Pagi...
Wangimu menggugah rasaku,
menghimpun ragaku,
dan memantik semangatku.
dengan segala rasa syukur,
bahagia,
dan sekuntum bahasa positif dalam diriku,
kusambut hadirmu dalam membuka lembaran hari dan mengawali sirkadian waktu.
Kan kumulakan dengan menyebut nama-Nya, agar runtutan waktu kujalani dengan lancar.
Aku tak menyukai dia datang dan mengganggu hidupku. Mengacaukan segala rencanaku hari ini. Aku harus membuatnya enyah dari diriku sekarang juga!
Ini seperti virus yang bila kubiarkan dia datang dan menyerang, maka dia akan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Seperti sel kanker, jika tidak dijinakkan maka akan bermetastase.
Ya, malas!
Aku benci saat malas menyerangku.
Seperti pagi ini saat aku harus segera bangun menghadapi rutinitas pagi, menyiapkan kebutuhan anak-anak. Kasur yang empuk dan selimut yang hangat begitu menggodaku. Benar saja, setelah kutunaikan sholat subuh, masih dengan mukena lengkap, aku kembali membaringkan tubuhku di sajadah. Kantuk mengalahkanku. Tidak sampai sepuluh menit, aku segera bangun. Rasa bersalah memanggilku. Apa jadinya jika kuturuti rasa kantukku dan ketiduran hingga lewat waktu? Astaghfirulloh....
Kulipat sajadah dan mukena yang kukenakan lalu segera menuju dapur. Kutetapkan prioritas sebelum kupegang semua pekerjaan. Sungguh! Setelah melihat pekerjaan pagi yang menumpuk dan kutetapkan prioritas, rasa malasku tergantikan dengan semangat yang mengepal. Seperti auto motivasi! Aku tertantang untuk segera menyelesaikan semua rutinitas pagiku sebelum anak-anak terbangun. Bagaimana tidak kembali semangat jika tertantang seperti ini?
Maka tidak ada alasan untuk meladeni rasa malas bagi emak-emak sepertiku. Kalau tidak selesai segera kapan lagi, kalau anak-anak sudah terbangun makin rempong, kalau bukan aku siapa lagi. Statement seperti itu cukup memantik semangatku.
Meski sendiri dengan anak-anak sementara menunggu suami pulang dinas luar kota, bukan berarti tidak bisa menikmati jalan-jalan santai, jalan-jalan pagi atau jalan-jalan sore. Menikmati udara segar, berkendara dengan kecepatan rendah, menikmati kesibukan kota dan membeli makanan ringan yang kami sukai wajib dilakukan meski tidak ada suami. Ini adalah bentuk refreshing kecil-kecilan kami. Meski sedikit rempong mengendarai roda dua sambil menggendong dan membonceng kakak di depan, tapi ini sangat amat membahagiakan. Tapi tidak selalu repot membawa kakak dan adek. Bisa juga saat kakak masih bersekolah, hanya aku dan adek saja yang jalan-jalan.
Seperti pagi ini. Sepulang mengantar kakak ke sekolah, aku dan adek berkeliling kota dengan motor kesayangan kami. Tidak jauh-jauh kok. Seputar jalan Garuda, jalan Cendrawasih, dan Lapangan Vatulemo sembari berbelanja di warung sayur. Tidak terasa ini menghabiskan waktu hingga satu jam. Tapi sungguh ini pemantik semangatku selanjutnya. Hatiku merasa bahagia.
Sesampai di rumah, senyumku sudah ringan dan bersiap memasak ikan katombo kuah asam kesukaan Kakak.
Sungguh banyak keajaiban yang hadir ketika hati merasa bahagia. Maka emak, jangan lupa bahagia.
Birobuli Utara, 25 Februari 2019
No comments:
Post a Comment