Balada Emak Rempong
Menghitung hari dalam penantian. Ada gemuruh rindu yang mengharu. Tujuh belas hari sudah kau jalankan tugas negara disana dan meninggalkan kami disini. Aku yakin rindumu lebih bergemuruh, tapi aku tahu kau memilih menyimpannya apik dalam logikamu. My Darl, baik-baik di sana. Doa kami untukmu...
By the way,
Aku suka hari ini...
Bisa bangun lebih siang dan menyiapkan segalanya lebih santai. Semoga anak-anak mengikuti ritmeku, hihihi...
Sabtu, seruuuu!
Setelah kutunaikan sholat subuh, kubiarkan tubuhku meringkuk di bawah hangatnya selimut dan sejuknya udara ber-AC. Sejenak kumanjakan diri meski tak sepenuhnya bisa terlelap. Paling tidak aku bisa lebih relax. Santai...
Yay, Sabtu seruuuu!
Tujuh tiga puluh, aku bangun. Anak-anak masih lelap. Aku langkahkan kaki dengan berjingkat. Khawatir berisik dan membuat mereka terbangun. Dapur adalah tempat yang pertama kali kutuju. Mencuci piring, membersihkan kompor, mengelap wastafel dan rak piring, terakhir menyapu dan mengepel. Dapur, done. Kuintip mereka di kamar, ow... masih tidur. Ok, aku bisa menyapu dan mengepel ruang depan dan tengah. Belum tuntas kukerjakan, adek bangun disusul kakak. Buru-buru aku tuntaskan mengepel karena ini bisa menyebabkan mereka terpeleset.
Setelah kubersihkan tanganku dengan sabun, segera kusapa mereka di kamar dengan doa bangun tidur. Kuutarakan pada mereka tentang rencanaku mengajak mereka main pasir di depan rumah. Jangan ditanya bagaimana respon mereka. Terutama kakak, sampe teriak sambil lompat-lompat. Heboh senangnya. Ini bukan tanpa syarat. Pertama harus pipis dulu di kamar mandi, kedua harus sambil sarapan, dan ketiga tidak boleh berebut mainan dengan adek. Jika tidak dipenuhi, mereka harus masuk rumah dan main di dalam saja. Kakak setuju.
Main kotor-kotor di luar rumah terlihat sangat menyenangkan buat mereka. Kubiarkan mereka bebas tanpa banyak dibatasi. Membawa mainan keluar, main air, pasir, batu, manjat-manjat pagar, berteriak-teriak bila ada truk melintas di depan rumah (truk adalah transportasi favorit adek, jadi adek akan teriak heboh bila ada truk lewat)
Entah berapa lama kami habiskan waktu main di luar. Sampai kakak minta masuk sendiri yang ternyata mau pipis. Sampai disini, kusudahi main di luar dan segera kubersihkan tubuh mereka kemudian lanjut mandi. Selagi mereka kecipak-kecipuk main air, aku segera lari ke halaman rumah untuk membereskan mainan mereka.
Senang sekali melihat mereka sudah mandi, segar dan wangi. Dan kini, waktunya menikmati kudapan favorit mereka. Snack time... sambil menonton channel berbayar yang menayangkan acara khusus toddler. Melihat mereka, sejuuuuk hati rasanya.
Sudah lewat siang, mereka masih asyik bermain. Wajar, bangunnya saja siang. Baik, kuturuti mereka. Kita bermain mencocokkan warna, bermain konser musik (bundanya disuruh nyanyi sama kakak, wkwkwk....), lalu bermain apalagi ya tadi? Pokoknya seru.
Kuajak mereka masuk kamar untuk tidur siang yang sudah lewat. Tapi karena mati listrik dan AC tidak nyala, jadilah mereka tidurnya sebentar. Hingga sore menyapa dan kuajak mereka berkeliling menikmati udara sore sambil beli lauk untuk kami makan malam karena hari ini aku berpuasa dan hanya masak untuk Kak Ata saja makan pagi dan siang.
Subhanalloh...
Keseruan kami hari ini ditutup dengan riwehnya saat kakak kembali mengompol (terlambat dari prediksiku mengajak ke kamar mandi). Duhduhduh... riwehnya jangan ditanya. Kakak menangis, adek sempat terpeset, dan aku harus sigap mengamankan daerah najis agar tidak menyebar. Fyuh... luar biasa menguras kesabaran.
Nikmati saja kerempongan ini Mak!
Toh, dalam rempongmu masih ada jeda untuk recharge energimu atau sekedar bermesra dengan dirimu.
Sering-seringlah tersenyum...
karena itu akan meringankan bebanmu, merelaksasi otot-otot muka dan garis muda akan mewarnai wajahmu.
Nikmati saja kerempongan ini Mak!
Kelak kita akan merindukannya.
Birobuli Utara, 2 Maret 2019.