Monday, 11 August 2014

Munajat Cinta di Sepenggal Ramadhan

*Cerpen oleh Kanisa Pelangi (Vitis Vinivera Khasanah)
Cerpen pemenang I Lomba Cerpen Ramadhan 1435H Pusat Jantung Nasional Harapan Kita

Gerimis, menemani sore sendiriku…
Di pojok jendela baku,
aku mengadu pilu,
atas harap diri dan harap kami,
yang tak berujung beradu…
kini menyisakan sendu.

Sudah halaman ke dua ratus, puisiku menghiasi buku harianku. Buku harian yang memang sengaja kubuat sendiri dari kertas bekas skripsiku yang tidak lagi terpakai, kemudian kujilid dan jadilah buku harian yang sangat sederhana.

*******
Sejak dua bulan lalu, aku biasa mengusir sepi di sini.
Kamar berukuran empat kali enam meter persegi yang terletak di lantai dua rumah kami, sengaja kami sulap menjadi perpustakaan pribadi. Sekitar seribu lima ratus koleksi buku, kami tata apik dalam rak buku empat tingkat yang kami susun menghiasi tiga sisi dinding ruangan ini. Bagian tengah dan dekat jendela kami tempatkan satu meja dan dua kursi.

Ya, di sini aku biasa mengusir sepi. Duduk di samping jendela, menulis puisi di buku harian sederhanaku, membaca buku, dan secangkir green tea hangat.

*******
“Tin… Tin…, suara klakson mobil dari arah pintu.
“Mas Dani, sebentar…, teriakku dari jendela ruang buku sambil kulambaikan tangan dan menguluk senyum.
Aku segera turun dan membukakan pintu pagar depan. Tak sabar rasanya, ingin cepat-cepat menyambut Mas Dani setelah kurang lebih dua minggu ditinggal tugas kantor ke Papua. 
Dan seperti biasa, setiap Mas Dani pulang, aku selalu mencium tangannya dan Mas Dani membalasnya dengan mencium keningku.
“Masak apa Dek… ”
“Sup jamur dan udang goreng kesukaan Mas Dani… ”
“Mas mandi dulu ya Dek…”
“Sebentar Mas… ini ada jahe hangat, diminum dulu ya…”
“Terima kasih istriku… ” ucap Mas Dani dengan sangat mesra.
Dan, kecupan hangat pun mendarat di kedua pipiku…
“Sama-sama suamiku… Aku mencintaimu Mas Dani…” ucapku membalas Mas Dani.

Kutunggu Mas Dani di meja makan untuk makan malam. Dan, mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk menyampaikan masalah ini. Mood Mas Dani sedang baik. Semoga Mas Dani bisa bersabar dan berlapang dada, juga tidak ada pertengkaran.
Ya, hampir setiap kami membahas hal ini, selalu berujung dengan pertengkaran.
Entahlah…
Menginjak tahun kesepuluh. Seharusnya banyak belajar dari pengalaman. Dan, setidaknya ada perubahan.

“Dek, ayo makan… ” suara Mas Dani mengagetkan lamunanku.
“Oh, iya Mas mumpung masih hangat…” sembari kuambilkan piring, nasi dan lengkap dengan lauknya.
“Jangan banyak-banyak Dek… ”
“Ini cukup Mas?” sembari kusorongkan piring ke arah Mas Dani.
“Iya, cukup, terima kasih…” ucap Mas Dani sambil tersenyum menatapku.

Melihat Mas Dani dengan mood yang bagus dan makan dengan lahap, tidak enak kiranya aku mengarahkan pembicaaraan pada hal yang sedikit lebih serius seperti yang ku rencanakan. Mungkin nanti saja cari waktu yang lebih tepat. Aku sedikit banyak belajar dari pertengkaran yang kerap kali terjadi.

*******
“Adek, sudah sholat Isya’? Mas belum sholat, mau jama’ah?”
“Iya Mas, sholat duluan saja, Nisa mau ke kamar mandi dulu.”
“O iya, Mas sholat dulu ya… ” ucap Mas Dani sembari menuju ke kamar

Sekilas, kami sempat saling memandang dan tersenyum tipis. Segera aku menuju kamar mandi, kutarik napas dalam dan tidak terasa, air mataku meleleh. Entah… aku begitu takut. Aku, takut kehilangan suamiku yang sholeh, pandai juga tampan. Segera kusapu kedua mataku yang basah. Ku hampiri Mas Dani di kamar. Tampaknya, Mas Dani sudah selesai sholat.

“Mas, sudah selesai sholat?” tanyaku sambil mencium tangannya.
“Sudah… Adek mau sholat? Ini…” Ucap Mas Dani sambil membentangkan sajadah untukku.

Kupandangi Mas Dani yang sedang membentangkan sajadah untukku. Dan tidak terasa air mataku meleleh. Tampaknya, Mas Dani belum sadar apa yang sudah terjadi.      

“Mas, maaf, sepertinya Allah belum memberikan kita amanah saat ini… ” ucapku sambil sesekali mengusap kedua mataku yang basah.

Kami terdiam. Tak ada sepatah katapun yang keluar kemudian. Aku tertunduk sambil menangis. Dan Mas Dani, duduk terdiam dan tanpa ada suara.

Berbeda dengan sebelumnya. Biasanya Mas Dani menyalahkanku dengan dalih, aku terlalu sibuk dengan kerjaan kantor sehingga program kami tak kunjung berhasil. Inseminasi sudah kami jalani sebanyak tiga kali sejak Januari lalu. Selanjutnya, kami disarankan untuk berikhtiar dengan bayi tabung. Dan, keputusan kami bulat untuk setuju meski dana yang dibutuhkan sangatlah fantastis bagi kami. Apapun, akan kami usahakan. Memiliki keturunan adalah kebahagiaan bagi kami. Dan, kami akan tebus kebahagiaan itu meski dengan harga yang mahal. Keputusan untuk bayi tabung bukanlah keputusan main-main. Aku sadar betul. Dan, aku mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaanku sebagai wartawan pada bulan April. Ini adalah bentuk keseriusanku. Sedangkan Mas Dani, cenderung mengurangi kegiatan diluar jam kantor.

Dua bulan kami mempersiapkan untuk bayi tabung ini. Ya, ini bukan keputusan main-main. Sebetulnya kami sudah sepakat untuk menerima apapun hasilnya nanti. Namun, kenyataan tidaklah seringan rasanya saat kesepakatan itu diucapkan.

Kuberanikan diri untuk memandang Mas Dani, berharap Mas Dani membalasnya dengan memandangku. Tapi ternyata tidak. Mas Dani meninggalkanku menuju tempat tidur sembari melipat sajadah yang sebelumnya ia bentangkan untukku. Mas Dani berlalu di depanku tanpa satu patah katapun.

Aku menyusulnya ke tempat tidur. Menunggu Mas Dani angkat bicara. Lama…
Aku terbangun oleh alarm handphone-ku. Pukul setengah tiga pagi. Tak sadar, ternyata aku tertidur. Kulihat di sampingku, tidak ada Mas Dani.

“Tidak biasanya Mas Dani sudah bangun jam segini,” ucapku sembari bangun dan mencari Mas Dani.

Kulihat lampu kamar tamu menyala.

“Aneh, selama ini aku dan Mas Dani hampir tidak pernah memakai kamar tamu bila tidak ada tamu,” gumamku sambil menuju kamar tamu dan membuka perlahan pintunya.

“Subhanallah…,” ucapku  sembari menitikkan air mata.

Di kamar tamu, kulihat Mas Dani sedang menangis dan berdoa sembari bersujud. Lirih kudengar Mas Dani mengucapkan:

Allahumma, la ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin

Seingatku, ini adalah doa Nabi Yunus ketika berada di dalam perut ikan Hut. Saat itu Nabi Yunus begitu terhimpit dan kemudian melafadzkan doa itu hingga doanya menembus ‘Arsy. Dan Allah SWT melepaskan Nabi Yunus dari keterhimpitan.

“Subhanallah…,” mulutku terus bergumam dengan air mata yang terus menetes dan tubuhku terduduk di samping pintu kamar tamu itu.

Kemudian lirih kudengar lagi doa Mas Dani:

“Ya Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku ini termasuk orang-orang yang zalim. Ya Allah Tiada apa pun yang berhak sebagai Tuhan melainkan Engkau ya Allah dan Sungguh ya Allah, aku ini adalah termasuk dalam golongan orang yang zalim. Yang menzalimi diriku sendiri ya Allah dengan tidak berserah kepadaMu ya Allah.
Ya Allah aku mohon ya Allah agar diperkuatkan jiwa ini ya Allah, diberi petunjuk ya Allah. Kuatkan jiwa ini agar mampu berserah ya Allah. Ya Allah………… Ya Allah……….. Ya Allah…… Robbi habli mil ladunka dzurriyyah, innaka sami’ud-du’a… Ya Allah, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesunguhnya Engkau Maha Pendengar doa. Amin…”.

Tampaknya Mas Dani sudah selesai, bergegas ku berdiri dan menuju kamar mandi untuk bersiap Tahajud.

*******
Dua hari berlalu. Aku dan Mas Dani belum juga membuka suara. Aku pikir, Mas Dani yang memulai dan sudah seharusnya Mas Dani pula yang mengakhiri.
Dua hari berlalu tanpa ada sarapan dan makan malam bersama apalagi saling beruluk salam. Dan, Mas Dani lebih memilih kamar tamu.
Aku, tak tahan bila diperlakukan seperti ini. Dan, kuputuskan untuk pulang ke rumah ibu di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Aku pergi begitu saja, tanpa izin Mas Dani dan tanpa meninggalkan pesan.

*******
Dua puluh delapan Juni.
Sudah dua hari di rumah ibu. Aku berusaha menutupi masalah rumah tanggaku dengan mengatakan kepada ibu bahwa Mas Dani sedang pergi tugas ke luar kota. Aku tidak ingin membuat ibu khawatir.
“Nisa… ” suara ibu mengagetkanku.
“Iya Bu…” Aku segera menghampiri ibu yang tengah asyik menjahit di ruang tengah.
“Nanti malam kita tarawih sayang, kamu pakai mukena ini ya…” kata ibu sembari senyum dan menyorongkan mukena bordir buatannya ke arahku.
“Bagus sekali… lembut, bahannya bagus… dan juga sudah wangi… terima kasih Bu…” ucapku sembari memeluk dan mencium ibu.
“Nisa, ada suara klakson mobil, mungkin itu suamimu sayang… bukakan pintu pagar Nak…”
“Ibu, Nisa belum mandi dan berdandan untuk Mas Dani, biar Mang Suryana aja yang bukain ya Bu…” ucapku dengan sedikit kikuk sembari tergesa-gesa menuju kamar mandi.
Aku bergegas menuju kamar mandi yang berada di kamarku yang kini menjadi kamar kami, aku dan Mas Dani apabila menginap di rumah ibu.
“Ya ampun, itu betul Mas Dani… untuk apa Mas Dani kesini…” gumamku sembari mengintip ke arah luar dari jendela kamar dekat pintu kamar mandi.
“Nisa… cepat mandinya dan temui suamimu Nak…” teriak ibu dari ruang tamu.
“Untuk apa Mas Dani datang kesini…” aku terus bergumam mempertanyakan kedatangan Mas Dani ke rumah ibu.

Selepas mandi dan berdandan, dengan sedikit gagap kutemui Mas Dani yang sedang mengobrol dengan Ibu di ruang tengah. Ku usahakan bersikap biasa saja dengan Mas Dani. Ku cium tangan Mas Dani dan duduk disampingnya. Aku, Mas Dani dan ibu mengobrol dengan santai hingga Maghrib tiba dan dilanjutkan berjama’ah bersama di Musholla keluarga yang terletak di halaman belakang rumah ibu. Bersama Mang Suryana, Bi Ijah, dan Mas Dani sebagai imamnya.

*******
“Dek, Mas jemput Adek untuk pulang ke rumah kita. Melalui Ramadhan bersama. Ini adalah Ramadhan kita yang kesepuluh. Mas tidak mau Ramadhan kali ini kita lalui sama dengan Ramadhan sebelumnya yang sibuk dengan urusan masing-masing. Adek mau kan?” Ucap Mas Dani sembari menggenggam tangan kananku.
Aku diam. Kubiarkan Mas Dani terus bicara.
“Maafkan atas sikap Mas yang selama ini diam. Ini karena Mas takut bila Mas membuka pembicaraan dengan Adek, Mas akan emosi. Tiga hari, Mas Diam dan menyendiri di kamar tamu. Sholat Hajat dan Istikharah agar keputusan yang akan Mas ambil tidak salah. Mas berharap Adek bisa mengerti” ucap Mas Dani meneruskan.   
“Iya, Nisa maafkan Mas. Nisa mengerti posisi Mas Dani cukup sulit. Sebagai anak tunggal, tentunya Mas Dani adalah satu-satunya harapan mama dan papa. Nisa siap Mas…” ucapku sembari menangis.
“Mas, Nisa siap… bila Mas Dani memutuskan untuk menikah lagi atau mungkin…,” mulutku tercekat dan tangisku kembali pecah.
 “Ssst… ,” ucap Mas Dani memotong pembicaraanku sambil mendekatkan telunjuknya tepat di depan mulutku.
“Dek Nisa sayang, Mas mencintaimu dan menyayangimu karena Allah. Mas berharap, kita bisa berusaha sekali lagi selepas Ramadhan. Dan selama Ramadhan ini, kita fokuskan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, bermunajat dan memohon kepada Allah agar Allah mengabulkan hajat kita untuk memiliki keturunan. Dan Mas berencana untuk mengajak Dek Nisa umrah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Semoga kita diberikan berkah yang banyak di bulan Ramadhan tahun ini” ucap Mas Dani sembari menangis dan memelukku sangat erat.
“Amin… Iya, Nisa mau Mas, berusaha sekali lagi” jawabku sambil mengusap kedua mataku yang terus basah.
“Sekali lagi, artinya ini adalah usaha terakhir Mas?”
“Dek, intinya kita berusaha lagi. Usaha terakhir atau bukan, kita lihat saja nanti” ucap Mas Dani menjawab pertanyaanku.
“Baik Mas, Nisa setuju. Kita harus berusaha lagi. Tentang bagaimana nanti dan hasilnya, kita serahkan saja sama Allah”

Aku sedikit curiga dengan rencana Mas Dani selanjutnya. Tapi, sudahlah. Manusia hanya bisa berikhtiar dengan sungguh-sungguh dan menyerahkan hasilnya hanya kepada Allah semata. Aku berjanji mulai saat ini akan kusingkirkan prasangka negatif tentang Mas Dani. Aku harus percaya sepenuhnya pada Mas Dani. Seingatku, Allah juga berfirman untuk menjauhi prasangka karena sebagian dari prasangka adalah dosa.
“Astaghfirulloh… Ya Allah, semoga Engkau jauhkan aku dan keluargaku dari hal-hal yang tidak baik” ucapku sembari bergumam mengamini doaku sendiri.

“Tok.. Tok… Tok… Nisa, Nak Dani, mari sahur…” ucap ibu membangunkan kami dari balik pintu.
“Astaghfirulloh, Mas, sudah jam setengah empat pagi” ucapku membangunkan Mas Dani.
Kami pun bergegas bangun untuk qiyamul lail terlebih dahulu sebelum sahur.

*******
Ramadhan kami lalui dengan banyak ibadah sunnah bersama. Selepas Shubuh, kami tilawah hingga menjelang Mas Dani berangkat ke kantor. Waktu Dhuha, kami saling mengirim pesan singkat untuk mengingatkan sholat dhuha setidaknya full 12 raka’at. Waktu berbuka adalah waktu kebersamaan kami. Berbuka, kemudian berdoa bersama tentang hajat kami setelahnya. Dilanjutkan tarawih bersama ke masjid jami’ komplek kami yang letaknya tepat di depan rumah kami.
Hari-hari Ramadhan kali ini kami lalui dengan kebersamaan yang baik. Sayang dan cintaku pada Mas Dani semakin kuat dan seperti diperbaharui kembali. Entah karena apa. Mungkin, ini karena kami memperbaiki rasa cinta dan sayang kami kepada Allah dan Allah pun memperbaiki rasa cinta dan sayang diantara kami.
Rangkaian ibadah Ramadhan kami lanjutkan pada sepertiga malam. Qiyamul lail, shalat taubat dilanjutkan sholat hajat. Alhamdulillah, seluruh rangkaian ibadah itu dapat kami lewati bersama hingga waktu umrah tiba yaitu tepat pada hari kelima belas Ramadhan. Lima belas hari Ramadhan sisanya kami lewati di Mekkah dan dilanjutkan dengan Sholat Iedul Fitri di Masjidil Haram.
Subhanalloh. Tidak hentinya kami mengucap rasa syukur sekembalinya ke tanah air dan kembali berkumpul dengan keluarga besar kami. Terlebih, dua minggu sepulang dari ibadah umrah, aku dinyatakan positif hamil sebelum usaha medis yang memang sudah kami rencanakan sebelumnya. Subhanallah, hanya Allahlah tempat kembali segala perkara. 

Griya Serpong Asri, 6 Juli 2014
*Kanisa Pelangi adalah nama pena dari Vitis Vinivera Khasanah