Monday, 4 March 2019

Hi Diary Part XV


Balada Emak Rempong


Tak terasa sudah hari ke sembilan belas. 

Dear Monday...
Membuka kembali lembaran rutinitas mingguan. Nampaknya aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas ini. Sendiri bersama dua anak, meski repot bin rempong tapi bila terbiasa lama-lama menjadi tahu celahnya dan rasa berat pun tak menjadi beban. Bener deh...

Aku jadi bisa mengantisipasi situasi. Misal, agar kakak tidak mengompol, agar adek tidak pup pas injury time mau antar kakak sekolah, meminimalisir pertengkaran dan tantrum, dll. Memang jam terbang itu membuat kita semakin mahir. Padahal sewaktu masih bekerja dan memiliki ART, sempat berpikir tidak mungkin mengerjakan semuanya sendiri sambil mengurus dua anak ketika nanti aku tidak bekerja. Dan, suami juga sering memastikan padaku tentang hal ini. Aku sempat benar-benar ragu dengan kemampuanku saat melihat keaktifan dua anakku. Fyuh... take a deep breath. Itu dulu... 
Padahal baru membayangkan saja sudah berat ya... apalagi pas menjalaninya sendiri.

Ini sekarang. 
Ya, sekarang. Waktu yang dulu pernah ku bayangkan akhirnya tiba. Dan, berat memang... 
Tapi aku mampu! Dimampukan Alloh lebih tepatnya. Tak terbayangkan kalau yang ini karena aku modal nekat saja sebenarnya. Nekat mau ngurus semuanya sendiri. Meski sempat ku minta pengertian pada suami, bila nanti tidak bisa perfect seperti pas ada Emak Darmi. Suami sangat mengerti. Sempat pula karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah, suami mengingatkan untuk jangan lupa kewajiban kita mengasuh dan mendidik anak. "Kalau bunda repot dengan cucian, laundry aja. Kalau repot masak, beli aja. Anak-anak yang utama", pesan suamiku saat awal-awal aku mulai menjalankan peranku di tanah rantau tanpa ART. Aku iyakan saja pesan itu. Tapi dalam hati aku ingin mencoba dan belajar bagaimana me-manage semuanya sendiri. Tentunya ini butuh proses. Dan aku harus jujur jika nantinya ternyata aku tidak mampu. 

Proses, jam terbang, pengalaman, dan kesemuanya itu akan membuat kita lebih matang. Dan dalam menjalaninya butuh ilmu tentang seni menikmati agar hidup kita yang sedang berproses itu terasa indah. 
Karena semua akan berlalu dan beranjak sehingga kelak kita akan merindukannya kembali.

Birobuli Utara, 4 Maret 2019.

No comments:

Post a Comment