Wednesday, 6 March 2019

Hi Diary Part XVII


Balada Emak Rempong

Menghitung hari. Tak terasa dua puluh satu hari sudah terlewati. Terus berjuang di hari-hari yang tersisa. Terus menjaga semangat dan stamina hingga mampu memberikan penyambutan terbaik untuk sang terkasih. 

Self reminder sebenarnya untuk terus menjaga semangat dan stamina. Mengapa? Dua hari terakhir ini badan terasa lesu, lemah dan kurang bersemangat. Entah. Mungkin aku lelah, mungkin pre-menstruasi syndroma atau kurang asupan nutrisi (jasadiyah dan ruhiyah). Secara jasadiyah, memang aku kurang optimal asupan makan saat jam makan. Bahkan sering tertunda atau terlewat tidak makan. Bahkan disaat waktunya harus puasa, aku sering tidak sahur karena ketiduran. Jadilah mungkin semuanya menumpuk di sepuluh hari terakhir ini. Mungkin...

Secara ruhiyah, aku juga kurang memperhatikan asupan nutrisi. Sering kulewatkan target membaca Al Qur'an harianku. Jika pagi ba'da sholat subuh, terbaca baru beberapa lembar dan rencananya akan kulanjutkan diwaktu yang lain dihari itu juga. Memang aku lanjutkan tetapi nyatanya tak sampaipun aku di akhir target dengan berbagai alasan klasik. Entah itu disibukkan oleh anak-anak atau oleh pekerjaan rumah dan sisanya capek-lelah yang menyapa. 

Lelah...
Apa peredanya? Beri jeda pada aktifitasmu dan beristirahatlah.

Lemah dan lesu...
Apa peredanya? Beri asupan gizi yang cukup untuk fisikmu. Makan, minum, dan suplemen lainnya.

Tak bersemangat...
Apa peredanya? Beri asupan nutrisi yang cukup untuk ruhiyahmu.

Jadilah hari ini aku cukupkan istirahatku sebagai jeda dan mengejar target tilawah yang tertinggal. 

Pagi, rutinitas seperti biasa. Meski hampir saja aku tumbang dan menangguhkan beberapa rutinitasku. Tapi, aku berusaha mengalihkannya. Kubuka jendela depan dan kuhirup aroma pagi. Ya, berharap ini bisa menghimpun energiku kembali dan siap dengan rutinitas. Yap. Meski entah itu energi sudah terhimpun atau belum dalam ragaku tapi rasanya sedikit ada dorongan untuk bergerak. Slow but sure untuk hari ini. 

Usai mengantar kakak, aku dan adek langsung menuju jalan pulang. Padahal biasanya kami berputar-putar menikmati kesibukan kota di pagi hari. Sesampainya di rumah pun, aku terkulai. Lemas rasanya. Ditambah lagi hari ini aku puasa. Tapi tak seperti biasanya yang meski puasa aku masih tetap bersemangat. 

Kubiarkan tubuhku terkulai, duduk lemas sambil mengawasi adek bermain. Meski sesekali adek meminta perhatianku, merengkuh tanganku, dan menariknya untuk duduk bermain bersamanya. Senyum dan anggukan yang kuberikan lalu kualihkan adek untuk bermain yang lain. Lalu aku? Masih duduk terkulai di tempat yang sama. Sampai pada titik dimana adek sudah capek bermain dan mengantuk. Barulah aku bergerak menidurkannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.40 WITA. Adek sudah tidur dan giliran bersiap menjemput kakak sambil aku selesaikan beberapa cucian piring, menyapu dan membereskan sampah. 

***

Hingga waktu berbuka puasa tiba. Subhanalloh... segelas teh manis panas dan semangkuk siomay hangat yang kubeli di pinggiran Vatulemo menjadi hidangan pembuka. Kuberitahu kakak sebelumnya bila bunda mau buka puasa dulu, tampaknya kakak mengerti dan turut menjaga dan bermain bersama adek sehingga sejenak aku bisa menikmati berbuka. 

Menjadi seorang ibu itu luar biasa. Dia harus memiliki ribuan semangat sehingga tak ada alasan untuk patah. Sehingga jika patah satu hilang berganti. 
Menjadi seorang ibu itu luar biasa. Tidak boleh ada kata 'malas dan capek' dalam kamus aktifitas hariannya. 
Tapi dia hanyalah manusia biasa yang juga akan disapa olehnya. 
Mencari alasan untuk bangkit adalah jawabannya. 
Maka alasan terkuat adalah ridhlo-Nya. Sehingga jadikanlah Dia sumber kekuatan terbesar pembangkit semangat.

Birobuli Utara, 6 Maret 2019.

No comments:

Post a Comment