Monday, 1 February 2016

Terima Kasih Cinta

Menjadi asisten rumah tangga sudah kujalani sekitar dua puluh tahun. Kini usiaku menginjak  kepala lima. Aku, ibu dua anak. Dua puluh tiga tahun dan delapan belas tahun usia mereka. Si kakak, sebutan bagi si sulung, sudah menamatkan sarjana kedokteran dan saat ini dalam masa studi ko-asisten. Sedangkan si adek, sebutan untuk si bungsu, sedang mempersiapkan ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi. Mereka berdua adalah anak-anak berprestasi. Bersyukur dikaruniai anak seperti mereka padahal ibunya hanya tamatan SMP dan ayahnya STM (setara SMA).  

Anakku, adalah kekuatan hidupku…

Penyejuk hatiku…

Bersyukur hingga titik ini, aku masih bertahan. Jika bukan karena mereka, aku sudah tumbang sejak dulu. Memiliki suami yang tidak bertanggung jawab. Pamit mencari nafkah, lama tidak pulang dan tanpa kabar, apalagi kiriman uang. Sekali pulang, hanya untuk pamit nikah. Aku tidak terima. Kugugat cerai. Yang ada, dia mengusir kami bertiga dengan alasan bahwa rumah yang kami tinggali adalah rumahnya. Menurutnya, kami tidak berhak.

Kami bertengkar hebat didepan kedua anak kami. Salah besar. Si adek baru satu tahun kala itu, menangis sejadi-jadinya mendengar suara ayahnya yang meninggi. Malam, sekitar sehabis waktu isya’. Kebetulan hujan deras mengguyur sehingga menyamarkan suara pertengkaran kami. Aku memilih keluar dari rumah bersama kedua anakku. Sesegera mungkin. Hanya dua potong bajuku, baju kedua anakku dan alat makan si adek.

Dalam gelap dan hujan.

Tak tahu kemana tempat yang kutuju. Aku terus berjalan. Menggendong si adek, menggandeng si kakak di sebelah kiriku, dan memegangi payung lebar di sebelah kananku.

Terus berjalan…

Gelap dan hujan menyamarkan kepergian kami.

Hingga subuh,

langkahku terhenti di sebuah masjid,
dan disinilah aku bertemu dengan orang yang sangat berjasa menuntunku hingga titik ini. Pak Seno dan istrinya Yulia. Mereka yang menyapa kami terlebih dahulu karena mendengar tangisan si adek. Lalu mengobrol sebentar. Mereka  iba mendengar cerita kami. Mereka menawariku pekerjaan sebagai asisten rumah tangga sekaligus pengasuh anak enam tahun di rumah anaknya di Jakarta. Seminggu sudah pengasuh cucunya pulang kampung untuk menikah. Anak dan menantunya harus bekerja. Jadi sementara saat ini, Andri, nama cucu bu Yulia, bersama bu Yulia di Rembang. Mereka mengizinkan aku membawa kedua anakku bekerja.

***

Terima kasih cinta...

Dua puluh tahun menemani mereka berempat tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang berprestasi. Si Kakak, si Adek, dan dua cucu bu Yulia, Radit dan Raka. Subhanalloh, empat jagoan.  Kebetulan Si Kakak dan Radit seumuran. Mereka selalu bersaing sehat. Para calon dokter. Mereka sama-sama berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Si Kakak dan Radit. Si Kakak yang selalu mendapatkan beasiswa membuatku ringan secara financial. Begitu juga si Adek yang saat ini Duduk di kelas dua belas SMU N 8 Jakarta. Tidak lupa juga, semua pencapaian ini berkat bantuan keluarga pak Seno dan bu Yulia. 

Dua puluh tahun menjadi asisten rumah tangga membuatku sudah melupakan masa laluku. Rembang yang penuh kenangan. Tidak pernah lagi ku kunjungi semenjak hari kejadian itu. Aku tak ingin mengunjungi tempat itu kembali. Hanya Yogyakarta yang kutuju saat pulang kampung. Kota kelahiranku. Keluargaku masih lengkap di sana. Bapak, emak, dan keempat mbakku. Kami lima bersaudara perempuan semua. Aku yang paling kecil. Semua di Jogja, hanya aku yang merantau. Ikut suami yang asli orang Semarang dan tinggal di Rembang mengadu nasib. Berjanji saling setia di tanah rantau tetapi ujungnya perpishan juga.

Sudah kuikhlaskan semua masa laluku. Kini, aku cukup bahagia dengan apa yang aku miliki.

***

Kututup lembar terakhir dari buku harianku yang kesepuluh.



Griya Serpong Asri, 2 Februari 2016 

No comments:

Post a Comment