Hari kedelapan menjadi single fighter di rumah ini.
Pagi ini, selepas sholat subuh, kusempatkan untuk menikmati sesruput coklat hangat. Subhanalloh, nikmat sekali. Dan, tidak lupa untuk bersyukur dan mengawali hari dengan bahagia.
Kulihat jam dinding, sudah menujuk 5.45 WITA. Kuurungkan untuk menyentuh musaf melihat dapur masih berantakan, belum menyiapkan sarapan, sampah belum dibereskan, motor belum dikeluarkan, dan teras belum disapu. Ku-azzamkan untuk mengejar target tilawah disiang hari atau selepas maghrib.
Rutinitas pagi, biasa...
Lalu apa yang luar biasa? Rasa hati atau suasana hati saat menjalani rutinitas itu sendiri. Bahagia, gembira, sedih, marah, apalagi ya... Menurutku ini yang membedakan setiap hari kita.
Pagi ini adek bangun lebih dulu dibanding kakak. Kubiarkan mainan sendiri dulu. Aku pilih memandikan kakak terlebih dahulu. Berharap hari ini bisa berangkat tepat waktu. Tapi, tidak juga kupaksakan ke kakak. Hanya kutargetkan sendiri dalam hati mengingat kakak masih kelas kelompok bermain (KB). Jadi yang penting fun. Setelah mandi dan sarapan, bersiap untuk berangkat. Bagaimana denganku? Aku belum sarapan, yang penting sudah mandi dan rapi. Sepulang mengantar, biasanya bila aku tidak memasak, aku memilih membeli sayur matang untuk makan siang. Kesukaan kakak adalah sayur bening bayam dan sop kacang merah. Lahap sekali kalau makan sama menu itu. Setelah lengkap berbelanja lalu pulang dan tidak lupa untuk charge energi dulu alias sarapan. Jangan lupa yang satu ini. Makan. Sesibuk apapun, makan wajib buat ibu-ibu single fighter agar tetap sehat demi anak-anak. Jangan lupa suplemen susu atau madu atau suplemen vitamin yang lain sebagai penambah imun boster.
Menemani adek main sambil urus-urus cucian hingga adek terlihat lelah dan menemaninya tidur. Tiba-tiba teringat keinginan kakak yang diutarakannya saat telepon dengan ayahnya semalam. Kakak ingin pizza beneran karena punyanya pizza mainan. Seminggu yang lalu disebutkan juga keinginan itu ke ayah dan ayah pesan untuk dibelikan saja. Aku beranikan keluar membeli pizza sekalian menjemput kakak. Dan adek, ditinggal dulu karena kuperhatikan pulas sekali tidurnya. Benar saja saat kami pulang, adek masih tidur tenang dan terbangun mendengar suara kakak. Alhamdulillah...
Rutinitas siang, seperti biasa...
Karena target tilawahku belum tercapai, selepas sholat dzuhur kuusahakan untuk tilawah sembari mengawasi anak-anak main hingga terlihat mengantuk. Saat anak tidur, inilah saat aku beristirahat. Barang 30 hingga 60 menit, lumayan untuk charge energi. Jika energi sudah ter-charge semangat juga ikut kembali. Biasanya kugunakan waktu ini untuk menyetrika baju. Tapi, hari ini aku ikut tertidur hingga larut sore. Bangun, kaget. Tapi, tidak lupa kuucap syukur atas nikmat hari ini. Aku bisa beristirahat lebih lama. Kusegerakan menuju rutinitas sore...
Memandikan, membereskan mainan anak-anak, menyapu teras dan rumah, cuci piring, memasukkan motor, mengunci pintu lengkap, dan menyiapkan cemilan anak-anak. Lengkap sudah. Adzan maghrib berkumandang, bersiap sholat dan membimbing kakak hafalan surat pendek dan belajar huruf hijaiyah. Peer-ku membaca surat Al-Kahfi. Hari ini sudah masuk hari Jumat yaitu ketika matahari hari Kamis sudah terbenam.
Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, niscaya akan memancar cahaya terang yang menyinari dirinya di antara kedua Jum’at”. (HR. Al Hakim (2/399), Al Baihaqi (3/249).
Jadi, sesibuk apapun, kita sebagai seorang ibu harus memiliki waktu untuk memperhatikan diri sendiri, beraktualisasi dan memperhatikan kebutuhan jasmani maupun ruhani.
No comments:
Post a Comment