Oleh Vera Khasanah
Hampir
sepekan Ramadhan berlalu meninggalkan kita. Dan, rasa-rasanya roda waktu nyaris
menggilas semangat ibadah serta mengikis kelezatan bermesra dengan-Nya.
Ya. Ketika bulan
Ramadhan, syiar Islam menggema hingga seantero jagat. Gemuruhnya menggelorakan
semangat jiwa untuk turut menghidupkan untai waktunya dengan beramal sholeh dan
beribadah. Seolah tak rela melewatkan bulan istimewa ini dengan penuh sia. Pun ketika
cobaan pandemi menghantam dan menghalangi langkah umat muslim menuju ke masjid,
tak menyurutkan semangatnya untuk tetap mencecap keistimewaan Ramadhan dan
membuat keagungannya tetap membahana meski dengan berbagai protokol yang harus
dipatuhi. Tarawih, tadarus, memperbanyak sholat sunnah, memperbanyak sedekah,
zakat, dan berbagai amalan sunnah lainnya menjadi rangkaian ibadah yang mewarnai
hari-hari Ramadhan kita.
Ramadhan adalah
bingkisan spesial wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Bagaimana tidak? Pada
bulan ini pahala ibadah sunnah setara dengan ibadah wajib, pahala ibadah wajib
menjadi berlipat-lipat, dan terdapat satu malam yang memiliki keutamaan
melebihi seribu bulan yaitu malam lailatul qodar. Barangsiapa beribadah di
malam lailatul qadar, Allah SWT melipatgandakan pahalanya seolah beribadah
selama seribu bulan. Pada malam itu, seperti termaktub dalam Al-Quran surat Al-Qadr,
para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya turun ke bumi untuk
mengatur segala urusan. Doa-doa yang dipanjatkan pada malam itu akan diamini
oleh malaikat. Dosa-dosa akan diampuni bagi yang memohonkannya. Dan, sejahteralah
malam itu hingga terbit fajar. Sungguh begitu luas kasih sayang-Nya untuk kita.
Maka sikap kita
sebagai hamba sepatutnya menerima bingkisan itu dengan hati gembira dan penuh
rasa syukur. Sayangnya, bingkisan spesial ini ada tenggat waktunya. Ia tak akan
berlama-lama bersama kita. Maka, manfaatkanlah waktu bersamanya seapik mungkin.
Kelak ketika tenggatnya tiba, Ramadhan akan berlalu kembali pada-Nya, lantas hanya
rindu yang menyusup di relung dada.
Ramadhan pergi
meninggalkan kita tanpa adanya jaminan, apakah ia akan kembali menemui kita
tahun depan. Berlalunya Ramadhan tidak ada garansi, apakah segala amal sholeh
dan ibadah Ramadhan kita diterima oleh Allah. Maka Rasullulloh mengajarkan pada
kita doa selepas Ramadhan yaitu “Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana
wa shiyamakum, kullu ‘amin wa antum bi khair”. Melalui do’a tersebut kita memohon
kepada Allah Swt agar menerima amal ibadah Ramadhan kita dan setiap tahun semoga
senantiasa dalam kebaikan.
Lezat dan nikmatnya beribadah pada
bulan Ramadhan membuat diri enggan berpisah dari bulan penuh rahmat ini. Tapi, begitulah sunnatulloh. Ramadhan boleh
pergi meninggalkan kita, tapi spiritnya harus terpatri, menghunjam dalam diri,
dan terus terpelihara pada bulan-bulan selepasnya hingga atas izin-Nya kita
dipertemukan kembali dengan bulan yang kita rindukan ini. Berikut beberapa cara
(yang telah disarikan dari berbagai sumber) agar spirit Ramadhan tetap
bergemuruh di dalam dada, menghunjam dalam jiwa, mewarnai pikiran kita, dan
menggerakkan diri kita untuk beribadah dan beramal sholeh.
1.
Lanjutkan dengan puasa sunnah
di bulan Syawal
Selagi tubuh masih terbiasa berpuasa, maka lanjutkan
rutinitas puasa kita pada bulan Syawal. “Barangsiapa yang melasanakan shaum Ramadhan,
kemudian dilanjutkan dengan shaum enam hari di bulan Syawal, maka baginya
laksana shaum sepanjang tahun” (HR Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah
dan Ahmad).
2. Jadikan rutinitas ibadah
pada bulan Ramadhan menjadi rutinitas ibadah pada bulan selanjutnya
Rutinitas apa yang sudah kita bangun pada bulan Ramadhan? Maka
lanjutkan untuk mengisi rutinitas pada bulan selanjutnya. Seperti puasa, maka
lanjutkan semangat berpuasanya untuk melakukan puasa sunnah Syawal, lanjut puasa
sunnah Senin-Kamis ataupun puasa sunnah lainnya. Rutinitas tarawih bisa kita ganti
dengan sholat qiyamul lail untuk bulan berikutnya. Lanjutkan rutinitas tilawah,
dzikir, sedekah, infaq, dan rutinitas amal sholeh lainnya.
3.
Berdoa, memohon kekuatan
dari-Nya agar mampu istiqomah
Dari ’Aisyah r.a, bahwa Nabi Saw bersabda: ”… amal yang
paling dicintai Allah adalah amal yang istiqamah walaupun sedikit” (HR.
Bukhari). Istiqomah adalah kunci keberhasilan
sebuah amal ibadah. Sedangkan kondisi keimanan kita yang kerap melandai membuat
istiqomah adalah tantangan terberat. Jangankan kita, bahkan Nabi Shallallahu’alaihi
wa sallam pun mengatakan ayat terberat adalah ayat tentang istiqomah (ketetapan
dalam jalan yang benar) seperti termaktub dalam Al-Quran surat Hud ayat 112, “Maka
tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga)
orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas.
Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu anhuma, “Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat
ini. Oleh karena itu, ketika beliau ditanya, ‘Betapa cepat engkau beruban’,
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sahabatnya, ‘Yang telah
membuatku beruban adalah surat Hûd dan surat-surat semisalnya (almanhaj.or.id).
4.
Pastikan diri kita
menjadi bagian dari lingkaran orang-orang sholeh.
Dari Abu Musa
al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda: “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang
penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai
besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah
kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum
darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau
engkau mendapatkan bau yang buruk.
Wallahu a’lam.

No comments:
Post a Comment