Friday, 15 March 2019

Hi Diary Part XXVI


Anak Anakmu 
(Kahlil Gibran)

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Aku penyuka puisi. Termasuk puisi yang satu ini. Secara sadar, prinsip mendidik dan mengasuh anak-anak sedikit banyak terpengaruh oleh bait puisi ini. Aku sebagai orang tua tersadarkan bahwa mereka, anak-anakku, memiliki dirinya sendiri. Mereka memang aku lahirkan, tetapi mereka adalah mereka. Bukan aku, bukan juga dia, suamiku. Merekalah yang memimpin diri mereka sendiri. Membawa, menyetir, dan mengarahkan dirinya sendiri ke tujuan hidup yang mereka tetapkan sendiri. 

Dan, tugas orang tua memberikan pengasuhan dan pendidikan serta pengarahan sebagai bekal mereka memimpin dirinya sendiri. Mengenalkan mereka pada penciptanya yang membuat kita ada di dunia ini, mengatur segala urusan kita, juga tempat kita kembali. Mengenalkan mereka pada agama sebagai rambu-rambu dalam menjalani hari-hari kehidupan mereka. Mengenalkan mereka pada dunia sebagai tempat mereka menjalani hidup.

Seperti hari ini. Ku biarkan anak-anak bermain asik di belakang. Berdua saja. Bermain dengan imajinasi mereka, kakak dan adik. Tertawa, bernyanyi, berteriak, sesekali ngomong sendiri-sendiri tak nyambung meski berdua. Aku, duduk di bangku pendek yang kami sebut dingklik. Ku letakkan bangku ini di sudut dekat mesin cuci. Disini saja. Aku duduk mengawasi dan menemani mereka bersama target tilawahku yang belum rampung hari ini.

Ini adalah proses panjang. Iringi dengan doa, tawakkal, dan kesabaran agar ridho-Nya senantiasa menyertai langkah mereka. Lalu, ikhlaskan mereka mengepakkan sayapnya kemanapun, menggapai mimpi mereka.
Semoga keberkahan mewarnai hari-hari mereka hingga penghujungnya. 

Birobuli Utara, 16 Maret 2019.

No comments:

Post a Comment