Bismillah...
Kuawali dengan menyebut nama-Nya agar proses belajar ini membawaku dalam jalan keberkahan. Amin...
Hi Diary Part I
Tepat lima hari aku sendiri, dirumah rantau ini, bersama anak-anakku yang masih balita. Rabu kemarin suamiku berangkat dinas ke Tolitoli, sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah yang merupakan daerah kerja suamiku. Menghitung hari disini hingga tigapuluh hari kedepan.
Disini, di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Sebuah kota yang begitu tenar oleh karena dilanda bencana dengan tiga jenis bencana sekaligus dalam satu waktu. Astaghfirulloh, semoga engkau jaga kami sekeluarga disini di bumi mutiara katulistiwa.
Aku memilih bertahan disini hingga sumiku selesai tugas bukan tanpa alasan.
Pertama, menjadi seorang ibu yang dikaruniai buah hati adalah keinginanku sejak lama. Ikhtiar tiga tahun lamanya dan Sang Kholik baru menjawabnya. Syukur alhamdulillah, akhirnya aku bisa memiliki buah hati dengan persalinan normal. Dan, karena riwayat lama menunggu momongan, kami berkeputusan untuk menyegerakannya dengan jarak dua tahun. Subhanalloh, Alloh ijabah keinginan kami.
Kedua, menjadi fulltime mom adalah keinginanku sejak lama dan masih kuperjuangkan. Ini mengingat aku adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dan orang tua kami (juga mertuaku) tidak meridhoi jika aku resign.
Ketiga, ada celah kemudahan yang Alloh suguhkan untuk mewujudkan dua poin diatas. Suamiku dimutasi dari kantor Pusat ke Palu, Sulawesi Tengah. Ini adalah mutasi bergilir rutin yang tidak dapat dihindari. Suamiku berharap aku bisa mengikutinya bersama kedua anak kami. Subhanalloh, kami diberi kemudahan untuk Cuti Luar Tanggungan Negara (CLTN). Salah satu jenis cuti yang diajukan dengan alasan beberapa poin dan diputuskan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN). Bukan kementrian terkait. Dapat dibayangkan betapa panjangnya proses expedisi dokumen hingga ke BKN dan turun lagi ke kementrian dan satuan tugas terkait. Ini bisa disetujui atau bahkan tidak disetujui. Dan, jawabannya akan diketahui jika dokumen jawaban dari BKN sudah sampai ke satuan tugas terkait. Kami hanya berkhusnudzon saja. Kami yakin insyaalloh Alloh mudahkan. Karena tujuan kami baik, insyaalloh Alloh beri jalan. Subhanalloh... semuanya Alloh mudahkan hingga persiapan suamiku di Palu selesai dan jawaban BKN sudah turun.
Tiga hal itu yang membuatku tetap bertahan disini, menunggu tugas suamiku selesai.
September adalah awal semuanya. Terhitung CLTN, pemutusan total gajiku, dan awal kami menginjakkan kaki di Kota Palu. Tepat tanggal lima September kami tiba di kota Mutiara Katulistiwa. Awal mutasi, suamiku belum ada perjalanan dinas ke daerah. Jadi, kami masih dapat menikmati kebersamaan penuh dan menikmati indahnya Kota Palu. Qodarulloh, duapuluh delapan September menjadi tanggal yang bersejarah bagi kami. Kami menjadi semakin kenal dengan kota ini dan kami juga semakin mengerti apa itu pasrah dengan qada dan qadar Alloh.
Sulitnya kondisi paskabencana membuat kami harus mengambil keputusan untuk ikut evakuasi, mengingat anak-anak masih kecil, adek belum genap satu tahun dan kakak belum genap tiga tahun. Alhamdulillah proses evakuasi berjalan lancar dan kami menunggu masa tanggap bencana di rumah orang tua kami di Kebumen, Jawa Tengah.
Kurang lebih tiga bulan atau hampir seratus hari kami memantapkan hati untuk akhirnya kembali ke kota ini. Semoga Alloh membersamai langkah keluarga kecil ini untuk bertumbuh dalam takwa kepada-Mu hingga menuai syurga.
Ya, aku memilih bertahan disini menunggu tugas suamiku selesai.
Mendidik, mengasuh, melayani sepenuhnya dirumah suami. Menjadi istri yang menjaga rumah suami dan menjadi ibu pembentuk generasi Rabbani.
Mengingat hanya tiga tahun masa CLTN, aku merasa harus memaksimalkan peranku. Memaksimalkan peran bukan berarti dengan segala target yang kaku. Tetapi lebih kepada menikmati peran. Menjalaninya dengan bahagia.
Birobuli Utara, 18 Februari 2019.
No comments:
Post a Comment