajar bertutur, bercerita, sekaligus menyeru kebaikan dalam tulisan.

Insyaalloh.

Birobuli Utara, 22 Maret 2019.