Friday, 29 May 2020

Merawat Semangat Ramadhan



Oleh Vera Khasanah

Hampir sepekan Ramadhan berlalu meninggalkan kita. Dan, rasa-rasanya roda waktu nyaris menggilas semangat ibadah serta mengikis kelezatan bermesra dengan-Nya.

Ya. Ketika bulan Ramadhan, syiar Islam menggema hingga seantero jagat. Gemuruhnya menggelorakan semangat jiwa untuk turut menghidupkan untai waktunya dengan beramal sholeh dan beribadah. Seolah tak rela melewatkan bulan istimewa ini dengan penuh sia. Pun ketika cobaan pandemi menghantam dan menghalangi langkah umat muslim menuju ke masjid, tak menyurutkan semangatnya untuk tetap mencecap keistimewaan Ramadhan dan membuat keagungannya tetap membahana meski dengan berbagai protokol yang harus dipatuhi. Tarawih, tadarus, memperbanyak sholat sunnah, memperbanyak sedekah, zakat, dan berbagai amalan sunnah lainnya menjadi rangkaian ibadah yang mewarnai hari-hari Ramadhan kita.

Ramadhan adalah bingkisan spesial wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Bagaimana tidak? Pada bulan ini pahala ibadah sunnah setara dengan ibadah wajib, pahala ibadah wajib menjadi berlipat-lipat, dan terdapat satu malam yang memiliki keutamaan melebihi seribu bulan yaitu malam lailatul qodar. Barangsiapa beribadah di malam lailatul qadar, Allah SWT melipatgandakan pahalanya seolah beribadah selama seribu bulan. Pada malam itu, seperti termaktub dalam Al-Quran surat Al-Qadr, para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya turun ke bumi untuk mengatur segala urusan. Doa-doa yang dipanjatkan pada malam itu akan diamini oleh malaikat. Dosa-dosa akan diampuni bagi yang memohonkannya. Dan, sejahteralah malam itu hingga terbit fajar. Sungguh begitu luas kasih sayang-Nya untuk kita.

Maka sikap kita sebagai hamba sepatutnya menerima bingkisan itu dengan hati gembira dan penuh rasa syukur. Sayangnya, bingkisan spesial ini ada tenggat waktunya. Ia tak akan berlama-lama bersama kita. Maka, manfaatkanlah waktu bersamanya seapik mungkin. Kelak ketika tenggatnya tiba, Ramadhan akan berlalu kembali pada-Nya, lantas hanya rindu yang menyusup di relung dada.

Ramadhan pergi meninggalkan kita tanpa adanya jaminan, apakah ia akan kembali menemui kita tahun depan. Berlalunya Ramadhan tidak ada garansi, apakah segala amal sholeh dan ibadah Ramadhan kita diterima oleh Allah. Maka Rasullulloh mengajarkan pada kita doa selepas Ramadhan yaitu “Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu ‘amin wa antum bi khair”. Melalui do’a tersebut kita memohon kepada Allah Swt agar menerima amal ibadah Ramadhan kita dan setiap tahun semoga senantiasa dalam kebaikan.

Lezat dan nikmatnya beribadah pada bulan Ramadhan membuat diri enggan berpisah dari bulan penuh rahmat ini.  Tapi, begitulah sunnatulloh. Ramadhan boleh pergi meninggalkan kita, tapi spiritnya harus terpatri, menghunjam dalam diri, dan terus terpelihara pada bulan-bulan selepasnya hingga atas izin-Nya kita dipertemukan kembali dengan bulan yang kita rindukan ini. Berikut beberapa cara (yang telah disarikan dari berbagai sumber) agar spirit Ramadhan tetap bergemuruh di dalam dada, menghunjam dalam jiwa, mewarnai pikiran kita, dan menggerakkan diri kita untuk beribadah dan beramal sholeh.

1.       Lanjutkan dengan puasa sunnah di bulan Syawal
Selagi tubuh masih terbiasa berpuasa, maka lanjutkan rutinitas puasa kita pada bulan Syawal. “Barangsiapa yang melasanakan shaum Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan shaum enam hari di bulan Syawal, maka baginya laksana shaum sepanjang tahun” (HR Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

2.  Jadikan rutinitas ibadah pada bulan Ramadhan menjadi rutinitas ibadah pada bulan selanjutnya
Rutinitas apa yang sudah kita bangun pada bulan Ramadhan? Maka lanjutkan untuk mengisi rutinitas pada bulan selanjutnya. Seperti puasa, maka lanjutkan semangat berpuasanya untuk melakukan puasa sunnah Syawal, lanjut puasa sunnah Senin-Kamis ataupun puasa sunnah lainnya. Rutinitas tarawih bisa kita ganti dengan sholat qiyamul lail untuk bulan berikutnya. Lanjutkan rutinitas tilawah, dzikir, sedekah, infaq, dan rutinitas amal sholeh lainnya.  

3.       Berdoa, memohon kekuatan dari-Nya agar mampu istiqomah
Dari ’Aisyah r.a, bahwa Nabi Saw bersabda: ”… amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang istiqamah walaupun sedikit” (HR. Bukhari). Istiqomah adalah kunci keberhasilan sebuah amal ibadah. Sedangkan kondisi keimanan kita yang kerap melandai membuat istiqomah adalah tantangan terberat. Jangankan kita, bahkan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam pun mengatakan ayat terberat adalah ayat tentang istiqomah (ketetapan dalam jalan yang benar) seperti termaktub dalam Al-Quran surat Hud ayat 112, “Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu anhuma, “Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat ini. Oleh karena itu, ketika beliau ditanya, ‘Betapa cepat engkau beruban’, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sahabatnya, ‘Yang telah membuatku beruban adalah surat Hûd dan surat-surat semisalnya (almanhaj.or.id).

4.       Pastikan diri kita menjadi bagian dari lingkaran orang-orang sholeh.
Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau  mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar  pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk.

Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment