Wednesday, 20 February 2019

Hi Diary Part III


Hari ini hari ketujuh sejak keberangkatan suamiku dalam perjalanan dinas ke Tolitoli. Berarti sudah satu minggu. Minggu awal ini terasa sedikit berat karena mungkin masa adaptasi. Jujur, seminggu awal ini kulewati dengan segala kekhawatiran setiap saat. Banyak yang aku takutkan. Istighfar berkali-kali saat kutulis ini. Astaghfirulloh... 
Iya, aku khawatir jika kemungkinan terjadi seperti yang lalu... belum lagi info ada tiga tetangga yang rumahnya kemalingan dalam waktu yang berdekatan. Setiap akan berangkat tidur dimalam hari, dada rasanya dagdigdug

Ya, hari ini aku puasa. Puasa apa? Sehari puasa dan sehari tidak. Ini ada dasar hadistnya dan semoga Alloh terima amalanku ini sebagai salah satu amalan pemberat kebaikan, amin. Sudah ku utarakan keinginanku ini ke suami sebelum berangkat kemarin. Meski tak kuutarakan alasanku mengapa, tapi tanggapan suami positif dan kelihatannya suamiku mengerti. 

Seabrek kekhawatiran sudah ku prediksi sebelumnya. Dan saat dijalani ya memang begitulah rasanya. Tapi subhanalloh sekali, rasa khawatir inilah yang bisa membuatku semakin mendekatkan diri dan memperbaiki amalan. 

Bagaimana dengan kerepotanku hari ini? Tidak lupa, kubuka hari dengan membaca Al Qur'an dan kutetapkan targetku minimal satu juz dalam sehari. Kubiarkan adek dan kakak bangun sedikit siang karena terlambat berangkat tidur semalam. Jam 6.45. Adek bangun lebih dulu dan langsung ku mandikan. Kakak, menyusul setelahnya. Tugas selanjutnya memotivasi kakak untuk sarapan. Alhamdulillah, porsi yang kusediakan habis. Bagaimana dengan makan adek? Adek memang susah sekali makan sejak usia satu tahunan. Jadi, hanya minta susu saja selainnya sesukanya. Bila disuapi, mulutnya dikunci sambil geleng-geleng (pinter sekali) dan bila dipaksa ujung-ujungnya muntah dan keluarlah semua isi yang sudah dimakannya. Akhirnya, bunda suguhi saja cemilan yang berat seperti cake, corn flakes, telor orak-arik, biskuit, dan sambil tetap dimotivasi makan sambil menyuapi kakak. 

Saat semua sudah siap berangkat mengantar kakak, ternyata adek pupup dan belum selesai. Pasti, yang kayak gini ini dialami semua ibu. Ya, daripada tidak berangkat-berangkat mengingat sudah terlambat tiga puluh menit dan jarak rumah ke sekolah kurang dari satu kilometer. Jadi aku bawa saja adek. Yang ternyata pas sampai rumah lagi, sudah kena baju bunda dan gendongan. Cuci-cucilah semuanya dan sedikit membiarkan adek main air sambil menunggu bunda mencuci dan membilas najis. 

Nah, tentang satu hal ini (najis) sebagai ibu dengan anak balita harus paham agar ibadah kita juga sempurna tanpa dikotori najis. Dari mulai baju, lantai, atau mainan anak-anak (yang diduduki) seperti mobil-mobilan yang mungkin ikut terkena najis. Sampai sedetil itu. Iya, maka bagiku se-repot apapun, mencuci baju anak sendiri adalah penting alih-alih menggunakan jasa laundry. Jadi, repotnya tambah? Tapi nikmat... 

Setelah capek main air, adek kumandikan dan kubiarkan minum susu sambil menonton video islami koleksi kami. Tidak butuh waktu lama hingga tertidur. Waktunya aku leyeh-leyeh menunggu jadwal jemput kakak.

No comments:

Post a Comment