Hari ini, hari keenam sejak keberangkatan suami dinas ke Tolitoli. Enam hari sudah, meng-handle semuanya sendiri. Rutinitas urusan rumah dan mengurus dua balita. Kakak sudah 3 tahun 4 bulan usianya dan adek 1 tahun 4 bulan.
Urusan rumah, sudah pasti ketemu terus dan tidak ada selesainya. Menyapu, mengepel, memasak, cuci piring, cuci baju dan setrika. Hari ini ketemu, nanti ketemu dan besok ketemu lagi. Jadi, bagiku untuk urusan yang satu ini tidak perlu dipusingkan dan dibikin stress. Eits, tapi ini urusan wajib untuk diselesaikan. Setuju tidak?
Lalu, bagaimana dengan mengurus dua balita sendirian sedangkan urusan rumah saja sudah seabrek? Fyuh, kalau mau dikeluhkan, banyak saja yang bisa kukeluhkan. Tapi, aku memilih untuk tarik napas dalam, tatap apa yang sedang bikin aku capek-kesel-pengin marah, lalu senyumin and take action aja... Misal, pas sedang cuci piring, adek dan kakak bertengkar. Lihatin dulu, lalu tarik napas dalam dan lakukan sesuatu seperti tanyakan penyebabnya, kasih pengertian, dan soluainya apa (bisa kasih mainan pengganti buat adek dan kasih mainan yang diperebutkan ke kakak). Kalau aku, ini manjur meredam pertengkaran adek-kakak dan yang pasti meredam emosiku.
By the way, pagi tadi aku ditelpon sama bapak, akungnya anak-anak. Perbincangan seputar kabar dan apa yang sedang dilakukan. Satu pertanyaan yang terngiang, "Kowe dikancani sopo? Lah, nek dewekan yo repot banget?" (Kamu ditemenin siapa? Kalau sendirian pasti repot sekali). Kenapa kepikiran sama pertanyaan ini? Ya, ini lebih pada kekhawatiran orang tua sama anaknya. Bukan sebuah keraguan akan kemampuan. Lalu, apa jawabanku? "Ora lah, ora repot. Kan kakak dah pinter sekarang, adek juga temuo". (Tidak, tidak repot. Kakak sudah pinter dan adek sudah mandiri). Honestly, aku repot. Bagaimana tidak? Dua balita ini masih sangat tergantung denganku. Mandi, pakai baju, minum susu, makan, segala rupa urusan toileting, tidur siang dan tidur malam yang masih harus ditemenin, belum lagi urusan sibling ditambah antar jemput kakak ke kelompok bermain yang masuk jam 7.30 WITA dan dijemput pukul 11.00 WITA. Wow banget bukan?
Awal-awal, emosiku sering terpancing jika kakak dan adek berteriak-teriak, bertengkar atau menangis. Tapi, lama-lama sudah mulai dapat celahnya dan sudah mulai agak santai. Apa ini yang namanya 'menikmati'?.
Entahlah...
Aku hanya menjalani saja. Hal-hal baik aku perjuangkan untuk bisa diterapkan dalam menjalani peranku dan hal-hal buruk aku perjuangkan untuk di-eliminasi. Dan, apakah ini yang namanya belajar?. Iya, mungkin?. Karena belajar adalah sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak paham menjadi paham. Berarti aku sedang belajar menjadi ibu rumah tangga. Sayangnya, ilmu menjadi ibu rumah tangga ini tidak pernah ada dikurikulum jenjang pendidikan manapun.
Kembali pada kata 'repot' yang sejujurnya aku rasakan. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mengatasi 'repot' itu sendiri. Itu dia.
Repot itu seperti apa sih? Repot, riweh, rempong, ya seperti itulah pokoknya. Suatu pekerjaan yang banyak dan dibutuhkan penyelesaian dalam satu waktu yang hampir bersamaan. Ya, itu sih definisi menurutku. Jadi, apa yang harus dilakukan? Menurutku, selesaikan satu-satu dengan hati yang tenang. Berarti harus punya prioritas dong, mana yang harus diselesaikan pertama, kedua dan seterusnya.
Begitu...
Birobuli Utara, 19 Februari 2019
No comments:
Post a Comment