Balada Emak Rempong
Hampir-hampir saja aku meleleh dibuatnya. Tiba-tiba kakak berteriak memanggilku yang sedang berjibaku dengan cucian kotor di kamar mandi. Hatiku berdesir. Masih teringat saat kemarin kakak mengompol dan mengotori lantai, kasur, tikar dan beberapa mainan. Dan artinya apa? Pekerjaanku akan bertambah. Padahal yang didepan mata saja belum kuselesaikan.
Sesibuk apapun aku, urusan cucian harus sempurna. Memiliki anak-anak balita yang masih dalam masa toilet training itu sesuatu. Jadi terbayang kan betapa menumpuk dan kotornya baju-baju yang akan dicuci. Meski ada mesin cuci, bagiku tidak lantas hanya menekan tombol dan menunggu siap jemur. Ada satu ritual wajib sebelum baju kotor ini masuk ke tabung pintar yaitu mengucek dahulu dibawah air mengalir hingga bersih. Ini tujuannya untuk menghilangkan najis dahulu. Setelah hilang najis (wujud, warna, dan bau) bersama air mengalir, barulah aku masukkan ke si tabung pintar. Terlihat sangat merepotkan ya. Tapi wajib dilakukan agar baju-baju ini tidak hanya bersih tetapi juga suci.
***
Ternyata dugaanku salah. Kakak bukannya mengompol seperti kemarin tetapi memberiku kejutan yang disebutnya "hadiah". So sweet sekali ya kakak ini. Apakah hadiahnya? Potongan kardus yang digulung dan dalamnya berisi sisir warna biru tua. "Itu apa kakak?", tanyaku meski aku tahu itu apa tapi pasti imajinasinya akan berbeda. "Ini hadiah untuk bunda yang hebat bersihin itu, cuci-cuci itu. Ini foto kakak sama bunda sama ayah dan adek", jawabnya sambil membuka gulungan sepotong kardus itu dan menunjuk-tunjuk kardus itu sesuai dengan imajinasinya. "Oh, terima kasih Kakak... pintar sekali kasih bunda hadiah... ", ucapku menanggapi perhatian kakak padaku.
Hal-hal kecil seperti itu yang membuat hatiku kadang meleleh. Itu bentuk perhatian yang jujur dari hati seorang anak untuk orang tuanya. Ini yang membuat semangatku up lagi, bangkit lagi. Segala lelah-penat seolah hilang dan senyumku mekar kembali. Makin sayang sama anak-anak.
Meski tingkah mereka kadang membuatku sedikit kesal (berebut mainan, jahil sama adek, bertengkar, teriak-teriak, berantakin seisi rumah, main air dan basah kemana-mana, fyuh, lengkapnya... kusebutkan semua) tapi aku harus sadar mereka adalah anak-anak yang memiliki fitrahnya sendiri. Tugas kitalah sebagai orang tua menunjukkan sikap yang baik menghadapi tingkah polah mereka. Ini kelak akan menjadi contoh bagi mereka bagaimana bersikap menghadapi setiap situasi. Apakah dengan sabar atau emosi (marah-marah).
Birobuli Utara, 24 Februari 2019
No comments:
Post a Comment