Rindu Ayah
Wajah polos itu dengan semangatnya menggenggam secarik kertas yang entah dia temukan darimana. Sembari menarik-narik bajuku dia bertanya tentang wajah yang ada di kerrtas itu. Ternyata kertas itu adalah fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik ayah. Iya, dia bertanya tentang siapa wajah di kertas itu. Ku jawab bahwa itu foto ayah. Tiba-tiba merah menghiasi matanya sembari berkata bahwa dia akan mengantarkannya pada ayah dan suaranya bergetar. Anak tiga tahunan itu sedang mencoba menahan tangis. Wajah polosnya tak bisa berbohong, ia rindu.
Ku coba menenangkannya...
Selepas sholat isya', ku coba menghubungi suamiku melalui video call. Ku berikan mobile phone ini pada kakak agar dia lega mengobrol sendiri dengan ayah. Awalnya seru tapi di akhir kakak mulai terlihat sedih, matanya kembali memerah dan dia berusaha menyembunyikannya dengan menutup matanya dan ber-akting jadi bajak laut sembari lari sana-sini. Jadilah obrolan mereka berhenti disini.
Saat adek sudah tidur, kulihat kakak belum tidur. Tampak seperti termenung sambil memeluk bantal kesayangannya. Ku peluk dia sambil berbisik, "Kakak, ini ayah...". Spontan dia kaget dan mengarahkan mukanya padaku. "Iya ini ayah... bunda jadi ayah", tegasku sambil tersenyum. "Iiiih, gak boleh... bunda gak boleh jadi ayah, bunda kan cantik", jawabnya sambil menunjukkan ekspresi tidak suka.
"Kakak mau ayah beneran... ", tambahnya. "Ok, kalau begitu sekarang kakak bobo. Dua hari lagi kita jemput ayah ya... insyaalloh ayah pulang".
Baru kali ini setelah suamiku berangkat tugas ke Tolitoli, sudah hampir satu bulan, kakak seperti ini. Mungkin, dada mungilnya tak cukup lagi untuk menyimpan rindu. Dan, aku belajar darinya tentang bagaimana mengekspresikan rindu.
Birobuli Utara, 12 Maret 2019.
No comments:
Post a Comment