Cerpen oleh Kanisa Pelangi*
“Adek Inaaaaa… Deeeeek…. Inaaaa…. Kamu ngumpet di mana? Ayo keluar Dek… ”, teriakku sekencang mungkin sembari mencarinya bersama teman bermainku; Edo, Tiyo dan Nuri.
“Inaaaaa…. Inaaaa… Inaaa…..
Udahan ngumpetnyaa… Bentar lagi Maghrib …. Inaaa.” Kami terus berteriak. Sudah
dua jam berlalu kami mencari Ina adekku. Sejak pukul 15.30 saat kami mulai
bermain petak umpet di lapangan yang terletak di belakang sekolah.
“Inaaa… Inaaaaa… Inaaaa… ”,
Aku terus berteriak memanggilnya. Entah jam berapa sekarang. Suara shalawat
pujia-pujian dari corong Musholla
sudah mulai terdengar. Kami mulai kelelahan dan ingin menyudahi pencarian ini.
Tapi, kami takut untuk pulang. Kami harus pulang bersama Ina.
“Tanpa Ina, Aku ndak akan
pulang. Kita cari Ina sampai ketemu…”, teriakku sambil terduduk di tanah dan
bersandar pada sebuah pohon.
“Ndak Lena! Aku harus sampai
rumah saat adzan Maghrib. Bisa-bisa umi dan abah memarahiku.” Sergah Nuri kepadaku.
“Terserah kamu Nuri, pokoknya
aku ndak mau pulang sebelum Dek Ina ketemu. Dan kamu Tiyo dan Edo, kamu pulang
aja. Nanti bapak sama ibu kalian khawatir,” Aku tetap bersikukuh untuk mencari
Dek Ina sampai ketemu.
***
Semenjak kejadian senja di
lapangan belakang sekolah dua puluh tahun silam, aku tak pernah absen untuk
duduk di sini, di danau lapangan belakang sekolah kala senja tiba. Hanya duduk.
Ingatanku masih lekat, kala Ina ditemukan mengambang di danau ini esok paginya
setelah aku, bapak dan ibu beserta beberapa tetangga mencarinya semalaman.
Ina, adekku satu-satunya.
Usia kami hanya terpaut satu tahun. Perawakan dan pembawaan kami yang mirip,
membuat orang mengira kami anak kembar.
Iya, aku berada disini untuk
menyapa Ina. Aku duduk di tempat di mana Ina diduga terpeleset.
Aku disini untuk menemani
Ina. “Petak umpet pembawa petaka!”.
Griya Serpong Asri, 5
Februari 2014
*Kanisa Pelangi adalah nama
pena dari Vitis Vinivera Khasanah
No comments:
Post a Comment