Thursday, 28 February 2019

Hi Diary Part XI

Balada Emak Rempong


Hari kelima belas. Masih dalam rangka menata hati dan menata diri. Mencoba menghadirkan seluruh ketulusan dan jiwa yang tenang. Hadir seutuhnya kedalam dunianya. Berada disampingnya dan seolah tumbuh dan berkembang bersamanya. Tertawa lepas, berteriak lantang, melompat kompak, mengkhayal dan bermain bersama. Agar mereka merasa bundanya benar-benar menjadi partnernya yang asyik. 

Iya, begitulah seharusnya. Dalam hadist pun dijelaskan tentang ini. “Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang menggembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla” [HR Abu Daud dan At Tirmidzi]. 

Subhanalloh...
Ternyata menggemberikan hati anak dan berseda gurau bersamanya disetarakan dengan memerdekakan hamba sahaya dan takut kepada Alloh. Jadi, ini patut diperjuangkan meski pekerjaan rumah menumpuk. 

Apa yang sudah kuazamkan kemarin sudah kumulai hari ini. Aku berusaha mengatur waktuku sebaik mungkin. Mengalokasikan waktu khusus bermain dengan mereka. Tak dipungkiri, masih ada "sembari" dalam rutinitasku hari ini. Kenapa? Ya, aku pikir pekerjaan rumah tidak dapat dielakkan. Tapi, hari ini aku sudah alokasikan waktu lebih panjang bersama mereka tanpa disibukkan dengan apapun. 

Belum ada waktu pasti jam berapa dan kapan saya harus khusus bermain bersama mereka. Lihat situasi dan kondisi mereka. Baru kuawali dari niat untuk membangun kebiasaan. Reminder-nya apa? Ku tetapkan waktu asyar sebagai waktu untuk evaluasi dan pengingat apa saja yang sudah aku lakukan dan belum. Jika belum, waktunya melengkapinya sebeum adzan maghrib tiba. Setelah shalat maghrib, waktunya hafalan dan belajar huruf hijaiyah. Dan, sebagai pengantar tidur, aku bacakan cerita nabi dan rasul. 

Ya, hari ini aku sudah terapkan. Sebetulnya hari-hari sebelumnya juga sudah kulakukan. Tapi, masih bolong-bolong. Azzamku, semoga bisa konsisten selanjutnya. Dan PR-ku selanjutnya adalah membuat list daily activity bersama anak. 
Yes.

Birobuli Utara, 28 Februari 2019

Wednesday, 27 February 2019

Hi Diary Part X

Balada Emak Rempong


Ia adalah pejuang,
Ia adalah pahlawan.

Baginya tak penting soal rasa
(pahit-manis-getir).
Diubahnya rasa menjadi karsa.
Tak penting perihal dirinya,
asalkan "bahagianya adalah bahagiaku".

Linimasanya tak pernah absen.
selalu direpotkan,
selalu dirempongkan,
tapi justru ini sumber bahagianya.

Maka tidak ada alasan baginya untuk tidak bahagia.

Dialah Ibu!

***

Hari keempat belas. Masih sibuk menata hati dan menata diri. Rasa bersalah dan khawatir masih sering menghantuiku. Meski aku sudah berusaha untuk berdamai. 

Sendiri bersama anak-anak itu tidaklah mudah. Aku harus menjalankan peran ganda. Peran sebagai ibu sekaligus ayah. Jika dijabarkan tentunya akan panjang lebar. Dari urusan domestik yang printilan hingga memastikan anak-anak tumbuh dan berkembang dengan baik.

Sering kupandangi anak-anak saat mereka tidur. Wajah sholeh dan sholehah nan polos. Kucium keningnya dan kuusap kepalanya satu persatu sambil kupanjatkan doa. 

Mengawal tumbuh kembang mereka yang kulakukan dengan "sembari", sering menuai rasa bersalahku. Ku biarkan mereka bermain sendiri sembari memasak, sembari mencuci baju, sembari menyetrika dan sembari beres-beres. Ragaku ada disisi mereka tapi hatiku pada pekerjaan rumah yang menumpuk. Padahal ketika aku masih berdinas dulu, ketika sampai rumah ya main sama anak-anak. Pekerjaan rumah sudah ada Mak Darmi yang handle. Rasanya ini seperti tidak bersyukur. Astaghfirulloh... 

Ingin hati menemani mereka bermain dengan tenang tanpa diganggu pekerjaan rumah. Membuatkan mereka mainan-mainan edukatif dan membimbingnya. Membacakannya cerita-cerita syarat makna dan memberinya pesan moral. 

Ingin hati... 

Seharusnya aku bisa!
Ok, mungkin saat ini belum optimal. Tapi aku akan usahakan. Belajar mengatur waktu lebih baik. Kembali menata hati dan menata diri lebih rapi. 

Ok, mulai besok!

Bismillah...

***

Kupasrahkan segala kekhawatiranku pada-Mu agar persangkaanku senantiasa baik. Kujabarkan ia dalam pinta - doa pada-Mu. Kuperbaiki ibadahku dengan maksud bisa semakin dekat dengan-Mu. Semoga Engkau membalasnya dengan cinta padaku dan keluargaku. Dan cinta-Mu yang akan menjaga kami selamat di dunia dan akhirat. Amin.

***

Tak sabar menunggu enam belas hari lagi. Hari kepulangan suamiku tercinta ke rumah ini. 



Birobuli Utara, 27 Februari 2019


Tuesday, 26 February 2019

Hi Diary Part IX


Balada Emak Rempong

Dari pertama bertemu, nampaknya dia baik, ramah, dan tulus. Tapi aku lebih memilih diam dan hanya perbincangan sebatas peran saja. Entah pertemuan yang keberapa barulah kami membuka obrolan lebih dalam. Bukan aku yang mulai tapi dia. 

Kina Laila namanya. Dia sering melayaniku saat aku membeli sayur matang di pelataran Pusat Oleh-Oleh Raja. Sekitar tiga atau empat hari lalu dia membuka obrolan dengan bahasa Jawa. Sambil melayani pesananku, obrolan berlanjut lebih dalam. Dia memperkenalkan diri terlebih dahulu. Karena ramainya pembeli, obrolan kami terputus dan menyambung saat aku kembali membeli sayur disini keesokan harinya.

Bagi perantau tanpa sanak saudara sepertiku, bertemu orang satu daerah asal  itu seperti bertemu saudara. Jadilah kami terlihat heboh saat bertemu. Sapaannya selalu renyah dan orangnya ceria. Ini dia yang khas dari Mbak Kina. 

Hari ini aku baru tahu kalau Mbak Kina betul-betul ingin berteman denganku. Tentu saja dia meminta akun sosmed-ku (sosial media). Obrolan kami kembali terputus karena antrian pembeli. 

Meski obrolan singkat-singkat begitu, tapi aku merasa senang. 

Mbak Kina ini seorang single parent dengan satu anak. Dan alasan ekonomi yang mendorongnya merantau jauh ke sini. Kabarnya tidak lama lagi dia akan pulang kampung memenuhi permintaan anaknya yang tidak mau pisah jauh dengan ibunya. Mungkin hanya sampai akhir Februari saja.

Tidak kusangka dia menyimpan cerita pahit. Garis santun dan ceria pada raut mukanya menyamarkan sedih, gelisah, dan kekhawatiran yang dirasakannya. 

Ya!
Seorang ibu, hati dan pikirannya tidak bisa jauh dari anak. Meski raga terpisah jarak dan kondisi keluarga tak lagi utuh, ibu tetaplah pejuang bagi keluarganya, bagi anak-anaknya. Dialah sosok yang sangat pandai menyembunyikan rasa dengan karsa. Maka, bersyukurlah atas predikat ibu yang Alloh sematkan pada kita. Linimasa-nya tak pernah kosong. Ia selalu sibuk. Ia selalu direpotkan. Ia selalu rempong. Dan Ia adalah pahlawan bagi keluarganya. 

Dan bagiku, kisah Kina Laila cukup memantik rasa syukurku dan semangatku untuk lebih baik menjalankan peranku sebagai ibu. 

Birobuli Utara, 26 Februari 2019.

Monday, 25 February 2019

Hi Diary Part VIII

Balada Emak Rempong


Pagi...
Wangimu menggugah rasaku,
menghimpun ragaku,
dan memantik semangatku.

dengan segala rasa syukur,
bahagia,
dan sekuntum bahasa positif dalam diriku,
kusambut hadirmu dalam membuka lembaran hari dan mengawali sirkadian waktu.

Kan kumulakan dengan menyebut nama-Nya, agar runtutan waktu kujalani dengan lancar.

Aku tak menyukai dia datang dan mengganggu hidupku. Mengacaukan segala rencanaku hari ini. Aku harus membuatnya enyah dari diriku sekarang juga!

Ini seperti virus yang bila kubiarkan dia datang dan menyerang, maka dia akan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Seperti sel kanker, jika tidak dijinakkan maka akan bermetastase. 

Ya, malas!
Aku benci saat malas menyerangku. 

Seperti pagi ini saat aku harus segera bangun menghadapi rutinitas pagi, menyiapkan kebutuhan anak-anak. Kasur yang empuk dan selimut yang hangat begitu menggodaku. Benar saja, setelah kutunaikan sholat subuh, masih dengan mukena lengkap, aku kembali membaringkan tubuhku di sajadah. Kantuk mengalahkanku. Tidak sampai sepuluh menit, aku segera bangun. Rasa bersalah memanggilku. Apa jadinya jika kuturuti rasa kantukku dan ketiduran hingga lewat waktu? Astaghfirulloh....

Kulipat sajadah dan mukena yang kukenakan lalu segera menuju dapur. Kutetapkan prioritas sebelum kupegang semua pekerjaan. Sungguh! Setelah melihat pekerjaan pagi yang menumpuk dan kutetapkan prioritas, rasa malasku tergantikan dengan semangat yang mengepal. Seperti auto motivasi! Aku tertantang untuk segera menyelesaikan semua rutinitas pagiku sebelum anak-anak terbangun. Bagaimana tidak kembali semangat jika tertantang seperti ini?

Maka tidak ada alasan untuk meladeni rasa malas bagi emak-emak sepertiku. Kalau tidak selesai segera kapan lagi, kalau anak-anak sudah terbangun makin rempong, kalau bukan aku siapa lagi. Statement seperti itu cukup memantik semangatku.

Meski sendiri dengan anak-anak sementara menunggu suami pulang dinas luar kota, bukan berarti tidak bisa menikmati jalan-jalan santai, jalan-jalan pagi atau jalan-jalan sore. Menikmati udara segar, berkendara dengan kecepatan rendah, menikmati kesibukan kota dan membeli makanan ringan yang kami sukai wajib dilakukan meski tidak ada suami. Ini adalah bentuk refreshing kecil-kecilan kami. Meski sedikit rempong mengendarai roda dua sambil menggendong dan membonceng kakak di depan, tapi ini sangat amat membahagiakan. Tapi tidak selalu repot membawa kakak dan adek. Bisa juga saat kakak masih bersekolah, hanya aku dan adek saja yang jalan-jalan.

Seperti pagi ini. Sepulang mengantar kakak ke sekolah, aku dan adek berkeliling kota dengan motor kesayangan kami. Tidak jauh-jauh kok. Seputar jalan Garuda, jalan Cendrawasih, dan Lapangan Vatulemo sembari berbelanja di warung sayur. Tidak terasa ini menghabiskan waktu hingga satu jam. Tapi sungguh ini pemantik semangatku selanjutnya. Hatiku merasa bahagia.

Sesampai di rumah, senyumku sudah ringan dan bersiap memasak ikan katombo kuah asam kesukaan Kakak. 

Sungguh banyak keajaiban yang hadir ketika hati merasa bahagia. Maka emak, jangan lupa bahagia. 

Birobuli Utara, 25 Februari 2019

Sunday, 24 February 2019

Hi Diary Part VII


Balada Emak Rempong

Hampir-hampir saja aku meleleh dibuatnya. Tiba-tiba kakak berteriak memanggilku yang sedang berjibaku dengan cucian kotor di kamar mandi. Hatiku berdesir. Masih teringat saat kemarin kakak mengompol dan mengotori lantai, kasur, tikar dan beberapa mainan. Dan artinya apa? Pekerjaanku akan bertambah. Padahal yang didepan mata saja belum kuselesaikan. 

Sesibuk apapun aku, urusan cucian harus sempurna. Memiliki anak-anak balita yang masih dalam masa toilet training itu sesuatu. Jadi terbayang kan betapa menumpuk dan kotornya baju-baju yang akan dicuci. Meski ada mesin cuci, bagiku tidak lantas hanya menekan tombol dan menunggu siap jemur. Ada satu ritual wajib sebelum baju kotor ini masuk ke tabung pintar yaitu mengucek dahulu dibawah air mengalir hingga bersih. Ini tujuannya untuk menghilangkan najis dahulu. Setelah hilang najis (wujud, warna, dan bau) bersama air mengalir, barulah aku masukkan ke si tabung pintar. Terlihat sangat merepotkan ya. Tapi wajib dilakukan agar baju-baju ini tidak hanya bersih tetapi juga suci. 

***

Ternyata dugaanku salah. Kakak bukannya mengompol seperti kemarin tetapi memberiku kejutan yang disebutnya "hadiah". So sweet sekali ya kakak ini. Apakah hadiahnya? Potongan kardus yang digulung dan dalamnya berisi sisir warna biru tua. "Itu apa kakak?", tanyaku meski aku tahu itu apa tapi pasti imajinasinya akan berbeda. "Ini hadiah untuk bunda yang hebat bersihin itu, cuci-cuci itu. Ini foto kakak sama bunda sama ayah dan adek", jawabnya sambil membuka gulungan sepotong kardus itu dan menunjuk-tunjuk kardus itu sesuai dengan imajinasinya. "Oh, terima kasih Kakak... pintar sekali kasih bunda hadiah... ", ucapku menanggapi perhatian kakak padaku. 

Hal-hal kecil seperti itu yang membuat hatiku kadang meleleh. Itu bentuk perhatian yang jujur dari hati seorang anak untuk orang tuanya. Ini yang membuat semangatku up lagi, bangkit lagi. Segala lelah-penat seolah hilang dan senyumku mekar kembali. Makin sayang sama anak-anak. 

Meski tingkah mereka kadang membuatku sedikit kesal (berebut mainan, jahil sama adek, bertengkar, teriak-teriak, berantakin seisi rumah, main air dan basah kemana-mana, fyuh, lengkapnya... kusebutkan semua) tapi aku harus sadar mereka adalah anak-anak yang memiliki fitrahnya sendiri. Tugas kitalah sebagai orang tua menunjukkan sikap yang baik menghadapi tingkah polah mereka. Ini kelak akan menjadi contoh bagi mereka bagaimana bersikap menghadapi setiap situasi. Apakah dengan sabar atau emosi (marah-marah). 



Birobuli Utara, 24 Februari 2019

Saturday, 23 February 2019

Hi Diary Part VI

Balada Emak Rempong

Kesal rasanya jika kita dibuat kecewa oleh salah satu hal saja yang kita sangat tergantung dengannya. Tahu bagaimana kesalnya? Bayangkan seperti gunung berapi aktif dengan status 'awas' dan berada di dalam dada kita. Rasa keselnya itu bergemuruh. Kenapa? Karena aku sudah sangat tergantung sehingga semua pekerjaanku terganggu. Benar-benar terganggu.

Mati lampu!
Berawal saat aku menghadiri kelas parenting yang diadakan oleh sekolah anakku, sekitar pukul 08.30 WITA. Narasumber berbicara tanpa pengeras suara dan harus bersaing dengan bisingnya anak TK (taman kanak-kanak) dan KB (kelompok bermain) yang memang wajib diajak pada hari itu. Terbayang kan bagaimana situasinya, sangat tidak kondusif. Sekitar lima belas menit acara, pengeras suara sudah siap dengan pembangkit (generator set). Namun ternyata pengeras suaranya tidak berfungsi dengan baik sehingga pembicara kembali tidak menggunakan mikrofon. Astaghfirulloh, kesal pertama dimulai. Padahal sudah niat sekali datang ke acara ini dan ingin merangkumnya dalam catatan kecil. Apa boleh buat, ku catat saja apa yang bisa ku dengar.

Menjelang dzuhur acara parenting selesai, kami pun pulang dengan segala kerempongan. Menggendong adek dibagian depan, ransel yang isinya segala rupa amunisi kakak dan adek kuletakkan di punggung, tangan kanan menggandeng kakak dan tangan kiri menenteng bingkisan dari acara parenting untuk anakku yang isinya buku gambar, pensil warna, dan kertas lipat. Bagaimana?
Kami menggunakan kendaraan roda dua yang kukendarai sendiri. Karena menggunakan matic, jadi desain depan bisa digunakan untuk kakak berdiri. Tentetengan kuletakkan di gantungan motor yang ada dibagian bawah, dekat lutut kakak. Posisi ransel tetap dan gendongan agak ku arahkan ke samping kiri agar kakak bisa berdiri dengan nyaman.

Motor kuarahkan ke jalan raya Jalur Dua karena ada yang akan aku beli sekalian jalan pulang. Tidak biasanya jalanan macet. Motor yang kukendarai masih bisa selap-selip diantara kendaraan roda empat. Usut punya usut ternyata traffic light-nya mati. Astaghfirullah, aku baru teringat, mati lampu!. Jadi, tidak ada yang mengatur arus kendaraan di perempatan jalan.

Sesampai dirumah, aku teringat belum memasak nasi untuk kami makan siang. Dan, astaghfirulloh...
Mati lampu! Kekesalan kedua.
Aku masih berkhusnudzon lampu menyala tidak lama lagi. Tiga puluh menit ditunggu, lampu tidak kunjung menyala. Ku putuskan untuk makan sisa snack dan cemilan yang ada di kulkas dahulu sambil menunggu lampu menyala. Ternyata tidak kunjung menyala juga dan anak-anak sudah mulai mengantuk. Kuajaklah mereka masuk kamar dan kumotivasi untuk tidur. Membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat mereka benar-benar tidur.

Listrik mati, AC-pun tidak menyala. Kekesalanku yang ketiga. Panas dan gerah membuat mereka tidak nyaman. Memang kota ini terkenal dengan matahari yang panas dan terik. Maklum, kota mutiara khatulistiwa.

Setelah mereka tertidur, kugunakan waktu untuk beberes dan menyiapkan tulisan harianku untuk tantangan menulis yang aku ikuti. Kuambil handphone, ternyata baterai sudah merah.
Astaghfirulloh...
Kekesalanku yang keempat. Aku sangat geram untuk kali ini.

Kutenangkan diri, tarik napas panjang dan mulai berpikir apa yang bisa kulakukan.

Baik, mungkin aku membuat tulisan harian dulu dengan handphone yang kusetting hemat daya. Bismillah... dan menulis kumulai. Baru dapat satu paragraf, kakak sudah bangun dan tidak sampai sepuluh menit, menyusul adek. Ini karena panas dan gerah membuat tidur mereka tidak pules.

Baiklah...

Aktifitas menulisku kuhentikan dan beralih bermain bersama mereka hingga saat adek pupup menghentikan acara bermain kami. Kubawa adek ke kamar mandi yang ternyata diikuti oleh kakak dan bilang mau ikut mandi. Kuacungi jempol untuk kakak. "Bunda, tapi mandinya sambil bawa mainan ya?", kata kakak. Aku mengiyakan. Adzan Asyar belum berkumandang, itu artinya hari masih siang. Biarlah anak-anak mainan air dulu karena memang hawa terasa sangat panas siang ini. Mungkin dengan main air membuat mereka nyaman dan segar.

Adek asyik main air di kamar mandi dan kakak asyik bolak-balik kamar mandi sambil memilih mainan yang akan dibawa main air. Tiba-tiba aku terkaget dengan teriakan kakak yang memanggilku. Kuhampiri kakak, dan astaghfirulloh... kakak ngompol di celana dan mengotori lantai, tikar, kasur dan beberapa mainan. Emosiku sedikit terpancing. Segera kuambil kain, kusapkan dikaki kakak dan sekitar lantai yang basah. Kugendong kakak menuju kamar mandi untuk segera kumandikan. Kutarik kasur dan tikar satu persatu menuju jemuran belakang untuk kubersihkan. Begitu juga mainan-mainan yang terkena kotor tadi. Kuguyur lantai dengan air mengalir, kuarahkan air keluar ruangan dan segera kukeringkan lantai dengan kain kering. Sering-sering kuintip kakak dan adek yang sedang bermain di kamar mandi sembari membersihkan lantai. Entah intipan keberapa, kulihat adek sedang obok-obok lubang closet. Spontan aku teriak dan segera kutinggalkan pekerjaanku untuk mebersihkan adek dengan sabun anti kuman. Kuarahkan adek untuk main di luar kamar mandi saja sementara itu kulanjutkan pekerjaanku mengepel lantai hingga sedikit kering. Bila lantai masih terlalu basah akan membahayakan adek dan kakak. Bisa terpeleset.

Melihat segala kesibukanku, kulihat wajah kakak merasa bersalah.

Kesibukan ini berakhir hingga aku sholat asyar. Kami semua belum ada yang makan siang. Ku putuskan untuk membeli nasi di warung terdekat yang jaraknya bisa satu kilometer lebih. Kami bersiap. Eh, alhamdulillah lampu menyala. Segera aku lari kedapur menyiapkan beras untuk dimasak dan tidak lupa charge handphone yang baterainya sudah sekarat Kunyalakan televisi pintar untuk memutar video anak-anak koleksi kami. Ini agar kakak dan adek sedikit tenang. Mungkin tidak sampai tiga puluh menit, listrik kembali padam. Waktu sudah larut sore. Jika aku jadi keluar dan membawa anak-anak, pasti sampai rumah sudah lewat maghrib. Akhirnya aku urungkan. Kuputuskan untuk memasak lauk saja sabil menunggu listrik menyala.

Hingga maghrib. Lampu menyala kembali. Segera kuambil air wudhu, kunyalakan pompa air untuk mengisi tandon air, lanjut masak nasi, dan segera sholat.

Segera kusuapi kakak makan malam dan siang yang tertunda. Setelah selesai kakak makan, baru aku tenang untuk makan. Kakak dan adek terlihat sudah tidak mood main dan rewel. Mungkin mengantuk karena tidak cukup tidur siang. Sengaja kutunggu hingga masuk waktu Isya dan kutunaikan sholat dahulu sebelum menemani mereka tidur.

Bagaimana dengan tantangan menulisku? Belum bisa kuselesaikan lagi. Menunggu mereka tertidur. Rencana aku akan bangun sebelum waktu deadline tiba yang ternyata sudah lewat waktunya saat aku terbangun. Sedih...
Apa boleh buat. Mungkin aku terlalu capek dan membutuhkan istirahat.

Pasrah...

Niatnya, kususulkan saja tulisanku untuk dikumpulkan. Tujuannya adalah konsistensi. Aku sudah mencoba untuk konsisten menulis dari awal. Dan situasi seperti ini tidak pernah terprediksi.

Dalam menghadapi situasi yang sangat rempong seperti ini kesel dan stess wajar. Tapi harus segera move on dan lakukan dulu apa yang bisa dilakukan. Hadirkan hati yang lapang mengingat hanya aku di rumah ini yang mereka (anak-anakku) punya untuk mereka bergantung.

Birobuli Utara, 24 Februari 2019.

Friday, 22 February 2019

Hi Diary Part V

Menanti dalam Gemuruh Rindu


Matahari menanti pagi untuk terbit dan bersinar,
menanti siang untuk terik,
dan menanti sore untuk terbenam.

Hujan, menanti awan berkumul hingga jenuh untuk kemudian menjadi titik-titik air yang turun membasahi bumi.

Pohon, menanti bunga untuk berbuah.

Ombak di lautan menanti angin yang menggiringnya ke pantai.

Kehidupan sejatinya adalah penantian.
Dan bagi manusia, penantian akan menyimpan gemuruh rindu.

Palu-Tolitoli, kutitip gemuruh rindu dalam menantimu disini.
....


Hari ini adalah tanggal lahir suamiku. Tiga puluh tiga tahun yang lalu. Ada senyum lega menyaksikan suara tangis lengking malaikat kecil di sebuah wisma bersalin. 
Tiga puluh tiga tahun yang lalu. Dan kini malaikat kecil itu menjelma menjadi pangeran yang Alloh takdirkan bersanding disisiku, Alloh halalkan dirinya untukku, menjadi imamku, menuntunku menuju syurga-Mu. 

Hari lahir adalah istimewa bagiku. Meski memperingati hari lahir bukanlah ajaran kami. Namun ada memori yang mencakup perjuangan dan harapan yang mengalirkan gemuruh doa tiada henti. Mengingat hari lahir tidaklah salah tetapi yang tidak sesuai adalah merayakannya dengan segala kemubadziran sehingga tidak membawa manfaat pada berkurangnya jatah usia dan mengingat kematian. Mengingat hari lahir sejatinya adalah mengingat akhir hayat. Akan seperti apa kita menutup usia kita.

Mengingat hari lahir orang terkasih menurutku adalah sebuah bentuk perhatian. Karena hari lahir adalah titik balik setiap manusia. 
Hari lahir adalah awal perjuangan menjalani hidup di dunia dan pertama kalinya kita bernapas dimana napas adalah identik dengan kehidupan.
Dan saat tali pusat antara plasenta dan janin dipotong, itulah awal kemandirian sang janin...
Belajar menyusu dengan hisapan yang benar, 
Kemudian menyusul proses belajar lainnya seiring perjalanan kehidupan.

Mengingat hari lahir bukan merayakan hari lahir. 

Mengirimkan ucapan atau tulisan refleksi dalam bentuk apapun bisa jadi pilihan sehingga saling mengingatkan dalam muhasabah diri. 

Semua waktu yang kita habiskan dalam perjalanan kehidupan itu dihitung dalam bilangan usia. Maka, mengingat hari lahir adalah menghitung mundur usia. Dimana bilangan usia setiap diri sudah ditetapkan jumlah maksimalnya oleh Alloh saat mengutus malaikat meniupkan ruh ke janin dibulan keempat kehamilan. Wallohualam bishawab.

Lalu apa yang kami (aku dan anak-anak) lakukan sebagai bentuk mengingat hari lahir untuk ayah anak-anak? 
Karena kami berjauhan, kami memilih membuat kartu ucapan elektronik dan membuat video lucu tingkah kami sebagai bentuk perhatian dan salam rindu dari kami.

Birobuli Utara, 22 Februari 2019.

Thursday, 21 February 2019

Hi Diary Part IV


Hari kedelapan menjadi single fighter di rumah ini. 

Pagi ini, selepas sholat subuh, kusempatkan untuk menikmati sesruput coklat hangat. Subhanalloh, nikmat sekali. Dan, tidak lupa untuk bersyukur dan mengawali hari dengan bahagia. 
Kulihat jam dinding, sudah menujuk 5.45 WITA. Kuurungkan untuk menyentuh musaf melihat dapur masih berantakan, belum menyiapkan sarapan, sampah belum dibereskan, motor belum dikeluarkan, dan teras belum disapu. Ku-azzamkan untuk mengejar target tilawah disiang hari atau selepas maghrib. 

Rutinitas pagi, biasa...
Lalu apa yang luar biasa? Rasa hati atau suasana hati saat menjalani rutinitas itu sendiri. Bahagia, gembira, sedih, marah, apalagi ya... Menurutku ini yang membedakan setiap hari kita. 

Pagi ini adek bangun lebih dulu dibanding kakak. Kubiarkan mainan sendiri dulu. Aku pilih memandikan kakak terlebih dahulu. Berharap hari ini bisa berangkat tepat waktu. Tapi, tidak juga kupaksakan ke kakak. Hanya kutargetkan sendiri dalam hati mengingat kakak masih kelas kelompok bermain (KB). Jadi yang penting fun. Setelah mandi dan sarapan, bersiap untuk berangkat. Bagaimana denganku? Aku belum sarapan, yang penting sudah mandi dan rapi. Sepulang mengantar, biasanya bila aku tidak memasak, aku memilih membeli sayur matang untuk makan siang. Kesukaan kakak adalah sayur bening bayam dan sop kacang merah. Lahap sekali kalau makan sama menu itu. Setelah lengkap berbelanja lalu pulang dan tidak lupa untuk charge energi dulu alias sarapan. Jangan lupa yang satu ini. Makan. Sesibuk apapun, makan wajib buat ibu-ibu single fighter agar tetap sehat demi anak-anak. Jangan lupa suplemen susu atau madu atau suplemen vitamin yang lain sebagai penambah imun boster. 

Menemani adek main sambil urus-urus cucian hingga adek terlihat lelah dan menemaninya tidur. Tiba-tiba teringat keinginan kakak yang diutarakannya saat telepon dengan ayahnya semalam. Kakak ingin pizza beneran karena punyanya pizza mainan. Seminggu yang lalu disebutkan juga keinginan itu ke ayah dan ayah pesan untuk dibelikan saja. Aku beranikan keluar membeli pizza sekalian menjemput kakak. Dan adek, ditinggal dulu karena kuperhatikan pulas sekali tidurnya. Benar saja saat kami pulang, adek masih tidur tenang dan terbangun mendengar suara kakak. Alhamdulillah... 

Rutinitas siang, seperti biasa... 
Karena target tilawahku belum tercapai, selepas sholat dzuhur kuusahakan untuk tilawah sembari mengawasi anak-anak main hingga terlihat mengantuk. Saat anak tidur, inilah saat aku beristirahat. Barang 30 hingga 60 menit, lumayan untuk charge energi. Jika energi sudah ter-charge semangat juga ikut kembali. Biasanya kugunakan waktu ini untuk menyetrika baju. Tapi, hari ini aku ikut tertidur hingga larut sore. Bangun, kaget. Tapi, tidak lupa kuucap syukur atas nikmat hari ini. Aku bisa beristirahat lebih lama. Kusegerakan menuju rutinitas sore...
Memandikan, membereskan mainan anak-anak, menyapu teras dan rumah, cuci piring, memasukkan motor, mengunci pintu lengkap, dan menyiapkan cemilan anak-anak. Lengkap sudah. Adzan maghrib berkumandang, bersiap sholat dan membimbing kakak hafalan surat pendek dan belajar huruf hijaiyah. Peer-ku membaca surat Al-Kahfi. Hari ini sudah masuk hari Jumat yaitu ketika matahari hari Kamis sudah terbenam. 

Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, niscaya akan memancar cahaya terang yang menyinari dirinya di antara kedua Jum’at”. (HR. Al Hakim (2/399), Al Baihaqi (3/249).

Jadi, sesibuk apapun, kita sebagai seorang ibu harus memiliki waktu untuk memperhatikan diri sendiri, beraktualisasi dan memperhatikan kebutuhan jasmani maupun ruhani. 

Wednesday, 20 February 2019

Hi Diary Part III


Hari ini hari ketujuh sejak keberangkatan suamiku dalam perjalanan dinas ke Tolitoli. Berarti sudah satu minggu. Minggu awal ini terasa sedikit berat karena mungkin masa adaptasi. Jujur, seminggu awal ini kulewati dengan segala kekhawatiran setiap saat. Banyak yang aku takutkan. Istighfar berkali-kali saat kutulis ini. Astaghfirulloh... 
Iya, aku khawatir jika kemungkinan terjadi seperti yang lalu... belum lagi info ada tiga tetangga yang rumahnya kemalingan dalam waktu yang berdekatan. Setiap akan berangkat tidur dimalam hari, dada rasanya dagdigdug

Ya, hari ini aku puasa. Puasa apa? Sehari puasa dan sehari tidak. Ini ada dasar hadistnya dan semoga Alloh terima amalanku ini sebagai salah satu amalan pemberat kebaikan, amin. Sudah ku utarakan keinginanku ini ke suami sebelum berangkat kemarin. Meski tak kuutarakan alasanku mengapa, tapi tanggapan suami positif dan kelihatannya suamiku mengerti. 

Seabrek kekhawatiran sudah ku prediksi sebelumnya. Dan saat dijalani ya memang begitulah rasanya. Tapi subhanalloh sekali, rasa khawatir inilah yang bisa membuatku semakin mendekatkan diri dan memperbaiki amalan. 

Bagaimana dengan kerepotanku hari ini? Tidak lupa, kubuka hari dengan membaca Al Qur'an dan kutetapkan targetku minimal satu juz dalam sehari. Kubiarkan adek dan kakak bangun sedikit siang karena terlambat berangkat tidur semalam. Jam 6.45. Adek bangun lebih dulu dan langsung ku mandikan. Kakak, menyusul setelahnya. Tugas selanjutnya memotivasi kakak untuk sarapan. Alhamdulillah, porsi yang kusediakan habis. Bagaimana dengan makan adek? Adek memang susah sekali makan sejak usia satu tahunan. Jadi, hanya minta susu saja selainnya sesukanya. Bila disuapi, mulutnya dikunci sambil geleng-geleng (pinter sekali) dan bila dipaksa ujung-ujungnya muntah dan keluarlah semua isi yang sudah dimakannya. Akhirnya, bunda suguhi saja cemilan yang berat seperti cake, corn flakes, telor orak-arik, biskuit, dan sambil tetap dimotivasi makan sambil menyuapi kakak. 

Saat semua sudah siap berangkat mengantar kakak, ternyata adek pupup dan belum selesai. Pasti, yang kayak gini ini dialami semua ibu. Ya, daripada tidak berangkat-berangkat mengingat sudah terlambat tiga puluh menit dan jarak rumah ke sekolah kurang dari satu kilometer. Jadi aku bawa saja adek. Yang ternyata pas sampai rumah lagi, sudah kena baju bunda dan gendongan. Cuci-cucilah semuanya dan sedikit membiarkan adek main air sambil menunggu bunda mencuci dan membilas najis. 

Nah, tentang satu hal ini (najis) sebagai ibu dengan anak balita harus paham agar ibadah kita juga sempurna tanpa dikotori najis. Dari mulai baju, lantai, atau mainan anak-anak (yang diduduki) seperti mobil-mobilan yang mungkin ikut terkena najis. Sampai sedetil itu. Iya, maka bagiku se-repot apapun, mencuci baju anak sendiri adalah penting alih-alih menggunakan jasa laundry. Jadi, repotnya tambah? Tapi nikmat... 

Setelah capek main air, adek kumandikan dan kubiarkan minum susu sambil menonton video islami koleksi kami. Tidak butuh waktu lama hingga tertidur. Waktunya aku leyeh-leyeh menunggu jadwal jemput kakak.

Tuesday, 19 February 2019

Hi Diary Part II

Hari ini, hari keenam sejak keberangkatan suami dinas ke Tolitoli. Enam hari sudah, meng-handle semuanya sendiri. Rutinitas urusan rumah dan mengurus dua balita. Kakak sudah 3 tahun 4 bulan usianya dan adek 1 tahun 4 bulan.

Urusan rumah, sudah pasti ketemu terus dan tidak ada selesainya. Menyapu, mengepel, memasak, cuci piring, cuci baju dan setrika. Hari ini ketemu, nanti ketemu dan besok ketemu lagi. Jadi, bagiku untuk urusan yang satu ini tidak perlu dipusingkan dan dibikin stress. Eits, tapi ini urusan wajib untuk diselesaikan. Setuju tidak?

Lalu, bagaimana dengan mengurus dua balita sendirian sedangkan urusan rumah saja sudah seabrek? Fyuh, kalau mau dikeluhkan, banyak saja yang bisa kukeluhkan. Tapi, aku memilih untuk tarik napas dalam, tatap apa yang sedang bikin aku capek-kesel-pengin marah, lalu senyumin and take action aja... Misal, pas sedang cuci piring, adek dan kakak bertengkar. Lihatin dulu, lalu tarik napas dalam dan lakukan sesuatu seperti tanyakan penyebabnya, kasih pengertian, dan soluainya apa (bisa kasih mainan pengganti buat adek dan kasih mainan yang diperebutkan ke kakak). Kalau aku, ini manjur meredam pertengkaran adek-kakak dan yang pasti meredam emosiku.

By the way, pagi tadi aku ditelpon sama bapak, akungnya anak-anak. Perbincangan seputar kabar dan apa yang sedang dilakukan. Satu pertanyaan yang terngiang, "Kowe dikancani sopo? Lah, nek dewekan yo repot banget?" (Kamu ditemenin siapa? Kalau sendirian pasti repot sekali). Kenapa kepikiran sama pertanyaan ini? Ya, ini lebih pada kekhawatiran orang tua sama anaknya. Bukan sebuah keraguan akan kemampuan. Lalu, apa jawabanku? "Ora lah, ora repot. Kan kakak dah pinter sekarang, adek juga temuo". (Tidak, tidak repot. Kakak sudah pinter dan adek sudah mandiri). Honestly, aku repot. Bagaimana tidak? Dua balita ini masih sangat tergantung denganku. Mandi, pakai baju, minum susu, makan, segala rupa urusan toileting, tidur siang dan tidur malam yang masih harus ditemenin, belum lagi urusan sibling ditambah antar jemput kakak ke kelompok bermain yang masuk jam 7.30 WITA dan dijemput pukul 11.00 WITA. Wow banget bukan?

Awal-awal, emosiku sering terpancing jika kakak dan adek berteriak-teriak, bertengkar atau menangis. Tapi, lama-lama sudah mulai dapat celahnya dan sudah mulai agak santai. Apa ini yang namanya 'menikmati'?.

Entahlah...

Aku hanya menjalani saja. Hal-hal baik aku perjuangkan untuk bisa diterapkan dalam menjalani peranku dan hal-hal buruk aku perjuangkan untuk di-eliminasi. Dan, apakah ini yang namanya belajar?. Iya, mungkin?. Karena belajar adalah sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak paham menjadi paham. Berarti aku sedang belajar menjadi ibu rumah tangga. Sayangnya, ilmu menjadi ibu rumah tangga ini tidak pernah ada dikurikulum jenjang pendidikan manapun.

Kembali pada kata 'repot' yang sejujurnya aku rasakan. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mengatasi 'repot' itu sendiri. Itu dia.

Repot itu seperti apa sih? Repot, riweh, rempong, ya seperti itulah pokoknya. Suatu pekerjaan yang banyak dan dibutuhkan penyelesaian dalam satu waktu yang hampir bersamaan. Ya, itu sih definisi menurutku. Jadi, apa yang harus dilakukan? Menurutku, selesaikan satu-satu dengan hati yang tenang. Berarti harus punya prioritas dong, mana yang harus diselesaikan pertama, kedua dan seterusnya.
Begitu...

Birobuli Utara, 19 Februari 2019

Monday, 18 February 2019

Hi Diary, Part I


Bismillah...

Kuawali dengan menyebut nama-Nya agar proses belajar ini membawaku dalam jalan keberkahan. Amin...

Hi Diary Part I

Tepat lima hari aku sendiri, dirumah rantau ini, bersama anak-anakku yang masih balita. Rabu kemarin suamiku berangkat dinas ke Tolitoli, sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah yang merupakan daerah kerja suamiku. Menghitung hari disini hingga tigapuluh hari kedepan. 

Disini, di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Sebuah kota yang begitu tenar oleh karena dilanda bencana dengan tiga jenis bencana sekaligus dalam satu waktu. Astaghfirulloh, semoga engkau jaga kami sekeluarga disini di bumi mutiara katulistiwa. 

Aku memilih bertahan disini hingga sumiku selesai tugas bukan tanpa alasan. 

Pertama, menjadi seorang ibu yang dikaruniai buah hati adalah keinginanku sejak lama. Ikhtiar tiga tahun lamanya dan Sang Kholik baru menjawabnya. Syukur alhamdulillah, akhirnya aku bisa memiliki buah hati dengan persalinan normal. Dan, karena riwayat lama menunggu momongan, kami berkeputusan untuk menyegerakannya dengan jarak dua tahun. Subhanalloh, Alloh ijabah keinginan kami.

Kedua, menjadi fulltime mom adalah keinginanku sejak lama dan masih kuperjuangkan. Ini mengingat aku adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dan orang tua kami (juga mertuaku) tidak meridhoi jika aku resign. 

Ketiga, ada celah kemudahan yang Alloh suguhkan untuk mewujudkan dua poin diatas. Suamiku dimutasi dari kantor Pusat ke Palu, Sulawesi Tengah. Ini adalah mutasi bergilir rutin yang tidak dapat dihindari. Suamiku berharap aku bisa mengikutinya bersama kedua anak kami. Subhanalloh, kami diberi kemudahan untuk Cuti Luar Tanggungan Negara (CLTN). Salah satu jenis cuti yang diajukan dengan alasan beberapa poin dan diputuskan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN). Bukan kementrian terkait. Dapat dibayangkan betapa panjangnya proses expedisi dokumen hingga ke BKN dan turun lagi ke kementrian dan satuan tugas terkait. Ini bisa disetujui atau bahkan tidak disetujui. Dan, jawabannya akan diketahui jika dokumen jawaban dari BKN sudah sampai ke satuan tugas terkait. Kami hanya berkhusnudzon saja. Kami yakin insyaalloh Alloh mudahkan. Karena tujuan kami baik, insyaalloh Alloh beri jalan. Subhanalloh... semuanya Alloh mudahkan hingga persiapan suamiku di Palu selesai dan jawaban BKN sudah turun. 

Tiga hal itu yang membuatku tetap bertahan disini, menunggu tugas suamiku selesai. 

September adalah awal semuanya. Terhitung CLTN, pemutusan total gajiku, dan awal kami menginjakkan kaki di Kota Palu. Tepat tanggal lima September kami tiba di kota Mutiara Katulistiwa. Awal mutasi, suamiku belum ada perjalanan dinas ke daerah. Jadi, kami masih dapat menikmati kebersamaan penuh dan menikmati indahnya Kota Palu. Qodarulloh, duapuluh delapan September menjadi tanggal yang bersejarah bagi kami. Kami menjadi semakin kenal dengan kota ini dan kami juga semakin mengerti apa itu pasrah dengan qada dan qadar Alloh.

Sulitnya kondisi paskabencana membuat kami harus mengambil keputusan untuk ikut evakuasi, mengingat anak-anak masih kecil, adek belum genap satu tahun dan kakak belum genap tiga tahun. Alhamdulillah proses evakuasi berjalan lancar dan kami menunggu masa tanggap bencana di rumah orang tua kami di Kebumen, Jawa Tengah. 

Kurang lebih tiga bulan atau hampir seratus hari kami memantapkan hati untuk akhirnya kembali ke kota ini. Semoga Alloh membersamai langkah keluarga kecil ini untuk bertumbuh dalam takwa kepada-Mu hingga menuai syurga. 

Ya, aku memilih bertahan disini menunggu tugas suamiku selesai. 

Mendidik, mengasuh, melayani sepenuhnya dirumah suami. Menjadi istri yang menjaga rumah suami dan menjadi ibu pembentuk generasi Rabbani. 

Mengingat hanya tiga tahun masa CLTN, aku merasa harus memaksimalkan peranku. Memaksimalkan peran bukan berarti dengan segala target yang kaku. Tetapi lebih kepada menikmati peran. Menjalaninya dengan bahagia. 

Birobuli Utara, 18 Februari 2019.