Wednesday, 27 January 2016

Rindu Pulang

Tidak seperti akhir pekan sebelumnya, kali ini aku free. Setelah seharian berbenah kamar, sore ini aku duduk santai di kursi belajarku yang sengaja kuletakkan bersampingan dengan jendela.

Pemandangan asrama yang sudah biasa bagiku. Gedung F lantai 3 kamar 30, tempatku berada. Memandangi dua gedung di depanku, D dan E, sepi. Tak tampak ada aktifitas apapun. Hujan yang sedari siang tak kunjung reda, sore menyisakan gerimis.

Aroma hujan yang khas membangkitkan rinduku akan keluarga di Kebumen. Ayah, ibu dan adik-adik. Kami sama-sama menyukai suasana hujan. Ubi, pisang, atau jagung hangat, salah satunya hampir selalu menemani kami sebagai kudapan disaat hujan.  Adikku, si kembar Aryo dan Aji pasti sudah bersiap dengan baju kotornya untuk bermain hujan di teras rumah. Sedangkan aku, ayah dan ibu duduk di kursi rotan yang juga berada di teras rumah. Mengobrol hangat, menikmati kudapan sembari mengawasi si kembar lima tahun itu bermain hujan.

Sungguh membuatku rindu.

Tinggal di asrama membuatku belajar mandiri, disiplin dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Ini adalah kali pertama aku hidup jauh dari keluarga. Belum genap satu tahun. Dan aku belum juga berdamai dengan rasa rindu semacam ini. Meski sesibuk apapun aktifitasku di kampus, rasa itu kembali menyapaku sekembalinya aku ke kamar asrama.

Sesaat kupandangi foto keluarga yang sengaja ku pajang di meja belajarku. Foto kami sekeluarga dua tahun lalu. Senyum… Rindu ingin memeluk mereka.

Kupandangi ponsel di tanganku. Ingin sekali ku menelpon ibu. “Tapi nanti lah, selepas maghrib saja”, batinku. Terlalu sering menelpon justru akan membuat ibu khawatir.

Kulayangkan pandangku ke sekeliling gedung di depanku. Masih sepi… Kulihat jam weker di meja belajarku, pukul lima. Memang jam segini kebanyakan teman asrama belum pulang. Kebiasaan weekend, mereka pulang ke rumah orang tua, saudara, mengikuti kegiatan organisasi di kampus, atau sekedar jalan-jalan di pusat perbelanjaan sekitar asrama. Selepas maghrib, asrama akan kembali ramai.

Suasana sore, sepi diselimuti hujan memang selalu mengundang rindu kampung halaman. Rasa rindu ini justru melecut semangatku untuk belajar dan berkarya dengan baik di tanah rantau. “Ini adalah amanah ayah dan ibu”, pikirku. Amanah adalah kepercayaan. Itu artinya ayah dan ibu memberiku kepercayaan untuk memimpin diriku sendiri dengan baik. Karena tugasku belajar, berarti aku harus belajar dengan baik di sini. Tidak untuk bermain-main.
Belajar, berprestasi dan bermanfaat adalah semboyanku. Dan, kelak akan membuat mereka tersenyum bangga…

***

Masih gerimis, maghrib telah langsir dan asrama masih sepi. Satu puisi enam bait selesai kubuat. Puisi dan cerpen, pelampiasan rasa rinduku.

Griya Serpong Asri, 27 Januari 2016

Friday, 22 January 2016

Resolusi

Dan, aku pun tak tahu harus mulai dari mana…
Membuat awalan seperti apa…
Diam…
Gelisah…
Gaduh…
Hati ini tak terima…
Dan artinya, aku harus memulainya, membuat awalan yang baik
untuk alur usiaku lebih bermakna,
disepertiga abad.
Welcome 2016…

Tentang aktualisasi, mimpi dan bahagia.

Memiliki novel karya sendiri adalah mimpi, aktualisasi diri, dan sekaligus hal yang paling membahagiakan bagiku. Aku merasa ini tepat bila dijadikan resolusi tahun ini. Dan aku harus memulainya, mewujudkannya…

Kutengok blog yang hampir terlupakan, ternyata dua tahun lalu terakhir kali aku mem-posting tulisanku. Aku pun geleng kepala sembari tersenyum kecut, kecewa dengan diriku sendiri.

Telah lama ku bermimpi menjadi penulis. Namun, kembali pasrah dengan ‘mentok’. Tanpa evaluasi, waktu berlalu menyisakan sesal. Ini yang sesalu mengganjal.

Semakin sadar bahwa mimpi harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh bila ingin meraihnya. Sungguh-sungguh adalah kata kuncinya. Enyahkan kata malas dan menyerah.

Sepertiga abad berlalu…

Belajar berdamai dengan semua hal yang belum sesuai adalah senjataku selama ini…
Cukup membuatku bahagia…
Meski bukanlah bahagia lepas sepenuh jiwa…
Namun cukup membuat bibirku tersenyum dan mataku berbinar,
walau perlu satu atau dua helaan napas panjang terlebih dahulu…

Sepertiga abad berlalu…

Memiliki novel karya sendiri adalah mimpi, aktualisasi diri, dan sekaligus hal yang paling membahagiakan bagiku.

I hope my dream comes true, being a writer from one day one story…
Cayo…

***************
Griya Serpong Asri, 23 Januari 2016