Cerpen
Oleh Kanisa Pelangi*
"Allah...
Allah... Allah..." Hanya ini yang keluar dari mulutku dan terus kubisikkan
di telinga kanan bu lik1 Nia yang kini sedang melawan maut di
salah satu kamar ICVCU. Tak terputus... Sesekali tercekat oleh tangis yang tak
kuasa ku bendung.
"Allah...
Allah... Allah..." Tak terputus, dan terus kubisikkan. Badanku setengah
membungkuk, berdiri di pojok samping kanan bu lik Nia, tepat menjangkau
telinga. Sebelah kanan dan kirinya, berdiri petugas kesehatan yang bergantian
memompa dada bu lik Nia dengan begitu sigap. Satu orang sibuk mondar-mandir,
meracik obat sambil meneriakkan sesuatu, entah, tapi mungkin itu adalah nama
obat yang ia masukkan. Dan, satu orang lagi dengan stetoskop menggantung di
lehernya, berdiri kira-kira di ujung tempat tidur, dekat kaki bu lik Nia. Ia,
hanya berdiri sambil mengarahkan pandangannya ke arah bu lik Nia dan sesekali
ke arah monitor yang terus bersuara seolah suara jantung bu lik Nia yang
dikeraskan. Semua sibuk. Dan begitu riuh, meretakkan keheningan malam. Saat ini,
tepat pukul 23.30.
"Allah...
Allah... Allah..." Terus kubisikkan di telinga kanan bu lik Nia, dengan
berdiri setengah membungkuk. Ku belai pipinya, ku usap pundaknya, dan kugenggam
lengan dan tangannya sejauh yang ku raih sembari terus membisikkan kata-Allah
di telinganya. Tiba-tiba, terlihat laki-laki tua masuk ke dalam kamar dengan
jalan tergopoh-gopoh bersama tongkatnya. Itu bapak. Beliau tersenyum menatapku
dan matanya terlihat pak berkaca-kaca. Aku berusaha bangun dan mendekati bapak.
Tapi bapak memberiku kode untuk tetap berada di tempat. Bapak yang mendekatiku.
Mengambil posisi di samping kananku dan mendekati telinga bu lik Nia,
membisikkan kata-Allah ditelinganya. Bapak, sesekali menengok ke kiri, sembari
menatapku. Begitu berulang kali. Entah, tatapan yang keberapa, bapak dengan
suara rendah mengatakan bahwa bu lik Nia adalah ibu kandungku. Mulutku terdiam.
Dadaku berdegup sangat cepat. Mata kami saling bertatap. Spontan, aku raih
telapak tangan kanan bu lik Nia, aku cium tangannya berkali-kali dan ku
katakan,"Ibuuu... maafkan Ifa... terima kasih semuanya, terima kasih atas
keputusan ibu menyerahkan pengasuhan Ifa pada keluarga bapak Bayu... Terima
kasih Bu..." Terus ku ciumi tangan ibu kandungku sembari tersedu dan
ingatanku terus berputar setengah memprotes, "Kenapa bapak baru memberi
tahuku sekarang...?"
Dua
puluh menit berlalu, dan dokter menyatakan kondisi bu lik Nia, ibu kandungku,
kembali stabil dan akan kembali diobservasi ketat. Dada bu lik Nia tidak lagi
dipompa, selang napas dari mulut yang tadinya dipompa dengan balon manual, kini
disambung kembali dengan mesin napas.
Aku
dan bapak diminta keluar kamar dan diperbolehkan untuk sementara menunggu di
dalam ruangan ICVCU, di depan kamar bu lik Nia.
Aku
terus tertunduk, sesenggukan, sesekali menatap wajah ibu kandungku yang
terbaring di kamar ICVCU dengan penuh sesal, "Kenapa aku baru tahu
sekarang... Terlambat! Pantaskah aku menjadi anak yang berbakti?"
Bapak
menggenggam erat pundakku sembari memegang tongkatnya di tangan kiri dan
berkata, "Ifa, maafkan Bapak. Seharusnya Bapak dari dulu memberi tahu kamu
siapa orang tuamu sebenarnya. Ini, pasti sangat mengagetkanmu bukan? Maafkan
Bapak Nak? Sekarang, terserah kamu, kamu bisa panggil Bapak dengan panggilan
Pak lik2 karena bapak adalah Paklikmu sendiri." Spontan,
kudekap bapak dengan erat, sangat erat. Dan, kubisikkan kata, "Terima
Kasih Bapak, Bapak adalah bapak yang telah mengasuhku dari kecil dengan penuh
kasih sayang, mengantarkanku mengejar citaku. Sekali lagi Terima kasih..."
1Bu lik : Tante
2Pak lik : Om
Kembangan, 14 Maret 2013
*Kanisa Pelangi adalah nama
pena dari Vitis Vinivera Khasanah