Tidak seperti akhir pekan sebelumnya, kali ini aku
free. Setelah seharian berbenah
kamar, sore ini aku duduk santai di kursi belajarku yang sengaja kuletakkan
bersampingan dengan jendela.
Pemandangan asrama yang sudah biasa bagiku. Gedung
F lantai 3 kamar 30, tempatku berada. Memandangi dua gedung di depanku, D dan E,
sepi. Tak tampak ada aktifitas apapun. Hujan yang sedari siang tak kunjung
reda, sore menyisakan gerimis.
Aroma hujan yang khas membangkitkan rinduku akan
keluarga di Kebumen. Ayah, ibu dan adik-adik. Kami sama-sama menyukai suasana
hujan. Ubi, pisang, atau jagung hangat, salah satunya hampir selalu menemani
kami sebagai kudapan disaat hujan. Adikku, si kembar Aryo dan Aji pasti sudah
bersiap dengan baju kotornya untuk bermain hujan di teras rumah. Sedangkan aku,
ayah dan ibu duduk di kursi rotan yang juga berada di teras rumah. Mengobrol
hangat, menikmati kudapan sembari mengawasi si kembar lima tahun itu bermain
hujan.
Sungguh membuatku rindu.
Tinggal di asrama membuatku belajar mandiri,
disiplin dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Ini adalah kali pertama
aku hidup jauh dari keluarga. Belum genap satu tahun. Dan aku belum juga
berdamai dengan rasa rindu semacam ini. Meski sesibuk apapun aktifitasku di
kampus, rasa itu kembali menyapaku sekembalinya aku ke kamar asrama.
Sesaat kupandangi foto keluarga yang sengaja ku
pajang di meja belajarku. Foto kami sekeluarga dua tahun lalu. Senyum… Rindu
ingin memeluk mereka.
Kupandangi ponsel di tanganku. Ingin sekali ku
menelpon ibu. “Tapi nanti lah, selepas maghrib saja”, batinku. Terlalu sering
menelpon justru akan membuat ibu khawatir.
Kulayangkan pandangku ke sekeliling gedung di
depanku. Masih sepi… Kulihat jam weker di meja belajarku, pukul lima. Memang
jam segini kebanyakan teman asrama belum pulang. Kebiasaan weekend, mereka
pulang ke rumah orang tua, saudara, mengikuti kegiatan organisasi di kampus,
atau sekedar jalan-jalan di pusat perbelanjaan sekitar asrama. Selepas maghrib,
asrama akan kembali ramai.
Suasana sore, sepi diselimuti hujan memang selalu
mengundang rindu kampung halaman. Rasa rindu ini justru melecut semangatku
untuk belajar dan berkarya dengan baik di tanah rantau. “Ini adalah amanah ayah
dan ibu”, pikirku. Amanah adalah kepercayaan. Itu artinya ayah dan ibu memberiku
kepercayaan untuk memimpin diriku sendiri dengan baik. Karena tugasku belajar,
berarti aku harus belajar dengan baik di sini. Tidak untuk bermain-main.
Belajar, berprestasi dan bermanfaat adalah
semboyanku. Dan, kelak akan membuat mereka tersenyum bangga…
***
Masih gerimis, maghrib telah langsir dan asrama masih
sepi. Satu puisi enam bait selesai kubuat. Puisi dan cerpen, pelampiasan rasa rinduku.
Griya Serpong Asri, 27 Januari 2016
No comments:
Post a Comment