Balada Emak Rempong
Kesal rasanya jika kita dibuat kecewa oleh salah satu hal saja yang kita sangat tergantung dengannya. Tahu bagaimana kesalnya? Bayangkan seperti gunung berapi aktif dengan status 'awas' dan berada di dalam dada kita. Rasa keselnya itu bergemuruh. Kenapa? Karena aku sudah sangat tergantung sehingga semua pekerjaanku terganggu. Benar-benar terganggu.
Mati lampu!
Berawal saat aku menghadiri kelas parenting yang diadakan oleh sekolah anakku, sekitar pukul 08.30 WITA. Narasumber berbicara tanpa pengeras suara dan harus bersaing dengan bisingnya anak TK (taman kanak-kanak) dan KB (kelompok bermain) yang memang wajib diajak pada hari itu. Terbayang kan bagaimana situasinya, sangat tidak kondusif. Sekitar lima belas menit acara, pengeras suara sudah siap dengan pembangkit (generator set). Namun ternyata pengeras suaranya tidak berfungsi dengan baik sehingga pembicara kembali tidak menggunakan mikrofon. Astaghfirulloh, kesal pertama dimulai. Padahal sudah niat sekali datang ke acara ini dan ingin merangkumnya dalam catatan kecil. Apa boleh buat, ku catat saja apa yang bisa ku dengar.
Menjelang dzuhur acara parenting selesai, kami pun pulang dengan segala kerempongan. Menggendong adek dibagian depan, ransel yang isinya segala rupa amunisi kakak dan adek kuletakkan di punggung, tangan kanan menggandeng kakak dan tangan kiri menenteng bingkisan dari acara parenting untuk anakku yang isinya buku gambar, pensil warna, dan kertas lipat. Bagaimana?
Kami menggunakan kendaraan roda dua yang kukendarai sendiri. Karena menggunakan matic, jadi desain depan bisa digunakan untuk kakak berdiri. Tentetengan kuletakkan di gantungan motor yang ada dibagian bawah, dekat lutut kakak. Posisi ransel tetap dan gendongan agak ku arahkan ke samping kiri agar kakak bisa berdiri dengan nyaman.
Motor kuarahkan ke jalan raya Jalur Dua karena ada yang akan aku beli sekalian jalan pulang. Tidak biasanya jalanan macet. Motor yang kukendarai masih bisa selap-selip diantara kendaraan roda empat. Usut punya usut ternyata traffic light-nya mati. Astaghfirullah, aku baru teringat, mati lampu!. Jadi, tidak ada yang mengatur arus kendaraan di perempatan jalan.
Sesampai dirumah, aku teringat belum memasak nasi untuk kami makan siang. Dan, astaghfirulloh...
Mati lampu! Kekesalan kedua.
Aku masih berkhusnudzon lampu menyala tidak lama lagi. Tiga puluh menit ditunggu, lampu tidak kunjung menyala. Ku putuskan untuk makan sisa snack dan cemilan yang ada di kulkas dahulu sambil menunggu lampu menyala. Ternyata tidak kunjung menyala juga dan anak-anak sudah mulai mengantuk. Kuajaklah mereka masuk kamar dan kumotivasi untuk tidur. Membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat mereka benar-benar tidur.
Listrik mati, AC-pun tidak menyala. Kekesalanku yang ketiga. Panas dan gerah membuat mereka tidak nyaman. Memang kota ini terkenal dengan matahari yang panas dan terik. Maklum, kota mutiara khatulistiwa.
Setelah mereka tertidur, kugunakan waktu untuk beberes dan menyiapkan tulisan harianku untuk tantangan menulis yang aku ikuti. Kuambil handphone, ternyata baterai sudah merah.
Astaghfirulloh...
Kekesalanku yang keempat. Aku sangat geram untuk kali ini.
Kutenangkan diri, tarik napas panjang dan mulai berpikir apa yang bisa kulakukan.
Baik, mungkin aku membuat tulisan harian dulu dengan handphone yang kusetting hemat daya. Bismillah... dan menulis kumulai. Baru dapat satu paragraf, kakak sudah bangun dan tidak sampai sepuluh menit, menyusul adek. Ini karena panas dan gerah membuat tidur mereka tidak pules.
Baiklah...
Aktifitas menulisku kuhentikan dan beralih bermain bersama mereka hingga saat adek pupup menghentikan acara bermain kami. Kubawa adek ke kamar mandi yang ternyata diikuti oleh kakak dan bilang mau ikut mandi. Kuacungi jempol untuk kakak. "Bunda, tapi mandinya sambil bawa mainan ya?", kata kakak. Aku mengiyakan. Adzan Asyar belum berkumandang, itu artinya hari masih siang. Biarlah anak-anak mainan air dulu karena memang hawa terasa sangat panas siang ini. Mungkin dengan main air membuat mereka nyaman dan segar.
Adek asyik main air di kamar mandi dan kakak asyik bolak-balik kamar mandi sambil memilih mainan yang akan dibawa main air. Tiba-tiba aku terkaget dengan teriakan kakak yang memanggilku. Kuhampiri kakak, dan astaghfirulloh... kakak ngompol di celana dan mengotori lantai, tikar, kasur dan beberapa mainan. Emosiku sedikit terpancing. Segera kuambil kain, kusapkan dikaki kakak dan sekitar lantai yang basah. Kugendong kakak menuju kamar mandi untuk segera kumandikan. Kutarik kasur dan tikar satu persatu menuju jemuran belakang untuk kubersihkan. Begitu juga mainan-mainan yang terkena kotor tadi. Kuguyur lantai dengan air mengalir, kuarahkan air keluar ruangan dan segera kukeringkan lantai dengan kain kering. Sering-sering kuintip kakak dan adek yang sedang bermain di kamar mandi sembari membersihkan lantai. Entah intipan keberapa, kulihat adek sedang obok-obok lubang closet. Spontan aku teriak dan segera kutinggalkan pekerjaanku untuk mebersihkan adek dengan sabun anti kuman. Kuarahkan adek untuk main di luar kamar mandi saja sementara itu kulanjutkan pekerjaanku mengepel lantai hingga sedikit kering. Bila lantai masih terlalu basah akan membahayakan adek dan kakak. Bisa terpeleset.
Melihat segala kesibukanku, kulihat wajah kakak merasa bersalah.
Kesibukan ini berakhir hingga aku sholat asyar. Kami semua belum ada yang makan siang. Ku putuskan untuk membeli nasi di warung terdekat yang jaraknya bisa satu kilometer lebih. Kami bersiap. Eh, alhamdulillah lampu menyala. Segera aku lari kedapur menyiapkan beras untuk dimasak dan tidak lupa charge handphone yang baterainya sudah sekarat Kunyalakan televisi pintar untuk memutar video anak-anak koleksi kami. Ini agar kakak dan adek sedikit tenang. Mungkin tidak sampai tiga puluh menit, listrik kembali padam. Waktu sudah larut sore. Jika aku jadi keluar dan membawa anak-anak, pasti sampai rumah sudah lewat maghrib. Akhirnya aku urungkan. Kuputuskan untuk memasak lauk saja sabil menunggu listrik menyala.
Hingga maghrib. Lampu menyala kembali. Segera kuambil air wudhu, kunyalakan pompa air untuk mengisi tandon air, lanjut masak nasi, dan segera sholat.
Segera kusuapi kakak makan malam dan siang yang tertunda. Setelah selesai kakak makan, baru aku tenang untuk makan. Kakak dan adek terlihat sudah tidak mood main dan rewel. Mungkin mengantuk karena tidak cukup tidur siang. Sengaja kutunggu hingga masuk waktu Isya dan kutunaikan sholat dahulu sebelum menemani mereka tidur.
Bagaimana dengan tantangan menulisku? Belum bisa kuselesaikan lagi. Menunggu mereka tertidur. Rencana aku akan bangun sebelum waktu deadline tiba yang ternyata sudah lewat waktunya saat aku terbangun. Sedih...
Apa boleh buat. Mungkin aku terlalu capek dan membutuhkan istirahat.
Pasrah...
Niatnya, kususulkan saja tulisanku untuk dikumpulkan. Tujuannya adalah konsistensi. Aku sudah mencoba untuk konsisten menulis dari awal. Dan situasi seperti ini tidak pernah terprediksi.
Dalam menghadapi situasi yang sangat rempong seperti ini kesel dan stess wajar. Tapi harus segera move on dan lakukan dulu apa yang bisa dilakukan. Hadirkan hati yang lapang mengingat hanya aku di rumah ini yang mereka (anak-anakku) punya untuk mereka bergantung.
Birobuli Utara, 24 Februari 2019.
No comments:
Post a Comment