Wednesday, 6 March 2019

Hi Diary Part XVI

Balada Emak Rempong

Hari ke dua puluh.
Mendung pagi ini. Saat aku bangun, kakak masih terlelap sedangkan adek terlihat gelisah dan hampir saja terbangun. Mungkin haus. Segera aku menuju dapur untuk membuat susu untuk adek. Benar saja, setelah susu habis diminumnya, adek kembali tertidur. Barulah aku memulai rutinitas pagi.

Setelah semua beres dan siap, segera aku antar kakak ke sekolah tanpa bawa adek. Kubiarkan adek melanjutkan tidurnya hingga aku kembali sampai rumah lagi.

Sinar matahari yang redup membuatku tergoda untuk merumput di halaman rumah. Sekitar tiga minggu lamanya rumput di halaman rumah belum aku rapikan. Sudah meninggi. Ini alasan prioritas dan cuaca. Bumi Mutiara Katulistiwa ini memang terkenal panas, terik, dan jarang hujan. Jadi jika ingin beberes halaman harus pagi sebelum terik, waktu sore atau saat mendung.

Kebetulan sekali saat aku mau mulai beberes halaman, adek terbangun. Jadilah aku ajak saja sambil mainan di halaman. Adek terlihat menikmati sekali dan tanpa ada yang mengganggu karena kakak sekolah.

Sembilan puluh menit yang sangat lumayan. Rumput sudah rapi sekarang. Puas kupandangi halaman yang menghijau nan rapi. Saatnya mandi dan sarapan yang tertunda.

Kulihat adek mengantuk setelah mandi dan minum susu. Wah, jangan sampai adek tidur duluan karena bisa mengacaukan jam tidur kakak dan bagiku ini mempersulit bila jam tidurnya bergantian. Akhirnya kuajak saja adek menjemput kakak pulang sekolah. Meski sesampai kembali di rumah, adek sudah tidak nyaman dan rewel bukan kepalang. Baiklah, aku kondisikan adek terlebih dahulu. Kubiarkan adek masuk kamar bersama dot susunya. Kuperhatikan adek dari pintu kamar, sepertinya tidak lama lagi akan tertidur. Baik, adek sudah ter-handle. Kini giliran kakak.

Kakak memang aku biasakan untuk cuci tangan, cuci kaki, dan ganti baju segera sepulang sekolah. Jadilah kakak teriak-teriak tidak sabar minta dibukakan bajunya (resleting bajunya ada di belakang) sementara bunda mengutamakan adek. Lalu aku suapi kakak untuk makan siang dan setelah selesai kubiarkn kakak ke kamar dan tidur sendiri. Sementara aku, tidak lupa untuk makan siang dan kutunaikan sholat dzuhur.

Kuperhatikan dari celah pintu, adek dan kakak tidur tenang. Baik, giliran aku membereskan setrikaan yang menggunung.
Pukul 15.00 WITA, anak-anak sudah terbangun lebih cepat dari perkiraanku. Belum selesai aku menyetrika, tapi berusaha ku lanjutkan dulu hingga kondisinya masih memungkinkan. Hingga rasa lelah yang menghampiriku dan terpaksa aku sudahi.

Tiba-tiba kepalaku berkunang-kunang. Aku berusaha merebahkan badanku di kasur. Tapi, rasanya seperti semakin berputar. Aku langsung bangun. Aku takut tiba-tiba terjadi apa-apa sedangkan aku hanya sendiri bersama anak-anak.

Jadi, aku pikir aku tidak boleh memaksakan diri. Istirahat itu penting. Saat anak-anak tidir siang, inilah waktu yang tepat untuk kita ikut beristirahat. Mungkin barang 30-60 menit merebahkan badan itu berharga. Recharge energi karena saat mereka bangun, mereka membutuhkan perhatian kita yang penuh energi.


Birobuli Utara, 5 Maret 2019.

No comments:

Post a Comment