Sunday, 10 March 2019

Hi Diary Part XXI

Dia Candu-ku

Berat!
Berat benar saat aku harus mulai.
Bingung bagaimana mengawalinya, mempertimbangkan terlalu masak, dan akhirnya hanya berputar dalam lintasan logika hingga raib ditelan alpa. Berkali-kali mencari cara untuk menghempaskan rasa itu. 

Berhasil memulainya tetapi gagal melanjutkan, dan sekedar resolusi tak terperi. 

Padahal saat aku memaksakan diri memulai, lalu melanjutkan, hingga menyelesaikan, ada rasa puas, plong, dan bahagia menyeruak. 
Sampai-sampai berulang kali kurunut awal hingga akhirnya.
Kesekian,
sadar aku menikmatinya. 

Selayaknya berjuang memaksakan diri, membuat lebih banyak awalan untuk akhir yang meruah dan rasa sepenuh nikmat.
Ini satu cara menjemput bahagia seutuhnya. 

Ya,
Menulis. Kini ia telah kembali menjadi temanku, sahabatku. Hibernasi kurang lebih tiga tahunan. Tanpa satu tulisan yang aku buat, pun sekedar diary. Waktu itu mungkin aku cukup disibukkan dengan pekerjaan dan mengurus keluarga. Juga, tidak ada circle yang membuatku terpacu untuk menulis. Padahal, aku menikmati ketika aku menulis. Menikmati prosesnya, melahirkan kata menjadi kalimat apik kemudian menyusunnya menjadi tulisan entah itu penuh pesan atau sekedar buang beban. 

Terbiasa sejak kelas lima sekolah dasar, aku menumpahkan isi hati di sebuah buku yang aku design sendiri dari kertas HVS dan kardus bekas. Ia, kemudian aku beri nama 'Buku Catatanku' dan masih tersimpan apik hingga kini. Jika dirunut kembali, kebanyakan tulisan dalam 'Buku Catatanku' berbentuk sajak-sajak. Aku ingat, itu karena aku ingin menyamarkan cerita yang sebenarnya sehingga hanya tersirat saja dalam kalimat yang terbatas. Lebih tepatnya takut ketahuan jika nantinya ada yang membaca. 

Lambat laun tulisanku bermetamorfosa menjadi tulisan yang lebih deskriptif. Baru saat aku berada di bangku kuliah tahun kelima (program profesi). Ini juga hasil belajar jujur pada diri sendiri karena aku rasa curhat dalam sajak kurang puas dan kurang plong

Saat kuliah dulu, kesenangan menulis diary ini mengantarkanku pada kegiatan jurnalistik kampus meski sebenarnya aku minder berat dengan teman-teman lain dengan gaya tulisan yang lugas. 

Kini, aku cuti bekerja. Lama...
Sejak Agustus tahun lalu. Aku benar-benar full pada urusan domestik. Tak jarang penat dan lelah ku rasakan. Juga, sering perasaan tak berharga dan demotivasi akan masa depan menghampiri. Aku lupa dengan aktivitas menulis yang pernah menemani dan menjadi sahabatku. Qadarulloh, aku membaca postingan akun @nulisyuk di Instagram yang membuka kelas menulis bertema Diary. Ditengah penat-lelah-demotivasi yang kurasakan, seolah Alloh memberiku jalan keluar agar perasaan negatif berubah menjadi positif dengan menuangkannya dalam tulisan. 

Finally, 
Ku temukan bahagia dalam menulis
Ia candu-ku...

Birobuli Utara, 10 Maret 2019.

2 comments: