Sebuah gerakan adalah tanda utama kehidupan. Maka ketika
saya bertugas di unit intensive sebuah rumah sakit milik pemerintah di
Jakarta, gerakan inilah kunci untuk mengecek tingkat kesadaran pasien. Begitu
berharganya tanda-tanda kehidupan ini, pun ketika pasien diam tidak bergerak
secara fisik, maka saya sebagai petugas wajib untuk mencari sumber pergerakan
yang lain sesegera mungkin sekecil apapun itu. Seperti pergerakan detak jantung
yang menjadi tanda krusial. Seberapapun kekuatannya (lemah, sedang, dan kuat)
pergerakan nadi tak boleh absen. Jika pasien tidak ada nadi, maka saya sebagai
petugas wajib memicu pergerakannya dengan melakukan pijat jantung atau bahasa
medisnya adalah CPR (Cardiopulmonary Resuscitation). Dengan Tindakan
pijat jantung, harapannya darah kembali mengalir dalam tubuh kita membawa
oksigen yang begitu berharga pada setiap sel-sel tubuh pasien dan tanda-tanda
kehidupan kembali hadir. Ketika nadi mulai menunjukkan pergerakan, maka langkah
selanjutnya adalah mengevaluasi status pernapasan pasien dengan melihat
pergerakan dada naik dan turun serta adanya hembusan udara dari lubang hidung.
Sungguh, begitu berharga sebuah pergerakan bagi laju
hidup tubuh kita. Baik jantung, paru-paru, darah dalam pembuluh darah, hingga
pergerakan lambung dan usus. Ini baru satu partikel kehidupan. Lihat bagaimana
alam semesta bergerak. Bumi menuntaskan kala rotasinya pada 23 jam 56 menit 41
detik dan menggenapkan kala revolusinya dalam mengelilingi matahari selama 3651/4
hari. Tak hanya itu, bulanpun bergerak mengelilingi bumi dan menggenapkan
orbitnya setiap 27,3 hari. Maka bergerak adalah untuk keberlangsungan dan diam
adalah untuk kematian.
Pertanyaannya, apakah saat ini kita masih bergerak?
Maka pertanyaan itu memiliki arti, apakah saat ini kita
masih hidup, begitu bukan bila kita kembalikan pada statement tentang
“bergerak” sebelumnya. Dan pertanyaan tersebut sungguh memiliki ambiguitas.
Betapa tidak, akan kita jawab dengan apa pertanyaan tersebut. Mungkin kita akan
menjawab dengan kalimat, “Pasti dong, kan masih bisa ngomong dan jawab
pertanyaan, sudah pasti saya masih bergerak”. Apakah benar jawaban seperti itu
yang diharapkan dari pertanyaan tersebut? Maka menurut hemat saya, “bergerak”
disini memiliki maksud berbuat, melakukan dan mengerjakan sesuatu.
Jika “bergerak” menjadi tanda utama kehidupan secara
jasadiyah maka berbuat, melakukan, dan mengerjakan sesuatu menjadi tanda
kehidupan secara ruhiyah dan fikriyah. Apa itu ruhiyah dan fikriyah? Sebuah dimensi
(aspek) kehidupan manusia. Secara umum, ada tiga dimensi kehidupan manusia,
yaitu jasadiah (jasad, fisik), fikriyah (akal, pikiran), dan ruhiyah (spirit,
emosional). Ketiga dimensi tersebut menjadi penyusun diri menjadi manusia yang
utuh. Ketika manusia dikatakan masih “hidup”, selayaknya menyangkut “hidup” ketiga
dimensi tersebut dan ketiganya harus “bergerak”.
Menurut saya “bergerak” disini ada dua penyebab, pertama
karena reflek dan kedua karena adanya perintah (gerak sadar). Gerak reflek adalah
gerak otomatis tanpa perintah seperti bersin, menangkis serangan tiba-tiba,
atau gerakan pupil saat menerima cahaya berlebihan. Sedangkan gerak sadar
adalah gerak yang disebabkan melalui proses yang disadari atau melalui proses
berpikir. Nah ini sangat menarik, bagaimana gerak reflek dapat melakukan gerak secara
otomatis tanpa adanya perintah? Hal ini dikarenakan adanya memori tentang
respon yang sudah tersimpan dalam tubuh kita. Begitu juga untuk konteks ruhiyah
dan fikriyah. Agar kita mampu berbuat, melakukan, dan mengerjakan (kebaikan
tentunya) secara otomatis maka kita harus menyimpan memori kebaikan sebanyak
mungkin agar respon reflek-nya semakin cepat.
Bergerak bagi Jasadiyah
Sungguh, bergerak adalah kodrat manusia dan napas
kehidupan bagi jasad. Jasad yang tak pernah bergerak dan digerakkan akan
menurun kemampuannya. Contohnya otot tangan atau kaki yang lama tidak bergerak
dan digerakkan akan mengalami atrofi (melemah dan menyusutnya jaringan
dan massa otot) seperti pada penderita stroke yang tidak mau melatih dan
menggerakkan otot-ototnya maka kemampuan dan fungsinya akan semakin menurun.
Begitu juga bagi orang normal, bergerak akan memberikan banyak manfaat secara
fisik bahkan mampu memberikan efek positif pada dua aspek lainnya. Ketika kita
aktif menggerakkan fisik badan kita, menurut para ahli, ini akan berpengaruh
pada keluarnya hormon endorfin (hormon yang berkontribusi pada rasa senang)
sehingga secara fikriyah kita merasa lebih segar dan bahagia.
Dengan bergerak membuat jasad kita menjadi kuat dan
sehat. Dan jasad yang sehat mampu melakukan setiap perbuatan yang diperintahkan
Allah dan Rasul-Nya.
Bergerak bagi Fikriyah
Akal pikiran telah mendudukkan manusia menjadi makhluk
paling sempurna diantara ciptaan-Nya. Akal pikiran akan membuat manusia menjadi
mulia karena mampu membedakan haq dan bathil bahkan menghasilkan
pengetahuan-pengetahuan baru. Berpikir menjadi kodrat kehidupan manusia. Meskipun
mampu berpikir haq-bathil dan mampu menciptakan pengetahuan baru yang akan
membuat kehidupannya lebih baik, tapi
tidak semua manusia mampu dipimpin akalnya menjadi manusia yang baik dan mengangkatnya
pada kedudukan mulia. Maka akal membutuhkan partner berupa ruhiyah (spirit,
emosional) yang baik agar mampu menjadi pemandu jitu mencari jalan Ketuhanan
yang lurus dan benar. Karena selain akal pikiran, Allah juga memberi karunia
hawa nafsu (syahwat) yang jika manusia tidak mampu mengendalikannya akan
membuatnya hina. Selama sinyal kehidupan masih menyapa, perkuat akal pikiran
kita. Pandu untuk terus bergerak mencari keberanan-kebenaran yang akan
menyelamatkan kita dunia dan akhirat.
Bergerak bagi Ruhiyah
Ruhiyah merupakan nyawa dari perilaku manusia yang muncul
dalam kehidupan sehari-hari. Aspek ini akan
selalu memberi motivasi dan menjadi bara semangat yang tak mudah padam dalam
menjalani kehidupan. Karena itu, kekuatan ruhiyah adalah kekuatan luar biasa
yang dimiliki oleh manusia. Eksistensi “ruh” manusia langsung dari tiupan ruh Illahi.
Maka ruh inilah yang
pada akhirnya kembali ke asalnya, kembali menghadap Allah SWT. Sementara
fisiknya akan kembali pula bersatu dengan mulanya di tanah. Jika fisik akan
berakhir membusuk dan hancur, ruh yang terjaga akan mulia selamanya.
Ruh yang terjaga
diartikan sebagai ruh yang senantiasa kembali, terikat, dan mengingat
penciptanya serta menjadi pembimbing dan penyelamat handal bagi jasadiyah dan fikriyahnya.
Ruh yang terjaga akan membuat kehidupan setiap individu terpelihara secara
utuh. Maka sangat penting untuk senantiasa memperhatikan kondisi ruhiyah kita
agar senantiasa baik. Aktifitas berkesinambungan dalam menata kondisi ruhiyah
inilah bentuk pergerakan dari aspek ruhiyah.
Maka teruslah
bergerak untuk keberlangsungan dan tumbuhlah menjadi individu yang terjaga agar
mulia hidup kita dunia akhirat.
Tunggulwulung, 10
Mei 2020

No comments:
Post a Comment