*Cerpen oleh Kanisa Pelangi (Vitis Vinivera Khasanah)
Cerpen pemenang I Lomba Cerpen Ramadhan 1435H Pusat Jantung Nasional Harapan Kita
Gerimis,
menemani sore sendiriku…
Di
pojok jendela baku,
aku
mengadu pilu,
atas
harap diri dan harap kami,
yang
tak berujung beradu…
kini
menyisakan sendu.
Sudah
halaman ke dua ratus, puisiku menghiasi buku harianku. Buku harian yang memang
sengaja kubuat sendiri dari kertas bekas skripsiku yang tidak lagi terpakai,
kemudian kujilid dan jadilah buku harian yang sangat sederhana.
*******
Sejak
dua bulan lalu, aku biasa mengusir sepi di sini.
Kamar
berukuran empat kali enam meter persegi yang terletak di lantai dua rumah kami,
sengaja kami sulap menjadi perpustakaan pribadi. Sekitar seribu lima ratus
koleksi buku, kami tata apik dalam rak buku empat tingkat yang kami susun
menghiasi tiga sisi dinding ruangan ini. Bagian tengah dan dekat jendela kami
tempatkan satu meja dan dua kursi.
Ya,
di sini aku biasa mengusir sepi. Duduk di samping jendela, menulis puisi di
buku harian sederhanaku, membaca buku, dan secangkir green tea hangat.
*******
“Tin…
Tin…,” suara klakson mobil dari arah pintu.
“Mas
Dani, sebentar…,” teriakku dari jendela ruang buku sambil kulambaikan
tangan dan menguluk senyum.
Aku
segera turun dan membukakan pintu pagar depan. Tak sabar rasanya, ingin
cepat-cepat menyambut Mas Dani setelah kurang lebih dua minggu ditinggal tugas
kantor ke Papua.
Dan
seperti biasa, setiap Mas Dani pulang, aku selalu mencium tangannya dan Mas
Dani membalasnya dengan mencium keningku.
“Masak
apa Dek… ”
“Sup
jamur dan udang goreng kesukaan Mas Dani… ”
“Mas
mandi dulu ya Dek…”
“Sebentar
Mas… ini ada jahe hangat, diminum dulu ya…”
“Terima
kasih istriku… ” ucap Mas Dani dengan sangat mesra.
Dan,
kecupan hangat pun mendarat di kedua pipiku…
“Sama-sama
suamiku… Aku mencintaimu Mas Dani…” ucapku membalas Mas Dani.
Kutunggu
Mas Dani di meja makan untuk makan malam. Dan, mungkin sekaranglah waktu yang
tepat untuk menyampaikan masalah ini. Mood
Mas Dani sedang baik. Semoga Mas Dani bisa bersabar dan berlapang dada, juga
tidak ada pertengkaran.
Ya,
hampir setiap kami membahas hal ini, selalu berujung dengan pertengkaran.
Entahlah…
Menginjak
tahun kesepuluh. Seharusnya banyak belajar dari pengalaman. Dan, setidaknya ada
perubahan.
“Dek,
ayo makan… ” suara Mas Dani mengagetkan lamunanku.
“Oh,
iya Mas mumpung masih hangat…” sembari kuambilkan piring, nasi dan
lengkap dengan lauknya.
“Jangan
banyak-banyak Dek… ”
“Ini
cukup Mas?” sembari kusorongkan piring ke arah Mas Dani.
“Iya,
cukup, terima kasih…” ucap Mas Dani sambil tersenyum menatapku.
Melihat
Mas Dani dengan mood yang bagus dan
makan dengan lahap, tidak enak kiranya aku mengarahkan pembicaaraan pada hal
yang sedikit lebih serius seperti yang ku rencanakan. Mungkin nanti saja cari
waktu yang lebih tepat. Aku sedikit banyak belajar dari pertengkaran yang kerap
kali terjadi.
*******
“Adek,
sudah sholat Isya’? Mas belum sholat,
mau jama’ah?”
“Iya
Mas, sholat duluan saja, Nisa mau ke kamar mandi dulu.”
“O
iya, Mas sholat dulu ya… ” ucap Mas Dani sembari menuju ke kamar
Sekilas,
kami sempat saling memandang dan tersenyum tipis. Segera aku menuju kamar
mandi, kutarik napas dalam dan tidak terasa, air mataku meleleh. Entah… aku
begitu takut. Aku, takut kehilangan suamiku yang sholeh, pandai juga tampan.
Segera kusapu kedua mataku yang basah. Ku hampiri Mas Dani di kamar. Tampaknya,
Mas Dani sudah selesai sholat.
“Mas,
sudah selesai sholat?” tanyaku sambil mencium tangannya.
“Sudah…
Adek mau sholat? Ini…” Ucap Mas Dani sambil membentangkan sajadah untukku.
Kupandangi
Mas Dani yang sedang membentangkan sajadah untukku. Dan tidak terasa air mataku
meleleh. Tampaknya, Mas Dani belum sadar apa yang sudah terjadi.
“Mas,
maaf, sepertinya Allah belum memberikan kita amanah saat ini… ” ucapku
sambil sesekali mengusap kedua mataku yang basah.
Kami
terdiam. Tak ada sepatah katapun yang keluar kemudian. Aku tertunduk sambil
menangis. Dan Mas Dani, duduk terdiam dan tanpa ada suara.
Berbeda
dengan sebelumnya. Biasanya Mas Dani menyalahkanku dengan dalih, aku terlalu
sibuk dengan kerjaan kantor sehingga program kami tak kunjung berhasil.
Inseminasi sudah kami jalani sebanyak tiga kali sejak Januari lalu.
Selanjutnya, kami disarankan untuk berikhtiar dengan bayi tabung. Dan,
keputusan kami bulat untuk setuju meski dana yang dibutuhkan sangatlah
fantastis bagi kami. Apapun, akan kami usahakan. Memiliki keturunan adalah
kebahagiaan bagi kami. Dan, kami akan tebus kebahagiaan itu meski dengan harga
yang mahal. Keputusan untuk bayi tabung bukanlah keputusan main-main. Aku sadar
betul. Dan, aku mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaanku sebagai
wartawan pada bulan April. Ini adalah bentuk keseriusanku. Sedangkan Mas Dani,
cenderung mengurangi kegiatan diluar jam kantor.
Dua
bulan kami mempersiapkan untuk bayi tabung ini. Ya, ini bukan keputusan
main-main. Sebetulnya kami sudah sepakat untuk menerima apapun hasilnya nanti.
Namun, kenyataan tidaklah seringan rasanya saat kesepakatan itu diucapkan.
Kuberanikan
diri untuk memandang Mas Dani, berharap Mas Dani membalasnya dengan
memandangku. Tapi ternyata tidak. Mas Dani meninggalkanku menuju tempat tidur
sembari melipat sajadah yang sebelumnya ia bentangkan untukku. Mas Dani berlalu
di depanku tanpa satu patah katapun.
Aku
menyusulnya ke tempat tidur. Menunggu Mas Dani angkat bicara. Lama…
Aku
terbangun oleh alarm handphone-ku.
Pukul setengah tiga pagi. Tak sadar, ternyata aku tertidur. Kulihat di
sampingku, tidak ada Mas Dani.
“Tidak
biasanya Mas Dani sudah bangun jam segini,” ucapku sembari bangun dan mencari
Mas Dani.
Kulihat
lampu kamar tamu menyala.
“Aneh,
selama ini aku dan Mas Dani hampir tidak pernah memakai kamar tamu bila tidak
ada tamu,” gumamku sambil menuju kamar tamu dan membuka perlahan pintunya.
“Subhanallah…,”
ucapku sembari menitikkan air mata.
Di
kamar tamu, kulihat Mas Dani sedang menangis dan berdoa sembari bersujud. Lirih
kudengar Mas Dani mengucapkan:
Allahumma, la ilaha illa
anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin
Seingatku, ini adalah doa Nabi Yunus ketika
berada di dalam perut ikan Hut. Saat itu Nabi Yunus begitu terhimpit dan
kemudian melafadzkan doa itu hingga doanya menembus ‘Arsy. Dan Allah SWT melepaskan
Nabi Yunus dari keterhimpitan.
“Subhanallah…,” mulutku terus bergumam dengan
air mata yang terus menetes dan tubuhku terduduk di samping pintu kamar tamu
itu.
Kemudian lirih kudengar lagi doa Mas Dani:
“Ya
Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku ini termasuk
orang-orang yang zalim. Ya Allah Tiada apa pun yang berhak
sebagai Tuhan melainkan Engkau ya Allah dan Sungguh ya Allah, aku ini adalah
termasuk dalam golongan orang yang zalim. Yang menzalimi diriku sendiri ya
Allah dengan tidak berserah kepadaMu ya Allah.
Ya Allah aku mohon ya Allah
agar diperkuatkan jiwa ini ya Allah, diberi petunjuk ya Allah. Kuatkan jiwa ini
agar mampu berserah ya Allah. Ya Allah………… Ya Allah……….. Ya Allah…… Robbi habli
mil ladunka dzurriyyah, innaka sami’ud-du’a… Ya Allah, berilah aku dari sisi
Engkau seorang anak yang baik. Sesunguhnya Engkau Maha Pendengar doa. Amin…”.
Tampaknya Mas Dani sudah
selesai, bergegas ku berdiri dan menuju kamar mandi untuk bersiap Tahajud.
*******
Dua hari berlalu. Aku dan Mas
Dani belum juga membuka suara. Aku pikir, Mas Dani yang memulai dan sudah
seharusnya Mas Dani pula yang mengakhiri.
Dua hari berlalu tanpa ada
sarapan dan makan malam bersama apalagi saling beruluk salam. Dan, Mas Dani
lebih memilih kamar tamu.
Aku, tak tahan bila
diperlakukan seperti ini. Dan, kuputuskan untuk pulang ke rumah ibu di bilangan
Menteng, Jakarta Pusat. Aku pergi begitu saja, tanpa izin Mas Dani dan tanpa
meninggalkan pesan.
*******
Dua puluh delapan Juni.
Sudah dua hari di rumah ibu.
Aku berusaha menutupi masalah rumah tanggaku dengan mengatakan kepada ibu bahwa
Mas Dani sedang pergi tugas ke luar kota. Aku tidak ingin membuat ibu khawatir.
“Nisa… ” suara ibu mengagetkanku.
“Iya Bu…” Aku segera menghampiri ibu yang tengah asyik
menjahit di ruang tengah.
“Nanti malam kita tarawih sayang,
kamu pakai mukena ini ya…” kata ibu sembari senyum dan
menyorongkan mukena bordir buatannya ke arahku.
“Bagus sekali… lembut,
bahannya bagus… dan juga sudah wangi… terima kasih Bu…” ucapku sembari memeluk dan mencium ibu.
“Nisa, ada suara klakson
mobil, mungkin itu suamimu sayang… bukakan pintu pagar Nak…”
“Ibu, Nisa belum mandi dan
berdandan untuk Mas Dani, biar Mang Suryana aja yang bukain ya Bu…” ucapku
dengan sedikit kikuk sembari tergesa-gesa menuju
kamar mandi.
Aku bergegas menuju kamar
mandi yang berada di kamarku yang kini menjadi kamar kami, aku dan Mas Dani
apabila menginap di rumah ibu.
“Ya ampun, itu betul Mas Dani…
untuk apa Mas Dani kesini…” gumamku sembari mengintip ke
arah luar dari jendela kamar dekat pintu kamar mandi.
“Nisa… cepat mandinya dan
temui suamimu Nak…” teriak ibu dari ruang tamu.
“Untuk apa Mas Dani datang
kesini…” aku terus bergumam mempertanyakan
kedatangan Mas Dani ke rumah ibu.
Selepas mandi dan berdandan,
dengan sedikit gagap kutemui Mas Dani yang sedang mengobrol dengan Ibu di ruang
tengah. Ku usahakan bersikap biasa saja dengan Mas Dani. Ku cium tangan Mas
Dani dan duduk disampingnya. Aku, Mas Dani dan ibu mengobrol dengan santai
hingga Maghrib tiba dan dilanjutkan berjama’ah bersama di Musholla keluarga
yang terletak di halaman belakang rumah ibu. Bersama Mang Suryana, Bi Ijah, dan
Mas Dani sebagai imamnya.
*******
“Dek, Mas jemput Adek untuk
pulang ke rumah kita. Melalui Ramadhan bersama. Ini adalah Ramadhan kita yang
kesepuluh. Mas tidak mau Ramadhan kali ini kita lalui sama dengan Ramadhan
sebelumnya yang sibuk dengan urusan masing-masing. Adek mau kan?” Ucap Mas Dani
sembari menggenggam tangan kananku.
Aku diam. Kubiarkan Mas Dani
terus bicara.
“Maafkan atas sikap Mas yang
selama ini diam. Ini karena Mas takut bila Mas membuka pembicaraan dengan Adek,
Mas akan emosi. Tiga hari, Mas Diam dan menyendiri di kamar tamu. Sholat Hajat
dan Istikharah agar keputusan yang akan Mas ambil tidak salah. Mas berharap Adek
bisa mengerti” ucap Mas Dani meneruskan.
“Iya, Nisa maafkan Mas. Nisa
mengerti posisi Mas Dani cukup sulit. Sebagai anak tunggal, tentunya Mas Dani
adalah satu-satunya harapan mama dan papa. Nisa siap Mas…” ucapku sembari menangis.
“Mas, Nisa siap… bila Mas Dani
memutuskan untuk menikah lagi atau mungkin…,” mulutku tercekat dan tangisku kembali pecah.
“Ssst… ,” ucap Mas Dani memotong pembicaraanku
sambil mendekatkan telunjuknya tepat di depan mulutku.
“Dek Nisa sayang, Mas
mencintaimu dan menyayangimu karena Allah. Mas berharap, kita bisa berusaha
sekali lagi selepas Ramadhan. Dan selama Ramadhan ini, kita fokuskan untuk
lebih mendekatkan diri kepada Allah, bermunajat dan memohon kepada Allah agar
Allah mengabulkan hajat kita untuk memiliki keturunan. Dan Mas berencana untuk
mengajak Dek Nisa umrah pada sepuluh malam terakhir
Ramadhan. Semoga kita diberikan berkah yang banyak di bulan Ramadhan tahun ini” ucap Mas Dani sembari menangis dan memelukku sangat
erat.
“Amin… Iya, Nisa mau Mas,
berusaha sekali lagi” jawabku sambil mengusap kedua
mataku yang terus basah.
“Sekali lagi, artinya ini
adalah usaha terakhir Mas?”
“Dek, intinya kita berusaha
lagi. Usaha terakhir atau bukan, kita lihat saja nanti” ucap Mas Dani menjawab pertanyaanku.
“Baik Mas, Nisa setuju. Kita
harus berusaha lagi. Tentang bagaimana nanti dan hasilnya, kita serahkan saja
sama Allah”
Aku sedikit curiga dengan
rencana Mas Dani selanjutnya. Tapi, sudahlah. Manusia hanya bisa berikhtiar dengan
sungguh-sungguh dan menyerahkan hasilnya hanya kepada Allah semata. Aku
berjanji mulai saat ini akan kusingkirkan prasangka negatif tentang Mas Dani.
Aku harus percaya sepenuhnya pada Mas Dani. Seingatku, Allah juga berfirman
untuk menjauhi prasangka karena sebagian dari prasangka adalah dosa.
“Astaghfirulloh…
Ya Allah, semoga Engkau jauhkan aku dan keluargaku dari hal-hal yang tidak
baik”
ucapku sembari bergumam mengamini doaku sendiri.
“Tok..
Tok… Tok… Nisa, Nak Dani, mari sahur…” ucap ibu membangunkan
kami dari balik pintu.
“Astaghfirulloh,
Mas, sudah jam setengah empat pagi” ucapku membangunkan Mas Dani.
Kami
pun bergegas bangun untuk qiyamul lail
terlebih dahulu sebelum sahur.
*******
Ramadhan
kami lalui dengan banyak ibadah sunnah bersama. Selepas Shubuh, kami tilawah
hingga menjelang Mas Dani berangkat ke kantor. Waktu Dhuha, kami saling
mengirim pesan singkat untuk mengingatkan sholat dhuha setidaknya full 12 raka’at. Waktu berbuka adalah
waktu kebersamaan kami. Berbuka, kemudian berdoa bersama tentang hajat kami
setelahnya. Dilanjutkan tarawih bersama ke masjid jami’ komplek kami yang
letaknya tepat di depan rumah kami.
Hari-hari
Ramadhan kali ini kami lalui dengan kebersamaan yang baik. Sayang dan cintaku
pada Mas Dani semakin kuat dan seperti diperbaharui kembali. Entah karena apa.
Mungkin, ini karena kami memperbaiki rasa cinta dan sayang kami kepada Allah
dan Allah pun memperbaiki rasa cinta dan sayang diantara kami.
Rangkaian
ibadah Ramadhan kami lanjutkan pada sepertiga malam. Qiyamul lail, shalat
taubat dilanjutkan sholat hajat. Alhamdulillah, seluruh rangkaian ibadah itu
dapat kami lewati bersama hingga waktu umrah
tiba yaitu tepat pada hari kelima belas Ramadhan. Lima belas hari Ramadhan
sisanya kami lewati di Mekkah dan dilanjutkan dengan Sholat Iedul Fitri di
Masjidil Haram.
Subhanalloh.
Tidak hentinya kami mengucap rasa syukur sekembalinya ke tanah air dan kembali
berkumpul dengan keluarga besar kami. Terlebih, dua minggu sepulang dari ibadah
umrah, aku dinyatakan positif hamil sebelum usaha medis yang memang sudah kami
rencanakan sebelumnya. Subhanallah, hanya Allahlah tempat kembali segala
perkara.
Griya Serpong Asri, 6 Juli 2014
*Kanisa Pelangi adalah nama pena dari Vitis Vinivera Khasanah
No comments:
Post a Comment