Friday, 1 March 2019

Hi Diary Part XII


Balada Emak Rempong

Mendung menggelayut di langit Sulawesi Tengah sejak sore kemarin. Tak ada tetes air pun yang turun dari langit. Hanya guruh bersahutan tanda hujan akan datang tidak lama lagi. Ya, kemarin sore...
Nyatanya, hujan menyapa ketika malam sudah larut hingga tadi pagi. Hujan tidak begitu lebat, tipis saja. Namun cukup membuat udara di Bumi Mutiara ini menjadi lebih sejuk. Pasalnya, letak geografis membuat daerah ini bercurah hujan rendah. Jadi, mendung dan hujan ini telah membuka hariku. Membawa kesejukan dan ketentraman pada jiwaku. 

Pagi...

Kakak kubangunkan terlebih dahulu sambil berharap dalam hati agar adek siang saja bangunnya. Aku punya cara unik membangunkan kakak. Langsung saja kugendong dari tempat tidur menuju kamar mandi sambil bercerita apa saja yang mengundang perhatiannya. Cara ini sangat mujarab membangunkan kakak tanpa drama dan langsung mandi. Tapi, dramanya ada disaat mandi. Kakak selalu susah untuk mandi pagi dan pakai sabun. Alasannya dingin. Akhirnya bunda mengalah dengan hanya membasahi tipis sekujur tubuhnya dan gosok gigi saja. Next, mungkin ku coba dengan air hangat. Ya, barulah sore kumandikan lengkap tanpa protes. 

Pukul tujuh tiga puluh, aku dan kakak sudah siap berangkat. Kupastikan gerimis sudah berhenti agar aku tak repot mengenakan jas hujan. Agak males sama yang ribet-ribet begini. 

Kulihat adek masih lelap sekali tidurnya. Jadi, adek ditinggal saja barang 10 hingga 15 menit. Alhamdulillah, saat aku pulang mengantar kakak, adek masih tidur. Yes, aku bisa nyetrika hingga adek terbangun. Dan rencananya aku juga akan ke swalayan siang ini sebelum menjemput kakak untuk membeli susu dan beberapa kebutuhan mingguan. 

Alhamdulillah, rencanaku satu persatu done hingga siang ini meski setrikaan tidak selesai tapi tak apalah. Baju-baju prioritas saja yang aku setrika, lainnya bisa menyusul. 
Ok, hari sudah siang dan waktunya mengantarkan anak-anak untuk tidur yang ternyata aku juga ikut terlelap hingga lepas asyar. Aku segera bangun, kuambil air wudhu dan kutunaikan sholat. Mengingat azzamku kemarin, waktu asyar adalah reminder. Waktunya aku evaluasi tentang tumbuh kembang anak-anakku hari ini (bagaimana asupan nutrisinya, belajar tentang apa ia hari ini, dan sudahkah waktuku optimal bersamanya tanpa "sembari"). 

Baiklah, untuk asupan nutrisi kakak; makannya pinter (tidak picky eater), dan minum susu juga oke. PR-nya belajar makan buah lebih baik. Sedangkan untuk adek, aku masih pelan-pelan mengajarinya makan. Apa pasal, adek maunya memasukkan makanannya sendiri (masa baby led weaning) dan bila makan di-emut dan disemprot-semprotkan bila tidak sesuai dengan seleranya. Alhasil, makannya lama dan nutrisi yang masuk pastilah minim. Cobaan banget buatku. Tapi, aku pelan-pelan mengajarinya makan dengan cara melibatkannya ketika aku menyuapi kakak makan. Sesuap itu sangat berharga dan selebihnya aku kejar dengan asupan susu. Bismillah saja, semoga segera terlewati masa-masa susah makan seperti zaman kakak dulu. 

Belajar apa mereka hari ini? Aku tidak membuat tema khusus untuk mengajari mereka. Apa yang sedang mereka lihat saja kujadikan pelajaran. Seperti saat antar kakak ada sapi, bunyinya apa, merupakan hewan yang dipelihara, bisa diambil susunya, dan seterusnya... seterusnya... Tetapi untuk kakak, aku mulai tetapkan tema seperti mengenal bentuk huruf, membaca huruf hijaiyah, hafalan surat pendek, adab mendengarkan azan dan kisah nabi-rasul.

Lalu, sudahkah waktuku optimal bersamanya tanpa "sembari"?. Aku merasa masih kurang untuk yang satu ini. Jadilah, aku tutup kekurangannya dengan bermain dan menggambar bersama di teras rumah. Enam puluh menit hingga azan maghrib berkumandang, lumayan daripada tidak. 

Evaluasi menjadi sangat penting dilakukan sebagai tolok ukur keberhasilan dari apa yang direncanakan. 
Dari evaluasi, kita bisa menentukan sikap selanjutnya. 
Jadi Emak, serempong apapun kita, sebisa mungkin memiliki waktu jeda untuk sekedar evaluasi agar hari-hari kita memiliki tujuan dan tidak salah arah. 

Birobuli Utara, 1 Maret 2019.

No comments:

Post a Comment