Tuesday, 14 June 2022

Ketika Suami Meminta Istri Berhias…

 


Berawal dari obrolan ringan disela kesibukan bekerja, saya tergelitik untuk membuat tulisan ini.

Mbak, duh suamiku minta aku pakai bedak nih… ”, curhat teman sembari tersenyum kesal.

Era serbuan media sosial dan teknologi sungguh menjadi tantangan tersendiri bagi kehidupan rumah tangga. Mulai dari tantngan bagi suami, istri, anak, dan juga tantangan dalam pengasuhan. Untuk meng-counter setiap tantangan itu, dibutuhkan pemahaman pengetahuan yang cukup.

Yap, kembali pada obrolan curcol di atas. Sepele gak sih, cuman minta bedakan doang?

Namun bagi saya, bukan hal sepele sehingga menggugah saya untuk membaca banyak literasi tentang keharmonisan rumah tangga. Dan pertanyaan saya, apa yang melatar belakangi permintaan tersebut? Lalu bagaimana cara kita, para istri, menanggapi permintaan suami sesuai syariat?

Menurut hemat saya, permintaan tersebut adalah wajar karena sang suami sedang meminta haknya. Lalu bagaimana sang istri menanggapinya? Simpel saja. Berikan apa yang menjadi hak sang suami. Tentu saja dalam memenuhi hak dan kewajiban masing-masing, dibutuhkan komunikasi yang baik diantara keduanya. Sebut saja contoh di atas, suami meminta istri memakai bedak. Apakah cukup bedak saja ataukah perlu ditambah bibir merah, alis tebal, pipi merona, wewangian, dst. Maka, diperlukan komunikasi yang jiwa dan ruh masing-masing saling tertaut agar tercapai keharmonisan dalam rumah tangga.

Sepenggal ilustrasi tersebut menggambarkan fragmen kehidupan rumah tangga dimana suami mencoba menyampaikan keinginannya kepada sang istri. Dan, kemampuan istri dalam bersikap-menanggapi dan kemampuan suami dalam menerima-memahami sikap-tanggapan istrinya akan sangat menentukan keharmonisan keluarga dan kelanggengan perkawinan. Seperti sabda Rasul SAW yang dituliskan M. Quraish Shihab dalam bukunya Pengantin Al-Qur’an, ”Jiwa berkelompok-kelompok bagaikan kelompok tantara. Jiwa yang saling mengenal akan harmonis dan yang tidak saling mengenal akan berselisih.”


Nilai-Nilai yang Melanggengkan Perkawinan

Dalam bukunya Pengantin Al-Qur’an, Quraish Shihab menjabarkan beberapa nilai-nilai yang melanggengkan perkawinan yaitu:

1.     Keseimbangan

Kebahagiaan suami istri atau rumah tangga ditentukan oleh keseimbanan neraca. Kelebihan atau kekurangan pada satu sisi neraca mengakibatkan kegelisahan serta mengenyahkan kebahagiaan.

Salah satu keseimbangan yang digarisbawahi al-Qur’an dalam konteks kehidupan suami istri adalah keseimbangan antara hak-hak suami istri dan kewajiban-kewajiban mereka. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 228: “Para Wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma’ruf.”

Dalam konteks hubungan suami istri, ayat ini menunjukkan bahwa istri mempunyai hak dan kewajiban terhadap suami, sebagaimana suami pun memiliki hak dan kewajiban terhadap istri, keduanya dalam keadaan seimbang.

Tuntunan tersebut menuntut kerjasama yang baik antara keduanya bahkan seluruh anggota keluarga. Al-Qur’an bahkan menuntut terjalinnya hubungan baik walaupun terdapat perasaan tidak senang suami kepada istrinya (atau sebaliknya). Allah berfirman dalam surat an-Nisa ayat 19; “Bermu’asyarahlah (bergaullah) dengan mereka secara ma’ruf (patut). Maka bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

Kata mu’asyarah digunakan dalam al-Qur’an untuk menggambarkan interaksi antara dua pihak dalam perkawinan yaitu hubungan suami-istri. Mu’asyarah bil ma’ruf (bergaul dengan patut) harus dipertahankan dalam kehidupan rumah tangga karena ikatan perkawinan bukan hanya diikat oleh faktor cinta, tetapi masih ada faktor lain yaitu rahmat dan amanat.

2.    Kebersamaan

Quraish Shihab dalam bukunya menyebutkan, terdapat empat persamaan dan satu perbedaan yang harus dihayati oleh pasangan suami istri:

Sama-sama hidup.

Sama-sama manusia.

Sama-sama dewasa.

Sama-sama cinta.

Yang berbeda adalah: yang satu lelaki dan yang lainnya perempuan.


Kehidupan bersama juga semestinya menjadikan suami istri saling terbuka dalam segala hal; tidak wajar jika menyembunyikan sesuatu pada pasangannya dan boleh jadi yang wajar disembunyikan hanyalah masa lalu yang telah terkubur.

Suami istri adalah sama-sama manusia. Diciptakannya perempuan dari tulang rusuk Adam menunjukkan bahwa istri hendaknya selalu diletakkan dekat jantung/hati suami. Ia tidak diciptakan dari tulang kepala lelaki agar lelaki tidak menyanjungnya secara berlebihan, tidak juga dari tulang kakinya, agar perempuan tidak dilecehkan atau dihina oleh lelaki.

Kedewasaan adalah kematangan pikiran dan emosi, karena itu kedewasaan melahirkan tanggung jawab. Kedewasaan seharusnya semakin meningkat dengan perkawinan, karena tanggung jawab sebelum menikah adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri saja dan setelah menikah dua orang yang tadinya berdiri sendiri, kini menyatu. Dalam konteks kehidupan rumah tangga, kedewasaan itu menjadikan pasangan menyadari bahwa ketika suami memberi, ia sebenarnya juga menerima dari istrinya dan demikian pula sebaliknya.

Cinta sejati antar manusia dapat terjalin bila ada sifat-sifat pada yang dicintai dirasakan dan sesuai yang didambakannya. Dalam konteks cinta, Rasul saw berpesan; “Apabila salah seorang mencintai saudara (rekan)-nya, maka hendaklah dia menyatakan kepadanya bahwa sesungguhnya dia mencintainya” (HR Abu Daud dan at-Tirmidzy melalui al-Miqdam bin Ma’dy Karib). Cinta harus bermula dari adanya perhatian. Dan, perhatian adalah salah satu unsur cinta pertama yang dapat meningkatkan mawaddah. Melalui perhatian, sang pecinta dapat saling mengenal lebih banyak dan akan menimbulkan cinta yang lebih dalam. Unsur cinta kedua adalah tanggung jawab. Sang pecinta dituntut tidak sekadar memperhatikan tetapi ikut bertanggung jawab. Tanggung jawab berarti mengetahui kebutuhan dan memberinya walau tanpa diminta. Unsur cinta yang ketiga yaitu penghormatan. Sang pencinta harus menghormati yang dicintainya.

Jika unsur-unsur tersebut telah menyatu dalam diri sang pecinta, maka cinta akan tumbuh menjadi mawaddah. Makna dasar mawaddah adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Mawaddah kemudian akan membuahkan sakinah.

Pernikahan adalah menyatunya dua perbedaan yang berjalan selaras dan harmoni. Tidak mudah melakukan komunikasi antara pihak yang memiliki perbedaan. Quraish Shihab menggaris bawahi nasihat dari orang bijak yang menyatakan bahwa, ”Jika ingin bergandengan tangan dan menemukan kata sepakat, maka hendaklah perhatian tidak terpaku pada perbedaan tetapi pada persamaan dan kebutuhan bersama”.  

 

Uraian tersebut saya susun untuk membantu diri saya mengilmui situasi dengan lebih baik. Semoga dapat memberi kebarmanfaatan tidak hanya diri saya tetapi siapapun yang membacanya. Amiin…



Griya Serpong Asri, 14 Juni 2022

Friday, 29 May 2020

Merawat Semangat Ramadhan



Oleh Vera Khasanah

Hampir sepekan Ramadhan berlalu meninggalkan kita. Dan, rasa-rasanya roda waktu nyaris menggilas semangat ibadah serta mengikis kelezatan bermesra dengan-Nya.

Ya. Ketika bulan Ramadhan, syiar Islam menggema hingga seantero jagat. Gemuruhnya menggelorakan semangat jiwa untuk turut menghidupkan untai waktunya dengan beramal sholeh dan beribadah. Seolah tak rela melewatkan bulan istimewa ini dengan penuh sia. Pun ketika cobaan pandemi menghantam dan menghalangi langkah umat muslim menuju ke masjid, tak menyurutkan semangatnya untuk tetap mencecap keistimewaan Ramadhan dan membuat keagungannya tetap membahana meski dengan berbagai protokol yang harus dipatuhi. Tarawih, tadarus, memperbanyak sholat sunnah, memperbanyak sedekah, zakat, dan berbagai amalan sunnah lainnya menjadi rangkaian ibadah yang mewarnai hari-hari Ramadhan kita.

Ramadhan adalah bingkisan spesial wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Bagaimana tidak? Pada bulan ini pahala ibadah sunnah setara dengan ibadah wajib, pahala ibadah wajib menjadi berlipat-lipat, dan terdapat satu malam yang memiliki keutamaan melebihi seribu bulan yaitu malam lailatul qodar. Barangsiapa beribadah di malam lailatul qadar, Allah SWT melipatgandakan pahalanya seolah beribadah selama seribu bulan. Pada malam itu, seperti termaktub dalam Al-Quran surat Al-Qadr, para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya turun ke bumi untuk mengatur segala urusan. Doa-doa yang dipanjatkan pada malam itu akan diamini oleh malaikat. Dosa-dosa akan diampuni bagi yang memohonkannya. Dan, sejahteralah malam itu hingga terbit fajar. Sungguh begitu luas kasih sayang-Nya untuk kita.

Maka sikap kita sebagai hamba sepatutnya menerima bingkisan itu dengan hati gembira dan penuh rasa syukur. Sayangnya, bingkisan spesial ini ada tenggat waktunya. Ia tak akan berlama-lama bersama kita. Maka, manfaatkanlah waktu bersamanya seapik mungkin. Kelak ketika tenggatnya tiba, Ramadhan akan berlalu kembali pada-Nya, lantas hanya rindu yang menyusup di relung dada.

Ramadhan pergi meninggalkan kita tanpa adanya jaminan, apakah ia akan kembali menemui kita tahun depan. Berlalunya Ramadhan tidak ada garansi, apakah segala amal sholeh dan ibadah Ramadhan kita diterima oleh Allah. Maka Rasullulloh mengajarkan pada kita doa selepas Ramadhan yaitu “Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu ‘amin wa antum bi khair”. Melalui do’a tersebut kita memohon kepada Allah Swt agar menerima amal ibadah Ramadhan kita dan setiap tahun semoga senantiasa dalam kebaikan.

Lezat dan nikmatnya beribadah pada bulan Ramadhan membuat diri enggan berpisah dari bulan penuh rahmat ini.  Tapi, begitulah sunnatulloh. Ramadhan boleh pergi meninggalkan kita, tapi spiritnya harus terpatri, menghunjam dalam diri, dan terus terpelihara pada bulan-bulan selepasnya hingga atas izin-Nya kita dipertemukan kembali dengan bulan yang kita rindukan ini. Berikut beberapa cara (yang telah disarikan dari berbagai sumber) agar spirit Ramadhan tetap bergemuruh di dalam dada, menghunjam dalam jiwa, mewarnai pikiran kita, dan menggerakkan diri kita untuk beribadah dan beramal sholeh.

1.       Lanjutkan dengan puasa sunnah di bulan Syawal
Selagi tubuh masih terbiasa berpuasa, maka lanjutkan rutinitas puasa kita pada bulan Syawal. “Barangsiapa yang melasanakan shaum Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan shaum enam hari di bulan Syawal, maka baginya laksana shaum sepanjang tahun” (HR Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

2.  Jadikan rutinitas ibadah pada bulan Ramadhan menjadi rutinitas ibadah pada bulan selanjutnya
Rutinitas apa yang sudah kita bangun pada bulan Ramadhan? Maka lanjutkan untuk mengisi rutinitas pada bulan selanjutnya. Seperti puasa, maka lanjutkan semangat berpuasanya untuk melakukan puasa sunnah Syawal, lanjut puasa sunnah Senin-Kamis ataupun puasa sunnah lainnya. Rutinitas tarawih bisa kita ganti dengan sholat qiyamul lail untuk bulan berikutnya. Lanjutkan rutinitas tilawah, dzikir, sedekah, infaq, dan rutinitas amal sholeh lainnya.  

3.       Berdoa, memohon kekuatan dari-Nya agar mampu istiqomah
Dari ’Aisyah r.a, bahwa Nabi Saw bersabda: ”… amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang istiqamah walaupun sedikit” (HR. Bukhari). Istiqomah adalah kunci keberhasilan sebuah amal ibadah. Sedangkan kondisi keimanan kita yang kerap melandai membuat istiqomah adalah tantangan terberat. Jangankan kita, bahkan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam pun mengatakan ayat terberat adalah ayat tentang istiqomah (ketetapan dalam jalan yang benar) seperti termaktub dalam Al-Quran surat Hud ayat 112, “Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu anhuma, “Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat ini. Oleh karena itu, ketika beliau ditanya, ‘Betapa cepat engkau beruban’, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sahabatnya, ‘Yang telah membuatku beruban adalah surat Hûd dan surat-surat semisalnya (almanhaj.or.id).

4.       Pastikan diri kita menjadi bagian dari lingkaran orang-orang sholeh.
Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau  mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar  pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk.

Wallahu a’lam.

Saturday, 9 May 2020

Teruslah Bergerak


Sebuah gerakan adalah tanda utama kehidupan. Maka ketika saya bertugas di unit intensive sebuah rumah sakit milik pemerintah di Jakarta, gerakan inilah kunci untuk mengecek tingkat kesadaran pasien. Begitu berharganya tanda-tanda kehidupan ini, pun ketika pasien diam tidak bergerak secara fisik, maka saya sebagai petugas wajib untuk mencari sumber pergerakan yang lain sesegera mungkin sekecil apapun itu. Seperti pergerakan detak jantung yang menjadi tanda krusial. Seberapapun kekuatannya (lemah, sedang, dan kuat) pergerakan nadi tak boleh absen. Jika pasien tidak ada nadi, maka saya sebagai petugas wajib memicu pergerakannya dengan melakukan pijat jantung atau bahasa medisnya adalah CPR (Cardiopulmonary Resuscitation). Dengan Tindakan pijat jantung, harapannya darah kembali mengalir dalam tubuh kita membawa oksigen yang begitu berharga pada setiap sel-sel tubuh pasien dan tanda-tanda kehidupan kembali hadir. Ketika nadi mulai menunjukkan pergerakan, maka langkah selanjutnya adalah mengevaluasi status pernapasan pasien dengan melihat pergerakan dada naik dan turun serta adanya hembusan udara dari lubang hidung.

Sungguh, begitu berharga sebuah pergerakan bagi laju hidup tubuh kita. Baik jantung, paru-paru, darah dalam pembuluh darah, hingga pergerakan lambung dan usus. Ini baru satu partikel kehidupan. Lihat bagaimana alam semesta bergerak. Bumi menuntaskan kala rotasinya pada 23 jam 56 menit 41 detik dan menggenapkan kala revolusinya dalam mengelilingi matahari selama 3651/4 hari. Tak hanya itu, bulanpun bergerak mengelilingi bumi dan menggenapkan orbitnya setiap 27,3 hari. Maka bergerak adalah untuk keberlangsungan dan diam adalah untuk kematian.

Pertanyaannya, apakah saat ini kita masih bergerak?
Maka pertanyaan itu memiliki arti, apakah saat ini kita masih hidup, begitu bukan bila kita kembalikan pada statement tentang “bergerak” sebelumnya. Dan pertanyaan tersebut sungguh memiliki ambiguitas. Betapa tidak, akan kita jawab dengan apa pertanyaan tersebut. Mungkin kita akan menjawab dengan kalimat, “Pasti dong, kan masih bisa ngomong dan jawab pertanyaan, sudah pasti saya masih bergerak”. Apakah benar jawaban seperti itu yang diharapkan dari pertanyaan tersebut? Maka menurut hemat saya, “bergerak” disini memiliki maksud berbuat, melakukan dan mengerjakan sesuatu.

Jika “bergerak” menjadi tanda utama kehidupan secara jasadiyah maka berbuat, melakukan, dan mengerjakan sesuatu menjadi tanda kehidupan secara ruhiyah dan fikriyah. Apa itu ruhiyah dan fikriyah? Sebuah dimensi (aspek) kehidupan manusia. Secara umum, ada tiga dimensi kehidupan manusia, yaitu jasadiah (jasad, fisik), fikriyah (akal, pikiran), dan ruhiyah (spirit, emosional). Ketiga dimensi tersebut menjadi penyusun diri menjadi manusia yang utuh. Ketika manusia dikatakan masih “hidup”, selayaknya menyangkut “hidup” ketiga dimensi tersebut dan ketiganya harus “bergerak”.

Menurut saya “bergerak” disini ada dua penyebab, pertama karena reflek dan kedua karena adanya perintah (gerak sadar). Gerak reflek adalah gerak otomatis tanpa perintah seperti bersin, menangkis serangan tiba-tiba, atau gerakan pupil saat menerima cahaya berlebihan. Sedangkan gerak sadar adalah gerak yang disebabkan melalui proses yang disadari atau melalui proses berpikir. Nah ini sangat menarik, bagaimana gerak reflek dapat melakukan gerak secara otomatis tanpa adanya perintah? Hal ini dikarenakan adanya memori tentang respon yang sudah tersimpan dalam tubuh kita. Begitu juga untuk konteks ruhiyah dan fikriyah. Agar kita mampu berbuat, melakukan, dan mengerjakan (kebaikan tentunya) secara otomatis maka kita harus menyimpan memori kebaikan sebanyak mungkin agar respon reflek-nya semakin cepat.   

Bergerak bagi Jasadiyah
Sungguh, bergerak adalah kodrat manusia dan napas kehidupan bagi jasad. Jasad yang tak pernah bergerak dan digerakkan akan menurun kemampuannya. Contohnya otot tangan atau kaki yang lama tidak bergerak dan digerakkan akan mengalami atrofi (melemah dan menyusutnya jaringan dan massa otot) seperti pada penderita stroke yang tidak mau melatih dan menggerakkan otot-ototnya maka kemampuan dan fungsinya akan semakin menurun. Begitu juga bagi orang normal, bergerak akan memberikan banyak manfaat secara fisik bahkan mampu memberikan efek positif pada dua aspek lainnya. Ketika kita aktif menggerakkan fisik badan kita, menurut para ahli, ini akan berpengaruh pada keluarnya hormon endorfin (hormon yang berkontribusi pada rasa senang) sehingga secara fikriyah kita merasa lebih segar dan bahagia.

Dengan bergerak membuat jasad kita menjadi kuat dan sehat. Dan jasad yang sehat mampu melakukan setiap perbuatan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Bergerak bagi Fikriyah
Akal pikiran telah mendudukkan manusia menjadi makhluk paling sempurna diantara ciptaan-Nya. Akal pikiran akan membuat manusia menjadi mulia karena mampu membedakan haq dan bathil bahkan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan baru. Berpikir menjadi kodrat kehidupan manusia. Meskipun mampu berpikir haq-bathil dan mampu menciptakan pengetahuan baru yang akan membuat kehidupannya lebih baik,  tapi tidak semua manusia mampu dipimpin akalnya menjadi manusia yang baik dan mengangkatnya pada kedudukan mulia. Maka akal membutuhkan partner berupa ruhiyah (spirit, emosional) yang baik agar mampu menjadi pemandu jitu mencari jalan Ketuhanan yang lurus dan benar. Karena selain akal pikiran, Allah juga memberi karunia hawa nafsu (syahwat) yang jika manusia tidak mampu mengendalikannya akan membuatnya hina. Selama sinyal kehidupan masih menyapa, perkuat akal pikiran kita. Pandu untuk terus bergerak mencari keberanan-kebenaran yang akan menyelamatkan kita dunia dan akhirat.

Bergerak bagi Ruhiyah
Ruhiyah merupakan nyawa dari perilaku manusia yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Aspek ini akan selalu memberi motivasi dan menjadi bara semangat yang tak mudah padam dalam menjalani kehidupan. Karena itu, kekuatan ruhiyah adalah kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh manusia. Eksistensi “ruh” manusia langsung dari tiupan ruh Illahi. Maka ruh inilah yang pada akhirnya kembali ke asalnya, kembali menghadap Allah SWT. Sementara fisiknya akan kembali pula bersatu dengan mulanya di tanah. Jika fisik akan berakhir membusuk dan hancur, ruh yang terjaga akan mulia selamanya.

Ruh yang terjaga diartikan sebagai ruh yang senantiasa kembali, terikat, dan mengingat penciptanya serta menjadi pembimbing dan penyelamat handal bagi jasadiyah dan fikriyahnya. Ruh yang terjaga akan membuat kehidupan setiap individu terpelihara secara utuh. Maka sangat penting untuk senantiasa memperhatikan kondisi ruhiyah kita agar senantiasa baik. Aktifitas berkesinambungan dalam menata kondisi ruhiyah inilah bentuk pergerakan dari aspek ruhiyah.

Maka teruslah bergerak untuk keberlangsungan dan tumbuhlah menjadi individu yang terjaga agar mulia hidup kita dunia akhirat.  


Tunggulwulung, 10 Mei 2020

Monday, 17 February 2020

Mari, Sejenak Cerita Tentang Hidup Kita



Apa kabar hidup kita?

Akan kita jawab apa pertanyaan dia atas? Mungkin sebagian akan menjawabnya dengan ucapan penuh syukur. Sebagian yang lain akan mengisi deretan jawabannya dengan keluhan. Kalimat ‘hidupku ya gini deh’ mungkin akan menjadi jawaban pamungkas bagi kelompok ini.  Dan, sebagian lagi akan menjawab dengan penuh yakin dan percaya diri bahwa hidup mereka sangat luar biasa. Tahukah kita bahwa pada dasarnya ketiga jawaban tersebut menyimpan berbagai kemungkinan yang sebenarnya terjadi pada hidup si empunya.

Bagi yang menjawab dengan ucapan penuh syukur, belum tentu hidup yang dijalani penuh dengan limpahan nikmat. Bisa jadi sebagian hidupnya juga dipenuhi dengan berbagai kekhawatiran, ketidakpuasan, keinginan dan harapan yang belum terpenuhi, mungkin juga ada kecewa dan sedih di sana. Meski sempat terlintas mempertanyakan kekurangan-kekuranan hidupnya, tapi mereka memilih untuk memulakannya dengan ucapan syukur karena mereka pikir nikmat yang mereka terima lebih banyak dari yang mereka kira. Mereka berdamai dengan hidupnya dengan cara bersyukur, berterima kasih kepada Tuhan atas nikmat yang tak pernah absen menyapanya setiap waktu. Mereka memilih bersandar pada pemilik kekuatan luar biasa dan berharap pertolonganNya mewarnai setiap langkah usahanya.

Bagi mereka yang menjawab dengan penuh keluhan juga belum tentu hidup yang mereka jalani penuh dengan hal yang tidak menyenangkan. Bisa jadi nikmat yang mereka terima lebih banyak dibandingkan dengan perihal yang mereka keluhkan. Namun mereka tidak menyadari hal itu karena dengan mengeluh otomatis akan memperkeruh suasana hati yang akan menambah berat beban hidup. Dengan mengeluh yang akan dituai hanyalah peluh hingga membuat hidup semakin rapuh.

Lalu bagaimana dengan mereka yang menjawab dengan penuh yakin dan percaya diri bahwa hidup mereka luar biasa? Bisa jadi hidup mereka memang luar biasa, dipenuhi nikmat kebahagiaan dan kepuasan. Kemudian timbul pertanyaan selanjutnya tentang hidup yang luar biasa itu seperti apa? Dan sungguh, jawabannya adalah tergantung pelakunya. Bisa jadi apa yang mereka anggap luar biasa adalah hal yang biasa bagi kita. Apa yang biasa menurut kita justru sangat membuat hidup mereka bahagia dan luar biasa.

Di sisi lain, penggambaran tentang hidup luar biasa itu bisa dikaitkan dengan semangat dan antusias dalam menjalani hidup serta menaklukkan setiap tantangannya. Justru kalimat ‘hidup saya luar biasa’ di sini merupakan sebuah energi yang akan menghadirkan energi luar biasa berikutnya. ‘Hidup saya luar biasa’ merupakan kalimat afirmasi, kalimat penguat dan penyemangat yang akan mendorong diri melakukan aktivitas demi aktivitas yang juga luar biasa yang kemudian akan menghadirkan hidup yang luar biasa pula.

Maka pertanyaan ‘Apa kabar hidup kita hari ini?’ pantas untuk kita lontarkan pada diri kita setiap hari sebagai pertanyaan evaluasi sebelum kita menutup hari. Lalu tuliskanlah jawabannya pada media apapun yang bisa kita baca kembali esok hari. Dan, lihatlah apa yang bisa kita dapatkan dari narasi jawaban kita. Kita bisa melihat cara pandang kita terhadap hidup yang sudah kita jalani. Jika menginginkan hidup kita berubah, maka ubahlah terlebih dahulu cara kita memandang hidup.

Berkaca dari beberapa kemungkinan jawaban yang terurai, kemungkinan jawaban mana yang akan kita pilih?



Tunggulwulung, 18 Februari 2020

Thursday, 11 April 2019

Belajar Merapikan dan Menata Kembali Mainan, Belajar Merapikan dan Menata Hidup



B   :
"Ayo Ka, dah jam sembilan, kita rapikan dulu mainannya sebelum bobo."

Kk :
"Bunda aja, Kak Ata capek."

B   :
"Ok, kita cepet-cepetan masukin mainannya ke kardus. Juaranya yang selesai duluan dan dapat hadiah tiket main air sepuasnya (ini sih triknya bunda aja, padahal main airnya cuma di kamar mandi)."

Kk :
"Hah, aha... yeayyy... Kak Ata yang menang... Kak Ata yang menang...."

B :
"Ok, kita buktikan... Bunda yg sini, Kak Ata yang sana ya...."

Dialog itu akhirnya happy ending. Semua mainan sudah tertata rapi di tempatnya. Selanjutnya, bunda wajib memenuhi janji untuk memberikan tiket main air sepuasnya. 

Ya, begitulah memang Nak... Hidup itu tak luput dari lelah dan capek. Kau yang tugasnya masih bermain-main saja tak luput dari lelah. Apalagi jika kau nanti sudah memiliki tanggung jawab seperti belajar di jenjang sekolah lebih tinggi dan akan semakin bertambah tanggung jawabmu seiring bertambahnya usia perkembanganmu.

Tapi kau tak boleh kalah hanya karena lelah, Nak!

Cari hal menarik yang kau suka sebagai pemantik semangatmu, sebagai tujuan dan pencapaianmu. Seperti saat dirimu capek ketika akan merapikan mainanmu kembali dan bunda menawarkan sesuatu yang menjadi kesenanganmu. Dengan cepat semangatmu menyambut dan lelahmu sirna. Seolah lupa dengan rasa lelahmu, kau susun mainanmu itu dengan telaten satu persatu hingga rapi ke tempat semula. Dan, kau berhasil, Nak! Lalu kau bertepuk tangan untuk dirimu sendiri dan merayakan keberhasilanmu. Dari sini rasa percaya dirimu meningkat setengah hingga satu level. 

Bunda akan terus membantu mengingatkanmu untuk merapikan kembali mainanmu setelah kau selesai memainkannya hingga kau paham arti tanggung jawab dan disiplin. Bahkan, hingga kau paham apa makna 'menata' dan 'merapikan' itu sendiri. Karena kelak dalam perjalanan hidup, kita akan sangat akrab dengan dua kata itu, Nak. Saking akrabnya hingga membuat kita kadang bosan dan membiarkan semuanya berantakan. Maka kau harus punya 'seni' Nak, agar 'menata' dan 'merapikan' itu menyenangkan dan akhirnya menjadi kebutuhanmu yang melekat pada perjalanan hidupmu. 

Birobuli Utara, 11 April 2019.

Saturday, 6 April 2019

Jalan Kebaikan




Helping Others is the way we help ourselves. (Oprah Winfrey)

Kutipan itu seolah memutar rekaman ingatanku pada belasan tahun silam saat masih duduk dibangku kuliah. Kala itu aku sedang dirundung rasa penat tingkat dewa yang benar-benar membuatku kehilangan motivasi. Dan, hampir saja absen dari perkuliahan pukul 7 pagi ini di Salemba. 

Aku menangis di sujud subuhku pagi itu, sejadi-jadinya, berteriak sekencang-kencangnya dalam hati sambil ku remas sajadah tempatku bersujud. Lama... 
Kubiarkan diriku larut dalam katarsis ini.
Hingga aku dikagetkan oleh suara ketukan di pintu kamarku. Aku bergegas bangkit dari sujudku dan menyeka air mataku dengan kain mukena yang menutupi punggung tanganku. 

Ibu Kantin. Begitu aku memanggilnya, ibu yang berjualan di kantin asrama yang menjadi langgananku dan kami memang dekat karena biasa saling curhat. Pagi ini, dia mendatangi kamarku dengan muka sembab bekas menangis. Dia menceritakan permasalahan yang menimpanya semalam. 

Lalu, apa yang ku lakukan sementara aku juga sedang terpuruk dengan bebanku sendiri? 

Aku menguatkan diriku untuk kemudian menguatkannya dan menawarkan bantuan semampuku. Ku hibur dia dengan kalimat-Nya dalam Q.S At Taubah ayat 40, "La Tahzan, Innallaha Ma'ana" yang artinya jangan bersedih, sesungguhnya Alloh bersama kita.

Lalu, apa yang kurasakan? Seperti sedang self-motivation. 

Aku yang terpuruk tetiba kembali bersemangat dan bangkit mengurai penat. Dan, tak lama setelah Ibu Kantin berpamitan dari kamarku, aku bergegas keluar dari asrama yang berada di kampus Depok untuk mengejar kelas di Salemba. 

Alloh memiliki cara-Nya sendiri untuk memberikan pertolongan pada hamba-Nya. Maka, agar kita dekat dengan pertolongan-Nya, hadirkan selalu Alloh dalam setiap hela napas kita dan ringankan diri kita untuk membantu sesama, membantu saudara kita, memudahkan urusannya, meringankan bebannya. Sekecil atau sesederhana apapun bentuk bantuan yang kita berikan menjadi sangat berharga bagi orang lain yang membutuhkan dan bahkan dapat menjadi inspirasi baginya untuk melakukan kebaikan minimal serupa. 

Bahkan sesederhana menyingkirkan batu di jalan, membantu orang lain menyeberang jalan, atau memberikan kursi kita untuk ibu hamil atau yang membutuhkan saat naik kendaraan umum. 
Insyaalloh, kita semakin dekat dengan pertolongan-Nya. 

"Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim)


Birobuli Utara, 6 April 2019.

Jangan Bimbang




Jangan #bimbang, agar kita #tenang.
Jangan bimbang, agar kita #senang.
Jangan bimbang, agar kita #menang.

Bimbang akan membuat hidup kita tak jua melangkah dan keputusan tak jua ditentukan. Karena bimbang adalah ragu. 

Kehadirannya akan membuat hati kita resah tak menentu, karena bimbang adalah gundah dan galau.

Kehadirannya akan membuat kita takut menghadapi kenyataan hidup yang mungkin tak semanis dan tak seindah yang kita harapkan, karena bimbang adalah khawatir.

Dan, kehadirannya merenggut ketenangan dalam hati, karena bimbang adalah wujud ketidakyakinan pada sebaik-baik pengatur jalan hidup kita.

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal". (QS At-Taubah:51)

Apapun yang menimpa kita, sejatinya tak lepas dari ketetapan-Nya. 
Lajur #benang kehidupan kita telah direnda apik oleh-Nya. Tugas kita, berenang-#renang menyusuri setiap lajur kehidupan kita dengan amal sepenuh keyakinan agar jiwa kita menang. Karena jiwa pemenang adalah jiwa yang tenang. Dan, jiwa yang tenang adalah jiwa yang ridha dan ikhlas terhadap ketetapan-Nya.

Kembalilah padanya. Bacalah Al Quran sebagai penawar kebimbangan kita. Bacalah setiap hari agar rahmat dan ridho-Nya meliputi perjalanan waktu kita dan memantapkan langkah kita.


Birobuli Utara, 28 Maret 2019.